Pada suatu pagi yang mulai terasa terik, di sebuah desa yang tenang, tampak seorang janda tengah menyapu halaman rumahnya. Debu beterbangan bersama sapuan, sementara suara ayam berkokok masih terdengar di kejauhan. Ketika ia sibuk dengan pekerjaannya, datanglah Kebo Kicak, sosok sakti yang tengah mengejar Surontanu, seorang lelaki berilmu hitam yang meresahkan banyak orang.
Dengan suara berat namun sopan, Kebo Kicak bertanya kepada sang janda.
“Apakah engkau melihat seorang lelaki berbaju hijau lewat di sini?”
Sang janda yang sederhana itu mengangguk pelan. “Benar, Tuan. Seorang lelaki seperti yang Tuan maksud baru saja melewati tempat ini.”
Kebo Kicak menghela napas. Jejak Surontanu semakin dekat. Sardulo Onggo Bliring, siluman macan loreng yang menjadi kawan Kebo Kicak, ikut serta mendengar percakapan itu. Ia menyarankan agar mereka segera melanjutkan pengejaran. Kebo Kicak pun menurut, dan perjalanan mereka membawa langkah hingga tiba di Desa Karang Kejambon.
Di desa itu, Kebo Kicak merasa perlu meninggalkan seseorang untuk mengatur kehidupan masyarakat sementara ia terus memburu Surontanu. Maka ia meminta Onggo Bliring untuk berubah wujud menjadi manusia, agar bisa menggantikan posisinya sebagai pemimpin sementara. Bliring, yang setia, segera menuruti perintah itu.
Setelah berubah menjadi manusia, Onggo Bliring mulai menjalankan peran barunya. Atas perintah Kebo Kicak, ia meminta penduduk desa agar menata atap rumah mereka menggunakan welit dari daduk tebu. Welit adalah atap tradisional yang terbuat dari anyaman daun atau serabut tertentu. Daduk tebu, yang merupakan serbuk dan bagian kering dari daun tebu, dipilih karena mudah diperoleh dan tahan lama. Selain itu, daduk tebu juga memiliki fungsi penting lain, yaitu sebagai pakan ternak. Sejak dahulu, petani dan peternak memanfaatkan bagian ini untuk memberi makan sapi, kerbau, dan kambing. Dengan begitu, tidak ada yang terbuang dari tanaman tebu. Batangnya menghasilkan gula dan minuman manis, sementara daunnya tetap bermanfaat untuk menopang kebutuhan hidup masyarakat.
Penduduk pun menuruti perintah itu. Rumah-rumah sederhana dengan atap daduk tebu mulai berdiri, menciptakan suasana baru di desa tersebut. Kehidupan berjalan seperti biasa, meskipun dalam hati mereka selalu teringat bahwa ini semua adalah bagian dari kisah besar pengejaran antara Kebo Kicak dan Surontanu.
Sementara itu, Kebo Kicak bergegas melanjutkan perjalanannya. Di tengah perburuannya, ia mendapati pemandangan memilukan. Seorang pemuda bernama Joko Tamping tergeletak tak bernyawa. Kebo Kicak tertegun dan hatinya diliputi rasa duka. Ia berlutut, meraih tubuh pemuda itu, dan sejenak tak kuasa bertindak. Kesedihan membuat langkahnya tertahan.
Kesempatan itu dimanfaatkan Surontanu. Tanpa menunggu lama, ia segera kabur ke arah selatan, meninggalkan Kebo Kicak yang masih diliputi rasa pilu.
Demikianlah kisah Sumber Sapon, sebuah legenda yang tak hanya bercerita tentang perburuan panjang antara dua tokoh sakti, tetapi juga tentang kearifan masyarakat dalam memanfaatkan hasil bumi. Daduk tebu yang mungkin tampak remeh justru memiliki peran besar, baik sebagai atap pelindung rumah maupun sebagai sumber pakan ternak. Dari kisah ini, kita dapat belajar bahwa setiap bagian dari tanaman memiliki nilai, dan bijaknya manusia adalah ketika mampu memanfaatkannya tanpa menyia-nyiakan anugerah alam.