
Di pesisir utara Kabupaten Tuban, terdapat sebuah desa bernama Bulujowo. Desa ini terbentang di atas lahan seluas 228 hektare dan terbagi menjadi dua dusun, yaitu Dusun Kauman dan Dusun Karangcandi. Seperti banyak desa lain di Jawa, Bulujowo memiliki kisah asal-usul yang masih diceritakan turun-temurun hingga kini.
Nama Bulujowo diyakini berhubungan dengan sebuah pohon langka yang dahulu tumbuh di Dusun Kauman. Pohon itu disebut pohon bulu atau dikenal pula sebagai beringin pencekik (Ficus annulata). Keberadaan pohon tersebut begitu istimewa karena biasanya hanya ditemui di luar Pulau Jawa. Kehadirannya di tanah Tuban dianggap aneh sekaligus keramat. Dari situlah kemudian masyarakat menamai daerah itu Bulujowo, yang berarti pohon bulu di Pulau Jawa.
Pohon bulu tidak hanya memberi identitas pada desa, tetapi juga menyimpan nilai penting bagi kehidupan. Daun pohon ini dipercaya berkhasiat untuk meredakan demam, sementara akarnya dapat digunakan sebagai obat lepra. Masyarakat setempat menjadikan pohon ini simbol pengobatan sekaligus tanda keberkahan alam yang perlu dijaga.
Selain pohon bulu, Desa Bulujowo juga memiliki kekayaan sejarah yang melekat pada peninggalan masa lampau. Di Dusun Karangcandi terdapat situs berbentuk gundukan tanah yang diyakini sebagai reruntuhan candi. Dahulu, tumpukan batu hitam, putih, dan kasar terlihat tersusun di tempat itu, diduga merupakan peninggalan dari masa Hindu. Kini, lokasi tersebut telah dijadikan pemakaman umum, tetapi warga tetap percaya bahwa bangunan itu berkaitan erat dengan kejayaan Kerajaan Majapahit.
Tidak hanya candi, terdapat pula peninggalan lain berupa yoni dan nandi yang menandakan peradaban kuno telah berkembang di kawasan ini sejak zaman batu, berlanjut ke era Hindu, hingga masa Islam. Pemerintah pernah berencana memindahkan benda-benda tersebut ke tempat yang lebih terawat, namun rencana itu ditolak masyarakat karena diyakini benda-benda itu adalah pusaka keramat yang tidak boleh dipindahkan.
Kehidupan sehari-hari masyarakat Bulujowo banyak dipengaruhi letak geografisnya yang berada di pesisir Laut Jawa. Mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai nelayan, sekitar 70 persen, sedangkan sisanya bekerja sebagai petani. Kehidupan sederhana ini berpadu dengan keyakinan kuat akan peninggalan leluhur, menjadikan desa ini tidak hanya kaya akan sejarah tetapi juga sarat nilai budaya.
Dengan demikian, asal-usul Desa Bulujowo tidak bisa dilepaskan dari pohon bulu yang dahulu tumbuh di Kauman. Pohon itu bukan sekadar tanaman, tetapi menjadi sumber identitas, penanda sejarah, serta penyimpan khasiat obat bagi masyarakat. Dari pohon itulah nama Bulujowo lahir, mengikat kisah alam, manusia, dan budaya menjadi satu kesatuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.