Sumur Kijing

URL Cerital Digital: https://bloktuban.com/2017/02/18/sejarah-desa-klakeh-kecamatan-bangilan-8440.html#

Di masa lampau, ketika matahari membakar tanah Tuban dengan panas yang menyengat, sebuah rombongan prajurit berangkat menunaikan tugas mulia. Mereka dipimpin oleh seorang punggawa kerajaan bernama Nala Derma, yang diperintah untuk mencari kayu jati terbaik bagi pembangunan masjid di Tuban. Hutan-hutan lebat di Bangilan mereka susuri, dan ketika hari menjelang sore, rombongan itu berhenti untuk mendirikan kemah.

Namun musim kemarau panjang membuat perjalanan semakin berat. Daun-daun kering berguguran, tanah retak penuh debu, dan suara aliran sungai tak terdengar lagi. Para prajurit yang mendapat tugas memasak kebingungan, sebab perbekalan makanan masih ada, tetapi air sama sekali tak ditemukan. Mereka gelisah karena bagaimana mungkin mereka dapat bertahan tanpa setetes air pun.

Akhirnya, dengan terpaksa, para prajurit menggali tanah di dekat perkemahan. Doa mereka begitu sederhana: semoga tanah yang keras ini menyimpan sedikit air untuk pelepas dahaga. Keajaiban pun terjadi. Dari lubang galian itu, tiba-tiba memancar air jernih yang terus mengalir. Betapa bahagianya para prajurit. Mereka segera meminum air segar itu, mengisi kendi-kendi, dan menggunakan sebagian untuk memasak.

Sumur kecil yang lahir dari kegigihan itu kemudian dikenal dengan nama Sumur Kijing. Hingga kini, sumur tersebut masih ada, menjadi saksi bisu perjuangan dan keyakinan di masa lalu. Airnya tetap dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari, terutama sebagai sumber minum yang tak ternilai harganya.

Namun, kisah di hutan Bangilan tidak berhenti pada sumur itu saja. Di tempat yang sama, para prajurit menemukan sebuah pohon jati besar yang tampak ideal untuk dijadikan bahan bangunan masjid. Mereka sudah bersiap dengan kapak dan golok, tetapi tiba-tiba sebuah peristiwa aneh terjadi. Dari segala arah datang kawanan binatang yang mengerumuni pohon itu. Kala jengking, kala ketonggeng, kala klabang, dan berbagai hewan berbisa lain bergerak seperti hendak menjaga pohon agar tak disentuh manusia.

Ketakutan merayap di dada para prajurit. Tidak ada seorang pun yang berani mendekat. Pohon itu seolah dijaga oleh kekuatan gaib. Melihat kegelisahan pasukannya, Nala Derma mendekat dengan tenang. Ia menutup mata, menunduk khusyuk, dan memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar gangguan itu dihilangkan.

Keheningan seketika menyelimuti hutan. Tak lama kemudian, semua binatang kala yang mengerubungi pohon jati itu lenyap begitu saja, seperti ditelan udara. Prajurit-prajurit bersorak, lega karena perlindungan Tuhan telah datang. Pohon jati itu akhirnya dapat ditebang, dan kayunya digunakan untuk pembangunan masjid di Tuban.

Dari peristiwa inilah lahir sebuah cerita yang diwariskan turun-temurun. Ketika prajurit menyebut bahwa “kalane akeh” atau banyaknya binatang kala yang menghadang, tempat itu akhirnya dinamakan Klakeh. Maka dikenalilah desa itu dengan nama Desa Klakeh, yang berdiri hingga hari ini di Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban.

Sumur Kijing tetap menjadi bagian penting dalam kisah ini. Ia mengingatkan kita bahwa sumber pangan berupa air adalah anugerah yang tak ternilai. Bukan hanya untuk melepas dahaga, tetapi juga untuk menjaga kehidupan. Sama seperti kayu jati yang memberi kekuatan bagi masjid, air dari Sumur Kijing memberi kekuatan bagi tubuh dan jiwa manusia.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.