Sejarah Desa Klakeh Kecamatan Bangilan

URL Cerital Digital: https://bloktuban.com/2017/02/18/sejarah-desa-klakeh-kecamatan-bangilan-8440.html#

Di wilayah selatan Kabupaten Tuban, tepatnya di Kecamatan Bangilan, berdiri sebuah desa yang bernama Klakeh. Nama desa ini tidak lepas dari kisah lama yang masih hidup dalam ingatan masyarakat. Kisah itu berawal dari masa pemerintahan Tumenggung Wilwatikta, Bupati Tuban ke-8, yang pada saat itu telah memeluk agama Islam.

Seiring berkembangnya ajaran Islam di Tuban, masyarakat membutuhkan sebuah masjid yang layak untuk beribadah. Atas restu Tumenggung Wilwatikta, seorang punggawa kepercayaan bernama Nala Derma diperintahkan untuk mencari kayu jati terbaik sebagai bahan utama pembangunan masjid. Kayu jati dipilih bukan tanpa alasan. Pohon jati terkenal kuat, lurus, dan tahan lama, sehingga dipercaya mampu menjadi penopang bangunan suci yang akan berdiri kokoh hingga generasi berikutnya.

Dengan membawa sejumlah prajurit dan ditemani sang istri, Subandiyah, Nala Derma berangkat menuju hutan-hutan lebat di selatan Tuban. Perjalanan mereka tidaklah mudah. Rombongan harus melewati Merakurak, menembus hutan Koro, mendaki bukit kapur Montong, hingga tiba di perbukitan Singgahan. Meski banyak pohon besar tumbuh menjulang, jati yang mereka cari belum juga ditemukan.

Rasa letih mendorong mereka beristirahat di sebuah lembah dengan mata air yang jernih. Di tempat itu, burung-burung berkicau merdu, udara sejuk meski matahari tinggi, dan monyet-monyet liar meloncat dari satu dahan ke dahan lain. Namun pohon jati yang diinginkan tidak ada. Setelah beristirahat, rombongan kembali melanjutkan perjalanan.

Tibalah mereka di sebuah perkampungan kecil bernama Dusun Bangilan. Dari seorang penduduk, Nala Derma mendapat kabar bahwa di arah barat daya terdapat hutan jati yang lebat dengan batang lurus dan tinggi menjulang. Berbekal informasi itu, rombongan pun melangkah lagi hingga hari menjelang sore. Di tengah hutan Bangilan, mereka akhirnya menemukan pohon jati yang sesuai harapan. Pohon-pohon itu besar, lurus, dan kuat, seakan memang ditakdirkan menjadi bagian dari bangunan suci.

Malam itu mereka mendirikan kemah. Keesokan paginya, Nala Derma membagi tugas. Ada yang menyiapkan sarapan, ada pula yang langsung menebang pohon jati untuk dibawa ke Tuban. Kayu-kayu jati itulah yang kemudian digunakan untuk membangun masjid, simbol tegaknya Islam di Tuban pada masa itu.

Seiring waktu, Desa Klakeh tetap menjaga ikatan dengan pohon jati. Bagi masyarakat, pohon jati bukan hanya kayu bangunan. Daunnya dapat dimanfaatkan untuk membungkus makanan, memberi warna alami pada nasi, bahkan digunakan dalam ramuan obat tradisional. Di balik dedaunannya, ulat jati hidup dan bertransformasi menjadi kepompong yang juga bisa dikonsumsi. Pohon jati bukan sekadar penopang rumah dan masjid, tetapi juga sumber pangan, obat, dan kehidupan.

Legenda Desa Klakeh mengingatkan bahwa alam telah memberikan segala yang dibutuhkan manusia. Dari kayu jati yang kokoh hingga daun dan ulatnya, semuanya memiliki fungsi yang bermanfaat. Itulah warisan berharga yang terus dijaga oleh masyarakat, agar sejarah, budaya, dan kearifan lokal tetap hidup berdampingan dengan kebutuhan sehari-hari.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.