Asal Usul Desa Sadang

URL Cerital Digital: https://sadang.web.id/artikel/2016/8/26/sejarah-desa#:~:text=Tak%20jauh%20dari%20tempat%20tersebut,berarti%20Musim%20Kemarau%20Sulit%20Air

Dahulu kala, ada sepasang musafir yang datang dari Kadipaten Lasem. Mereka adalah Mbah Tosono dan istrinya, Mbah Sawiyah. Perjalanan panjang membawa mereka hingga ke sebuah wilayah yang masih sepi dan alami. Di sana, mereka menemukan sebuah sumber air yang jernih, tempat yang sekaligus subur untuk bercocok tanam. Merasa tempat itu cocok untuk menetap, mereka membangun sebuah gubuk sederhana yang juga digunakan sebagai tempat beribadah. Lambat laun, orang-orang mulai berdatangan. Daerah yang tadinya sepi itu perlahan ramai dan kemudian dikenal dengan sebutan Karang Langgar.

Namun, kehidupan di tempat baru itu tidak sepenuhnya tenang. Tak jauh dari pemukiman, berdiri sebuah pohon besar yang dianggap angker. Warga meyakini bahwa siapa pun yang berani mendekatinya akan celaka, bahkan hilang nyawanya tanpa meninggalkan jejak jasad. Kepercayaan ini membuat masyarakat diliputi rasa takut.

Melihat keresahan itu, Mbah Tosono bertekad mencari jalan keluar. Ia menempuh tirakat dan shalat malam selama empat puluh hari penuh. Akhirnya, doa dan kesungguhannya mendapat jawaban. Dalam sebuah petunjuk, ia diberi cara untuk menyingkirkan pohon tersebut. Siapa pun yang melewati pohon itu harus membawa umpet, yaitu api kecil yang diambil dari akar pandan bethok, lalu menaruhnya di bawah pohon.

Warga pun mengikuti petunjuk itu. Setiap orang yang melewati pohon angker membawa umpet, hingga lama-kelamaan api terkumpul banyak. Api itu membakar pohon besar tersebut hingga akhirnya tumbang. Saat itulah berakhirlah ketakutan yang selama ini menghantui mereka.

Setelah pohon itu tumbang, Mbah Tosono mendapat keterangan dalam hatinya. Pohon tersebut disebut sebagai Pohon Sadang. Ia lalu mengumpulkan warga sekitar untuk menjadi saksi. Di hadapan mereka, ia menyatakan bahwa bila suatu saat tempat ini ramai dan berkembang, maka ia akan menamainya Desa Sadang.

Nama Sadang sendiri mengandung makna yang dalam. Kata itu diambil dari dua ungkapan. Pertama, Sasad Ngadang yang berarti siapa pun yang mendekat akan celaka. Kedua, Sate Kadang-kadang yang berarti musim kemarau sulit air. Dari situlah lahir nama Desa Sadang yang kita kenal hingga sekarang.

Bagi masyarakat setempat, sumber air di Desa Sadang bukan sekadar warisan alam, tetapi juga penolong kehidupan. Ketika musim kemarau tiba dan air menjadi langka, sumber air Sadang tetap mengalir dan menjadi penopang utama pangan dan kehidupan warga. Hingga kini, nilai itu masih dijaga dan dihormati, sebagai simbol perjuangan sekaligus berkah dari tanah yang dulu dipilih oleh Mbah Tosono dan Mbah Sawiyah.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.