Pada zaman dahulu kala, ketika hutan-hutan masih lebat dan desa-desa di Jawa Timur belum seramai sekarang, hiduplah seorang lelaki sederhana bernama Ki Tunggo. Ia dikenal masyarakat sebagai orang yang pandai membuat rono, semacam sekat atau sketsel dari bambu dan kayu yang dipakai untuk membatasi ruangan di dalam rumah. Hasil karyanya banyak digunakan oleh warga desa, sehingga namanya cukup dikenal di wilayah sekitar.
Namun, kehidupan Ki Tunggo yang tenang tiba-tiba berubah. Ia dituduh menolong dan menyembunyikan seorang perempuan bernama Sekar Dinulih. Perempuan ini sedang menjadi incaran seorang sakti bernama Subanjar. Sayangnya, Subanjar telah dikuasai oleh makhluk gaib berupa gendruwo sehingga perilakunya menjadi kejam dan penuh amarah.
Subanjar mendatangi rumah Ki Tunggo dengan mata menyala penuh murka. “Engkau berani menentangku, Ki Tunggo?” bentaknya.
Ki Tunggo, meskipun hanya seorang perajin sederhana, tetap berdiri tegak mempertahankan rumahnya. Pertarungan pun tak terhindarkan. Namun kesaktian Subanjar yang bercampur kekuatan gaib terlalu besar untuk ditandingi. Ki Tunggo akhirnya gugur dalam perlawanan itu. Menyaksikan jasad Ki Tunggo, Subanjar berkata dengan nada angkuh, “Kelak desa ini akan dikenal dengan nama Tunggorono, sebagai tanda bahwa Ki Tunggo pernah hidup di sini.” Sejak saat itulah, nama Tunggorono melekat pada wilayah tersebut.
Akan tetapi, kisah tidak berhenti sampai di sana. Di wilayah ini juga lahir berbagai cerita lain yang sarat makna. Salah satunya adalah legenda tentang Rawa Jali, sebuah tempat yang dipercaya sebagai lokasi tenggelamnya Subanjar. Konon ia bisa muncul kembali dari rawa itu, menjadi pertanda betapa kuatnya pengaruh gaib yang merasukinya.
Selain itu, ada pula cerita tentang asal-usul dusun bernama Sambi Gereng. Alkisah, makhluk gaib Nyi Blorong yang terkenal licik dan menakutkan pernah bertarung di wilayah itu. Dalam sebuah peristiwa, ia terjepit oleh kayu pohon sambi. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya menjerit menggerang tanpa henti. Dari peristiwa itu lahirlah sebutan “Sambi Gereng,” yang berarti pohon sambi tempat terdengarnya suara erangan.
Pohon sambi sendiri bukanlah pohon biasa. Sejak dulu masyarakat Jawa mengenalnya sebagai tanaman yang bermanfaat, terutama sebagai obat. Daun, kulit, dan getah pohon sambi dipercaya mampu mengatasi berbagai penyakit. Orang desa sering memanfaatkan rebusan bagian pohonnya untuk meredakan panas dalam atau mengobati luka. Pohon ini menjadi simbol bahwa alam selalu memberi penawar, bahkan di tengah kisah-kisah penuh tragedi dan mistis.
Maka, legenda Babad Tunggorono bukan hanya cerita tentang pertarungan manusia dengan kekuatan gaib, tetapi juga pengingat bahwa kehidupan manusia senantiasa berdampingan dengan alam. Pohon sambi yang tumbuh di sekitar desa menjadi saksi bisu dari berbagai peristiwa, sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi manusia sebagai obat dan penolong kesehatan.
Sampai hari ini, nama Tunggorono, Rawa Jali, dan Sambi Gereng tetap lestari, bukan hanya sebagai tanda geografis, melainkan juga sebagai warisan budaya lisan yang mengajarkan keberanian, penderitaan, serta kearifan dalam menghargai alam dan segala hasilnya.