Pada masa lalu, jauh sebelum Desa Kalak di Jombang dikenal seperti sekarang, tanah itu hanyalah hutan dan perkebunan yang ditumbuhi beragam pohon buah, salah satunya adalah pohon salak. Buah berduri kecil itu menjadi sumber pangan masyarakat, bukan hanya sebagai makanan pengganjal lapar tetapi juga sebagai bagian dari keseharian warga yang hidup dari alam.
Di tengah suasana damai itu, kisah besar terjadi. Cerita ini dimulai ketika Kebo Kicak, seorang tokoh sakti yang dikenal gagah berani, terus memburu musuhnya bernama Surontanu. Surontanu tidak hanya licik, tetapi juga memiliki kekuatan gaib yang membuatnya sulit ditangkap. Jejak pelarian Surontanu akhirnya mengarah ke sebuah perkebunan salak yang rimbun.
Perkebunan itu begitu luas. Pohon-pohon salak berduri tumbuh rapat, menciptakan lorong-lorong sempit yang penuh bayangan. Siapa pun yang memasuki kebun itu harus berhati-hati agar tidak terluka oleh duri tajamnya. Surontanu menjadikan kebun salak ini sebagai tempat persembunyian. Ia yakin, tubuh Kebo Kicak yang besar akan sulit bergerak lincah di antara pohon-pohon salak yang berduri.
Namun, Kebo Kicak tidak mudah ditipu. Dengan langkah tegap, ia menembus rimbunnya pohon salak. Di tengah jalan, ia bertemu dengan sekelompok orang tandak tayub, penari tradisional yang sedang berlatih. Mereka menyambut Kebo Kicak dengan hormat, karena siapa pun yang mengenalnya tahu betapa besar keberanian dan kesaktiannya. Setelah memberi salam, Kebo Kicak bertanya apakah mereka melihat Surontanu. Dengan ragu, para penari itu menunjuk ke arah dalam kebun salak.
Maka terjadilah pertempuran besar. Surontanu yang bersembunyi akhirnya muncul, berhadapan langsung dengan Kebo Kicak. Pertarungan mereka mengguncang tanah perkebunan. Duri-duri salak berjatuhan, tanah berguncang oleh pijakan kaki, dan pekik sakti terdengar hingga jauh. Namun, kekuatan Kebo Kicak terlalu besar untuk ditandingi.
Dalam satu sabda sakti, Kebo Kicak mengutuk Surontanu. Tubuh musuh bebuyutannya itu berubah menjadi sosok menyeramkan, manusia dengan kepala macan, yang dikenal kemudian sebagai Sardulo. Sejak saat itu, Surontanu tidak lagi sepenuhnya manusia, melainkan makhluk setengah hewan yang menakutkan. Bahkan Kebo Kicak sendiri akhirnya dikenal sebagai sosok yang juga menyandang rupa setengah manusia setengah hewan.
Peristiwa itu begitu membekas di hati masyarakat. Tempat pertempuran di perkebunan salak itu lalu disebut sebagai Kalak, nama yang kemudian melekat menjadi nama desa. Pohon salak sendiri menjadi saksi bisu dari kisah ini. Tidak hanya sebagai buah lokal yang manis dan mengenyangkan, pohon salak juga melambangkan daya tahan, keteguhan, dan perlindungan. Duri-durinya seolah menjadi simbol perjuangan masyarakat desa yang harus bertahan menghadapi kesulitan hidup.
Hingga kini, Desa Kalak tetap dikenal dan cerita rakyat ini diwariskan turun-temurun. Salak bukan hanya buah yang dinikmati dalam keseharian, melainkan juga bagian dari identitas budaya. Dari kebun salak itulah lahir legenda yang menghubungkan manusia, alam, dan nilai kehidupan.