Di sudut Kota Surabaya, tepatnya di Kalibutuh Timur, berdiri sebuah pesarean yang begitu harum dengan wangi dupa. Pesarean itu adalah tempat peristirahatan Raden Ayu Pandansari, seorang tokoh perempuan yang dipercaya masyarakat sebagai pembabat alas pertama di kawasan Kalibutuh. Kisahnya bukan hanya tentang keberanian membuka hutan belantara, tetapi juga tentang warisan pangan dan sumber air yang terus memberi manfaat hingga kini.
Menurut cerita tutur warga, Raden Ayu Pandansari adalah putri dari Raja Doho Kediri. Setelah masa keruntuhan Majapahit, ia memutuskan untuk menempuh perjalanan panjang. Sebelum membuka lahan di Kalibutuh, ia terlebih dahulu menimba ilmu agama Islam kepada saudaranya, Raden Arya Damar, yang saat itu menjabat sebagai Adipati Terung. Dengan bekal ilmu agama dan keteguhan hati, Raden Ayu kemudian mengembara hingga tiba di Kalibutuh, wilayah yang kala itu masih berupa hutan rimba.
Di hutan tersebut tumbuh banyak tanaman pandan wangi. Daun pandan ini memiliki aroma khas yang menenangkan, dan hingga kini dikenal luas sebagai salah satu bahan penting dalam kuliner Nusantara. Pandan wangi sering dimanfaatkan untuk memberikan aroma harum pada nasi, kue, dan minuman. Kehadiran tanaman ini di Kalibutuh menjadi simbol bahwa alam tidak hanya menyediakan ruang hidup, tetapi juga pangan yang menambah cita rasa dan nilai budaya.
Selain pandan, Raden Ayu Pandansari juga menemukan sebuah sumber mata air di perbukitan sekitar. Sumber itu dikenal dengan nama Banyu Urip, yang berarti air kehidupan. Air dari mata air ini digunakan untuk mengairi persawahan, memberi kesuburan pada tanah, serta menjadi sumber air minum masyarakat. Kehadiran Banyu Urip semakin menegaskan peran Raden Ayu Pandansari sebagai tokoh pembuka jalan kehidupan baru di tanah yang sebelumnya sunyi.
Tidak berhenti sampai di situ, Raden Ayu juga mendirikan sebuah padepokan di Kalibutuh. Padepokan ini menjadi pusat kegiatan masyarakat, tempat para murid belajar agama, ilmu kanuragan, serta bercocok tanam. Dari sinilah sebuah peradaban baru lahir, berakar pada nilai ilmu, kerja keras, dan pemanfaatan alam sebagai sumber pangan dan kehidupan.
Hingga kini, pesarean Raden Ayu Pandansari masih sering diziarahi. Keharumannya seakan mengingatkan generasi sekarang bahwa kisahnya bukan hanya legenda, tetapi warisan nyata tentang kearifan lokal. Pandan wangi yang dulu memenuhi hutan Kalibutuh dan sumber air Banyu Urip tetap hidup dalam ingatan masyarakat sebagai simbol pangan, air, dan kehidupan yang diwariskan oleh seorang tokoh perempuan pemberani.