Di wilayah barat Surabaya, tepatnya di Benowo, terdapat sebuah tempat yang dikenal masyarakat dengan nama Jurang Kuping. Kini kawasan ini ramai dikunjungi sebagai lokasi wisata dan pusat keramaian. Namun, jauh sebelum itu, nama Jurang Kuping telah menyimpan kisah panjang yang diwariskan secara turun-temurun.
Konon, sebutan Jurang Kuping berasal dari bentuk sebuah kubangan besar yang menyerupai telinga manusia. Kubangan itu sejatinya adalah sebuah waduk, dibuat sebagai tempat penampungan air. Menurut cerita yang disampaikan para sesepuh, waduk ini sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit.
Alkisah, dahulu Desa Kepatihan di wilayah Menganti, Gresik, sering dilanda banjir besar. Air yang datang meluap tanpa henti membuat warga resah, bahkan merusak lahan pertanian mereka. Patih yang memimpin desa saat itu kemudian mengadakan sebuah sayembara. Isinya sederhana, tetapi penuh tantangan: siapa saja yang bisa menanggulangi banjir dengan membuat bendungan atau penampungan air akan diberi hadiah berupa sebidang tanah.
Sayembara itu akhirnya terdengar oleh warga dari Kerut, sebuah kawasan yang kini dikenal dengan nama Rejosari di Benowo. Dengan semangat kebersamaan, mereka menggali tanah dan membangun sebuah waduk besar. Waduk itu menjadi penampungan air hujan dan luapan sungai, sehingga banjir di Kepatihan dapat teratasi. Sejak saat itu, lahan pertanian kembali subur dan kehidupan warga pun lebih tenteram. Sebagai bentuk penghargaan, warga Kerut diberi sebidang tanah, termasuk area waduk yang mereka bangun.
Namun, perjalanan alam tidak berhenti di sana. Dari waktu ke waktu, tepian waduk terkikis oleh air. Tanah yang runtuh sedikit demi sedikit membentuk lekukan yang menyerupai kuping atau telinga. Dari sinilah nama Jurang Kuping lahir.
Meski kisahnya masih bercampur antara sejarah dan legenda, waduk Jurang Kuping telah menjadi simbol betapa pentingnya air bagi kehidupan. Bukan hanya sebagai penopang pangan dan pertanian, tetapi juga sebagai penanda kebersamaan masyarakat dalam menghadapi bencana. Kini, Jurang Kuping tetap dikenang, bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga sebagai cermin dari kearifan lokal yang diwariskan sejak masa lampau.