Legenda Beberapa Perkampungan di Surabaya

URL Cerital Digital: https://jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id/2015/01/20/legenda-beberapa-kampung-yang-ada-di-kota-surabaya/

Alkisah, pada masa silam ketika Surabaya masih berupa hutan lebat, hiduplah seorang putri jelita bernama Raden Ayu Probowati. Kecantikannya memikat hati dua pangeran bangsawan, yakni Pangeran Situbondo, putra Adipati Cakraningrat dari Sampang, dan Pangeran Jokotruno, putra Adipati Kediri. Persaingan cinta pun tak terelakkan.

Namun, Raden Ayu Probowati yang bijaksana tak ingin memilih dengan tergesa. Ia mengajukan sebuah syarat berat kepada kedua pangeran. Barang siapa yang ingin meminangnya harus mampu membuka hutan belantara dan menjadikannya pemukiman baru bagi masyarakat Surabaya. Syarat ini tidak hanya sekadar ujian, tetapi juga menjadi wujud pengabdian untuk membangun kehidupan bagi rakyat.

Pangeran Situbondo dengan penuh keyakinan menerima tantangan itu. Ia mulai menebang hutan rimba dan membuka lahan untuk perkampungan. Dari usaha kerasnya lahirlah berbagai daerah yang hingga kini dikenal dengan nama Wono, yang berarti hutan, seperti Wonokromo dan Wonocolo. Masyarakat percaya bahwa kampung-kampung ini adalah jejak nyata dari kerja keras sang pangeran.

Ketika tengah menebangi pohon dan menyingkap tanah, Pangeran Situbondo menemukan tumpukan kulit kerang yang menggunung. Tempat itu kemudian dinamai Kupang Gunung. Tak jauh dari sana, ia menemukan kerang yang tersusun rapi menyerupai kerajaan. Maka lahirlah nama Kupang Krajan. Dari penemuan ini, kerang atau kupang menjadi bagian penting dari kehidupan warga, dimanfaatkan sebagai sumber pangan yang kaya protein.

Namun perjalanan Pangeran Situbondo tidak selalu mulus. Suatu ketika ia bertemu seorang pemuda sakti bernama Joko Jumput. Pertarungan hebat tak terhindarkan, dan Situbondo hampir tewas. Untuk menyelamatkan diri, ia berlari ke sebuah kedung dan meminum airnya. Air itu memberi kekuatan dan memulihkan nyawanya. Tempat tersebut kemudian dinamakan Banyu Urip, yang berarti air kehidupan. Bagi masyarakat, sumber air ini menjadi berkah tak ternilai sebagai penopang kebutuhan sehari-hari.

Legenda lain menceritakan bahwa di kawasan lain, Pangeran Situbondo berhadapan dengan seekor singa jadi-jadian dari Jin Trung. Dengan kesaktiannya, ia berhasil mengusir hewan itu, sehingga tempat tersebut dinamai Simo Katrungan. Namun singa itu tidak hilang selamanya. Tak jauh dari sana, ia muncul kembali, tetapi ketakutan hingga lari terbirit-birit. Maka daerah itu disebut Simo Kewagean, yang bermakna tergesa atau terburu-buru.

Cerita rakyat ini akhirnya menutup dengan kisah yang samar. Tidak ada yang benar-benar tahu siapa yang akhirnya berhasil meminang Raden Ayu Probowati. Namun, diyakini bahwa pesta pernikahannya berlangsung sederhana sambil membuka hutan terakhir yang dinamai Wonokromo, yang berarti hutan perkawinan.

Begitulah legenda yang masih hidup hingga kini. Di balik nama-nama kampung di Surabaya tersimpan kisah tentang cinta, perjuangan, dan kearifan. Dari hutan yang dibuka, dari kerang yang menjadi pangan, hingga sumber air yang menyelamatkan nyawa, semuanya mencerminkan bagaimana leluhur kita memaknai alam sebagai penopang hidup.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.