Di salah satu sudut tua Kota Surabaya, terdapat sebuah kawasan yang namanya begitu lekat dengan sejarah, yaitu Peneleh. Nama ini berasal dari kata teleh, yang berarti tempat air. Dahulu, kawasan ini memang dikenal sebagai tempat tinggal para pembuat wadah air yang berperan penting dalam kehidupan masyarakat.
Air adalah sumber kehidupan, dan masyarakat Peneleh pada masa itu menjaga serta mengelola air untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk sebagai sumber minum. Wadah-wadah air buatan tangan mereka menjadi bagian penting dari keseharian warga, menjaga keberlangsungan hidup sekaligus menjadi simbol keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Seiring berjalannya waktu, Peneleh tidak hanya menjadi pusat keterampilan pembuatan tempat air, tetapi juga melahirkan catatan penting dalam sejarah bangsa. Di kawasan ini berdiri rumah kelahiran Ir. Soekarno, Proklamator Indonesia, serta rumah yang pernah ditinggali HOS Tjokroaminoto, tokoh pergerakan nasional. Kehadiran mereka menambah nilai historis yang membuat Peneleh lebih dari sekadar nama kampung biasa.
Tak hanya itu, di Peneleh juga terdapat masjid tua peninggalan Sunan Ampel yang dikenal sebagai Masjid Jami Peneleh. Masjid ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang kawasan tersebut, baik dari sisi keagamaan maupun sosial budaya.
Nama Peneleh kini menjadi pengingat bahwa air bukan sekadar kebutuhan, melainkan juga sumber kebudayaan dan sejarah. Dari teleh sebagai wadah air yang sederhana, lahirlah sebuah kawasan yang menyatukan fungsi pangan, spiritualitas, dan semangat kebangsaan dalam satu kisah yang tak lekang oleh waktu.