Asal Usul Plampitan

URL Cerital Digital: https://www.detik.com/jatim/budaya/d-6605587/asal-usul-nama-22-daerah-di-surabaya

Di jantung Kota Surabaya, terdapat sebuah kampung bernama Plampitan. Nama ini berasal dari kata lampit, yaitu tikar tradisional yang dianyam dari daun pandan. Dahulu, kawasan ini dikenal sebagai tempat tinggal para perajin tikar lampit. Daun pandan yang tumbuh subur di sekitar kampung dimanfaatkan dengan penuh ketelatenan, tidak hanya sebagai bahan anyaman tikar tetapi juga sebagai penyedap alami dalam masakan sehari-hari.

Bagi masyarakat tempo dulu, tikar pandan bukan sekadar alas duduk atau tidur, melainkan juga simbol kebersamaan. Di atas tikar lampit, keluarga berkumpul, tamu dijamu, dan doa dipanjatkan. Dari tangan-tangan terampil perajin Plampitan, lahirlah karya sederhana yang menjadi bagian dari kehidupan setiap rumah tangga.

Namun, Plampitan tidak hanya menyimpan cerita tentang pangan dan kerajinan. Di kampung ini berdiri rumah bergaya kolonial yang dahulu dimiliki seorang pejuang kemerdekaan. Kehadirannya mengingatkan bahwa perjuangan bangsa juga tumbuh dari kampung-kampung kecil yang penuh nilai.

Selain itu, Plampitan juga menyimpan jejak spiritual dengan keberadaan makam Kiai Pasopati, seorang tokoh yang menurut cerita masyarakat merupakan murid Sunan Ampel. Kehadirannya memperkaya identitas Plampitan, yang tidak hanya dikenal karena pandan dan tikarnya, tetapi juga karena akar sejarah dan nilai religius yang dijaga turun-temurun.

Kini, nama Plampitan tetap hidup sebagai pengingat bahwa pandan bukan hanya sekadar tanaman, melainkan bagian penting dari budaya pangan, kerajinan, dan sejarah masyarakat Surabaya.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.