Di Surabaya bagian barat terdapat sebuah kawasan yang dikenal dengan nama Candi Lontar. Nama ini sesungguhnya merupakan gabungan dari dua desa, yaitu Desa Candi dan Desa Lontar. Masing-masing desa memiliki kisahnya sendiri, tetapi yang paling menonjol adalah asal-usul penamaan Desa Lontar. Nama tersebut merujuk pada banyaknya pohon siwalan yang tumbuh subur di daerah itu. Pohon siwalan sendiri menghasilkan daun yang disebut lontar, yang dahulu sangat bermanfaat bagi masyarakat.
Daun lontar memiliki fungsi penting sebelum kertas dikenal secara luas. Daun ini digunakan sebagai media tulis untuk mencatat berbagai hal, mulai dari pengetahuan, mantra, hingga catatan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Desa Lontar menyimpan jejak sejarah penting dalam tradisi literasi Nusantara. Penggunaan daun lontar sebagai alat tulis bukan hanya menandakan kecerdikan masyarakat masa lampau, tetapi juga menunjukkan bagaimana sumber daya alam dimanfaatkan secara bijak.
Selain daunnya yang bermanfaat, pohon siwalan juga menghasilkan buah yang bisa dijadikan pangan lokal. Buah siwalan dikenal segar dan manis, sering dikonsumsi langsung atau dijadikan bahan minuman. Di daerah tropis seperti Surabaya, buah ini menjadi pelepas dahaga yang alami sekaligus mengandung banyak nutrisi. Tidak heran jika pohon ini mendapat tempat istimewa dalam kehidupan masyarakat Desa Lontar, baik dari sisi budaya maupun kebutuhan sehari-hari.
Keberadaan pohon siwalan dengan segala manfaatnya membuat Desa Lontar memiliki identitas kuat yang berbeda dengan wilayah lain. Nama “Lontar” bukan sekadar penanda geografis, tetapi juga representasi dari hubungan erat antara manusia dengan alam sekitarnya. Dari daun yang digunakan untuk menulis hingga buah yang menjadi pangan, pohon lontar telah membentuk karakter masyarakat yang mandiri, kreatif, dan penuh kearifan lokal.
Jika menilik lebih jauh, penyatuan Desa Candi dan Desa Lontar hingga menjadi kawasan Candi Lontar memperlihatkan perpaduan nilai sejarah dan alam. Desa Candi sendiri memiliki cerita tersendiri, sementara Desa Lontar menghadirkan kekayaan alam berupa pohon siwalan. Keduanya berpadu menjadi satu nama yang kini kita kenal, sekaligus menyimpan jejak perkembangan kawasan Surabaya barat dari masa ke masa.
Kini, Candi Lontar telah berkembang menjadi kawasan yang lebih modern, dengan pemukiman, fasilitas umum, dan kehidupan perkotaan yang dinamis. Namun, jejak sejarah dari penamaan desa tetap hidup dalam memori kolektif masyarakatnya. Nama Candi Lontar seakan menjadi pengingat tentang akar budaya dan pemanfaatan alam yang pernah begitu dekat dengan kehidupan warga.
Melalui kisah asal-usulnya, kita bisa memahami bahwa nama Candi Lontar bukan sekadar identitas administratif. Ia adalah cerita panjang tentang pohon siwalan, tentang daun lontar yang menjadi saksi tradisi literasi, serta buahnya yang menjadi pangan lokal. Semua itu menunjukkan bahwa setiap nama tempat selalu menyimpan makna yang lebih dalam, yang menautkan masa lalu, masa kini, dan masa depan masyarakatnya.