
Di bagian barat Kota Surabaya, ada sebuah wilayah yang kini dikenal dengan nama Wiyung. Di balik hiruk-pikuk jalan dan deretan rumah modernnya, tersembunyi kisah lama yang pernah hidup di antara pepohonan rimbun dan tanah lembab di tepi sungai. Dahulu, sebelum jalanan beraspal dan bangunan menjulang, daerah ini hanyalah hamparan hutan kecil yang ditumbuhi banyak pohon wiyu—pohon yang konon memiliki kekuatan penyembuh bagi mereka yang tahu cara mengolahnya.
Menurut cerita yang dituturkan turun-temurun, pohon wiyu memiliki batang yang kokoh dan daun hijau mengilap yang memantulkan cahaya matahari pagi seperti permata. Aroma khas dari getahnya diyakini mampu menenangkan orang yang sedang sakit kepala atau demam. Para penduduk desa di masa itu sering memetik daun muda wiyu, menumbuknya halus, lalu mencampurkannya dengan air untuk dijadikan ramuan tradisional. Ramuan ini bukan hanya untuk menyembuhkan luka, tetapi juga dipercaya dapat mengusir roh jahat yang menyebabkan penyakit misterius.
Dikisahkan bahwa di tengah hutan wiyu tersebut tinggal seorang tabib tua bernama Ki Lunggadjiwo. Ia dikenal bijak dan rendah hati. Setiap kali ada warga yang jatuh sakit, mereka akan datang kepadanya, membawa sesajen sederhana berupa air kelapa muda dan selembar daun wiyu. Ki Lunggadjiwo akan meracik obat dari akar dan daun pohon itu sambil melantunkan doa agar yang sakit segera pulih. Karena jasanya, banyak orang dari kampung sekitar datang ke tempat itu hingga akhirnya daerah di sekitar hutan itu dikenal sebagai “Tanah Wiyu”, yang berarti tanah tempat tumbuhnya pohon wiyu.
Namun, waktu terus berjalan. Hutan perlahan menipis, digantikan ladang, pemukiman, dan jalan perdagangan. Pohon wiyu semakin jarang ditemukan. Meski demikian, nama Wiyung tetap melekat di hati masyarakat, seolah menjadi penanda dari masa silam yang tak ingin dilupakan. Beberapa warga tua masih percaya bahwa semangat pohon wiyu menjaga keseimbangan dan ketenangan di daerah itu. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa jika seseorang menanam kembali pohon wiyu dengan niat baik, keberkahan akan kembali datang ke tanah Wiyung.
Kini, kisah itu hanya tersisa dalam ingatan dan catatan para pegiat sejarah. Namun maknanya tetap hidup—mengajarkan bahwa alam, terutama tumbuhan yang menjadi sumber pangan dan obat, selalu memiliki hubungan erat dengan kehidupan manusia. Pohon wiyu bukan sekadar tanaman, tetapi simbol dari penyembuhan, keteguhan, dan harmoni antara manusia dengan lingkungan.
Bagi warga Surabaya, terutama yang tinggal di Wiyung, kisah ini menjadi pengingat bahwa setiap nama tempat menyimpan sejarah dan makna yang dalam. Bahwa dari pohon kecil di tepi hutan, lahir sebuah identitas yang kini dikenang oleh ribuan orang.