
Di sebuah perbukitan di Lamongan, berdiri sebuah masjid tua yang tenang, dikelilingi oleh pepohonan dan udara yang sejuk. Masjid itu dikenal dengan nama Masjid Raden Nur Rohmat, bagian dari kompleks makam Sunan Sendangduwur, seorang tokoh yang sangat dihormati masyarakat setempat. Di halaman masjid ini terdapat sebuah sumur yang disebut oleh warga sebagai Sumur Giling. Sumur ini bukan sumur biasa. Ia menyimpan kisah lama yang telah diwariskan turun-temurun, kisah tentang doa, keajaiban, dan sumber kehidupan bagi manusia.
Konon, pada masa Sunan Sendangduwur masih hidup, kawasan itu sering dilanda kekeringan. Tanah menjadi retak, tanaman layu, dan banyak warga harus berjalan jauh untuk mendapatkan air. Melihat penderitaan umatnya, Sunan Sendangduwur berdoa dengan sungguh-sungguh agar Allah menurunkan sumber air di tempat itu. Malam itu, ia melakukan munajat di halaman masjid, bersujud lama dalam keheningan malam. Tak lama kemudian, dari langit muncul cahaya terang, seolah sinar bulan jatuh tepat di timur masjid. Dari tempat jatuhnya cahaya itu, muncul kepulan asap yang menandakan sesuatu sedang terjadi di bawah tanah. Ketika asap menghilang, di sana terbentuklah lubang besar yang kemudian dikenal sebagai Sumur Giling.
Sumur itu memiliki kedalaman sekitar tiga puluh lima meter. Uniknya, cara mengambil air dari sumur ini berbeda dari sumur pada umumnya. Warga tidak menggunakan timba dan tali, tetapi menggiling sebuah tuas kayu yang terhubung ke alat penarik air di dalamnya. Untuk memutarnya, orang harus menggunakan kaki, seperti sedang mengayuh sepeda. Karena cara mengambil airnya dengan menggiling, maka sumur ini diberi nama Sumur Giling.
Air dari sumur itu jernih dan segar, bahkan pada musim kemarau panjang sekalipun, sumur tidak pernah kering. Warga percaya bahwa airnya membawa berkah dan kesehatan bagi siapa pun yang meminumnya. Banyak orang datang dari berbagai daerah untuk berziarah ke makam Sunan Sendangduwur dan mengambil air dari Sumur Giling sebagai tanda syukur atau obat hati. Airnya disalurkan ke tiga gentong besar yang diletakkan di depan masjid. Para peziarah akan mengambil air itu sedikit demi sedikit, meminumnya dengan penuh rasa hormat sambil berdoa agar diberi ketenangan dan kekuatan dalam hidup.
Bagi masyarakat sekitar, air dari Sumur Giling tidak hanya sekadar untuk diminum, tetapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Mereka menggunakannya untuk memasak, mencuci, bahkan menyiram tanaman. Keberadaan sumur ini menjadi simbol hubungan antara manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Ia mengingatkan bahwa air adalah sumber kehidupan, dan bahwa doa yang tulus mampu menumbuhkan harapan bahkan dari tanah yang kering.
Hingga kini, Sumur Giling masih berdiri di tempat yang sama, dengan atap kayu kuno yang tetap kokoh menutupi mulut sumur. Setiap pagi, suara air yang diambil dari gilingan terdengar lembut, berpadu dengan kicau burung di sekitar masjid. Banyak orang percaya, selama sumur ini terus dijaga dan airnya tidak disia-siakan, keberkahan akan tetap mengalir bagi warga Desa Sendangduwur dan sekitarnya. Air itu seolah menjadi warisan dari Sunan Sendangduwur, bukan hanya untuk menghapus dahaga, tetapi juga untuk mengajarkan manusia tentang kesabaran, syukur, dan keseimbangan hidup.
Sumur Giling bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan saksi bisu dari hubungan spiritual manusia dengan air. Dalam setiap tetesnya, tersimpan kisah panjang tentang keyakinan dan kebaikan yang terus mengalir tanpa henti, sebagaimana aliran air yang tak pernah berhenti memberi kehidupan.