Gulat Okol Kampung Made

URL Cerital Digital: https://jatimnet.com/asal-usul-kampung-made-surabaya

Pagi itu, angin bertiup lembut di Kampung Made, membawa aroma tanah basah dan jerami padi yang baru dipanen. Burung-burung berterbangan rendah di atas hamparan sawah, sementara para petani dengan caping lebar sibuk menjemur hasil panen mereka. Di tempat ini, waktu seakan berjalan lebih lambat. Suasana terasa damai dan hangat, seolah setiap hembusan angin masih mengandung sisa doa dari masa lalu.

Kampung Made, yang terletak di wilayah barat Surabaya, dikenal sebagai salah satu kawasan yang masih menjaga tradisi agraris di tengah gempuran kota modern. Walau sebagian besar lahan kini telah beralih menjadi permukiman dan pusat perdagangan, masyarakatnya tetap berpegang pada warisan leluhur. Salah satu tradisi yang terus dijaga adalah perayaan tahunan sedekah bumi, sebuah ungkapan syukur atas hasil pertanian yang diberikan alam.

Setiap kali sedekah bumi digelar, warga Made berkumpul dengan semangat penuh sukacita. Ada pertunjukan wayang, ludruk, hingga pasar rakyat. Namun di antara semua itu, satu kegiatan paling dinanti adalah gulat okol. Pertunjukan ini menjadi simbol kekuatan, kebersamaan, dan sportivitas para petani. Yang membuatnya unik, arena pertarungan tidak dibuat dari tanah atau papan, melainkan dari jerami padi yang disusun rapi membentuk lingkaran menyerupai ring tinju.

Lurah Made, Ghufron, pernah berkata sambil tersenyum, “Di sini malah disediakan panggung ring tinju dari jerami padi.” Bagi warga Made, jerami bukan sekadar sisa panen. Ia adalah simbol dari hasil bumi yang masih bermanfaat bahkan setelah padi dipanen. Setelah musim panen selesai, jerami biasanya dimanfaatkan untuk pakan ternak, pupuk alami, dan bahan bakar tradisional. Namun dalam tradisi gulat okol, jerami memiliki peran yang lebih mulia. Ia menjadi dasar tempat manusia saling menguji kekuatan dan persaudaraan tanpa kebencian.

Ketika acara dimulai, gong dipukul tiga kali. Dua peserta melangkah ke tengah ring jerami. Mereka saling berjabat tangan terlebih dahulu sebagai tanda hormat, lalu mulai beradu tenaga. Sorak sorai penonton bergema di sekitar arena. Anak-anak tertawa riang, para ibu membawa makanan dari rumah, dan para sesepuh duduk tenang menyaksikan dengan penuh kebanggaan. Meskipun tampak keras, pertandingan ini sebenarnya penuh nilai kebijaksanaan. Tujuannya bukan untuk menjatuhkan lawan, melainkan menunjukkan semangat, kesabaran, dan kejujuran dalam bertanding. Setelah pertandingan usai, kedua peserta akan saling memeluk dan menikmati segelas air kelapa muda bersama-sama, tanda persaudaraan yang tidak putus oleh kemenangan atau kekalahan.

Selain gulat okol, warga juga menjual hasil pertanian mereka di pasar rakyat yang digelar di sekitar lapangan. Ada cabai merah, mangga harum, dan berbagai hasil kebun yang menjadi kebanggaan warga. Sebagian besar penduduk Made masih berprofesi sebagai petani, pedagang kecil, dan pekerja harian. Namun, seperti diakui Lurah Ghufron, lahan pertanian kini semakin berkurang karena banyak yang telah dibeli oleh pengembang. Beberapa petani terpaksa menyewa lahan agar tetap bisa menanam dan melanjutkan tradisi pertanian yang telah mereka jaga turun-temurun.

Meskipun demikian, semangat warga Made tidak luntur. Mereka tetap menanam, tetap memanen, dan tetap membangun ring jerami setiap kali sedekah bumi tiba. Selama jerami masih bisa dikumpulkan, tradisi akan tetap hidup. Gulat okol menjadi simbol keteguhan bahwa hasil bumi tidak hanya memberi makan, tetapi juga menguatkan hubungan antar manusia. Dari jerami yang sederhana, lahirlah pelajaran tentang kerja keras, kebersamaan, dan penghormatan pada tanah yang memberi kehidupan.

Menjelang senja, cahaya matahari terakhir memantul di atas jerami yang mulai layu. Anak-anak berlari melintasi ring itu sambil tertawa, meninggalkan jejak kecil di atasnya. Para orang tua tersenyum melihat mereka bermain, seolah menyaksikan masa depan yang lahir dari warisan masa lalu. Di Kampung Made, jerami padi bukan sekadar sisa panen. Ia adalah lambang kehidupan yang terus berputar, dari tanah kembali ke tanah, dari tradisi kembali menjadi harapan.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.