Sedekah Bumi Kampung Made

URL Cerital Digital: https://jatimnet.com/asal-usul-kampung-made-surabaya

Setiap tahun, saat matahari mulai condong ke barat dan angin membawa aroma padi yang baru dipanen, warga Kampung Made di Surabaya berkumpul di lapangan desa. Di sana, di bawah langit biru yang bersih, mereka menggelar tradisi yang telah diwariskan turun-temurun: Sedekah Bumi.

Bagi masyarakat Made, bumi bukan sekadar tempat berpijak, melainkan sumber kehidupan. Dari tanah, mereka menanam padi, singkong, dan sayuran. Dari air, mereka menyiram harapan hingga tumbuh menjadi kesejahteraan. Karena itulah, setiap kali panen tiba, mereka mengadakan upacara syukur untuk berterima kasih kepada bumi, air, dan Sang Pencipta atas hasil pangan yang melimpah.

Di tengah perayaan, ada satu hal yang tak pernah absen: tumpeng nasi dan ayam panggang. Tumpeng, dengan bentuknya yang menjulang ke atas seperti gunung kecil, menjadi simbol kemakmuran dan doa agar kehidupan terus menanjak menuju keberkahan. Nasi yang digunakan untuk membuat tumpeng berasal dari hasil sawah warga sendiri, hasil kerja keras petani yang berpeluh di bawah terik matahari. Bagi mereka, nasi bukan hanya makanan pokok, tetapi juga lambang kesejahteraan yang lahir dari kerja sama antara manusia dan alam.

Seiring berjalannya waktu, bentuk tumpeng di Kampung Made menjadi semakin beragam. Ada yang membuat tumpeng kecil untuk keluarga, ada pula yang membuat tumpeng raksasa untuk dipersembahkan di tengah lapangan. Warga berbondong-bondong membawa tumpeng buatan mereka, dihiasi lauk-pauk dari hasil bumi seperti sayur lodeh, tempe, sambal, dan telur rebus. Semuanya dimasak dengan gotong royong dan penuh rasa syukur.

Selain tumpeng, ayam panggang juga menjadi bagian penting dalam upacara sedekah bumi. Menurut para sesepuh, ayam panggang memiliki makna tersendiri. “Ayam kalau dikumpulkan banyak, pasti bertarung,” kata Mbah Man, salah satu tokoh tua Made. “Karena itu, ayam panggang mengingatkan kita agar tidak bersifat seperti ayam—mudah bertikai karena hal kecil.” Bagi warga, filosofi itu menjadi pengingat bahwa manusia harus hidup rukun dan damai, seperti padi di sawah yang tumbuh berdampingan tanpa saling mengalahkan.

Ketika malam tiba, perayaan menjadi semakin semarak. Di panggung bambu, para seniman lokal menampilkan wayang kulit dan ludruk, dua seni tradisional yang menjadi kebanggaan warga Surabaya. Anak-anak duduk di pangkuan orang tua mereka, tertawa saat para pemain ludruk melontarkan lelucon. Para ibu membagikan penganan khas kampung seperti kucur, tape, ketan, onde-onde, koci-koci, dan rengginang. Aroma wangi makanan berpadu dengan tawa dan musik gamelan, menciptakan suasana yang hangat dan penuh kebersamaan.

Namun lebih dari sekadar pesta, sedekah bumi di Kampung Made adalah wujud penghormatan pada keragaman dan persaudaraan. Dalam acara itu, tidak ada batas antara suku, agama, atau golongan. Semua berkumpul dalam satu tujuan: bersyukur. Hal ini pula yang menjadikan Made dikenal sebagai kampung percontohan kerukunan umat beragama di Surabaya. Di sini, perbedaan tidak memisahkan, melainkan memperkaya warna kehidupan.

Mbah Man sering mengingatkan generasi muda dengan petuah yang diwariskan leluhurnya:
“Jare wong tuwo iku urip, urap, urup. Urip itu hidup, urap itu berkumpul, dan urup itu bermanfaat.”
Artinya, hidup sejati adalah ketika manusia tidak hanya bernapas, tetapi juga hidup bersama dan memberi cahaya bagi sesama.

Melalui sedekah bumi, warga Made tidak hanya berterima kasih atas hasil pertanian mereka, tetapi juga memperkuat hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Tumpeng nasi yang mereka hidangkan bukan sekadar makanan, melainkan doa yang dimasak bersama, harapan yang dikukus di atas api kebersamaan, dan pengingat bahwa kesejahteraan lahir dari kesatuan hati.

Di akhir acara, saat semua orang duduk melingkar menikmati tumpeng bersama, suasana hening sejenak. Lalu seorang anak kecil berkata polos, “Bu, nasi ini dari sawah kita, ya?” Sang ibu tersenyum dan menjawab pelan, “Iya, Nak. Dari bumi yang selalu kita jaga.”

Dan di bawah cahaya rembulan yang lembut, doa pun mengalir dari setiap butir nasi yang disantap dengan syukur—sebuah doa agar bumi selalu subur, manusia selalu bersatu, dan Kampung Made tetap menjadi tanah yang penuh berkah.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.