Mbah Joyo dan Hutan

URL Cerital Digital: https://jatimnet.com/asal-usul-kampung-made-surabaya

Pada masa ketika Surabaya belum dipenuhi gedung dan jalan raya, di bagian barat kota ini terbentang hutan lebat yang menenangkan. Pepohonan menjulang tinggi, dedaunan menutupi langit, dan udara terasa sejuk serta lembap. Burung-burung berkicau di sela ranting, sementara suara aliran air dari sungai kecil terdengar menenangkan di kejauhan. Di tengah rimba itulah, konon tinggal seorang tokoh bijak yang dikenal masyarakat dengan nama Mbah Joyo.

Tak seorang pun tahu dari mana asal Mbah Joyo. Ia datang begitu saja, seperti bagian dari alam yang memang ditakdirkan untuk menjaga tempat itu. Rambutnya panjang, janggutnya memutih, dan sorot matanya teduh seperti air telaga. Ia hidup sederhana, membangun gubuk kecil dari batang pohon dan daun rumbia. Yang membuatnya istimewa, Mbah Joyo memiliki dua peliharaan yang tidak biasa: seekor macan dan seekor singa. Kedua hewan itu jinak terhadapnya, seolah menganggap Mbah Joyo sebagai bagian dari kawanan mereka.

Hari-hari Mbah Joyo dihabiskan dengan merawat hutan dan menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Ia sering terlihat menimba air dari telaga yang terbentuk di tengah hutan, air yang begitu jernih hingga dasar telaga tampak jelas dari permukaannya. Dari telaga inilah, ia mengalirkan air ke sawah dan ladang di sekitar hutan. Penduduk yang hidup di wilayah itu sangat bergantung pada air tersebut. Mereka menanam padi, sayur, dan tanaman palawija, dan hasilnya selalu melimpah. Orang-orang percaya, air dari telaga Mbah Joyo mengandung berkah, karena berasal dari tanah yang dijaga dengan tulus.

Namun seiring waktu, ketamakan manusia mulai mengusik ketenangan hutan. Pohon-pohon besar ditebangi, tanah dirusak untuk dijadikan ladang baru. Hutan yang dulu hijau perlahan berubah gersang. Angin panas menggantikan kesejukan, suara burung menghilang, dan satwa mulai pergi. Macan peliharaan Mbah Joyo, yang tak tahan dengan perubahan itu, akhirnya meninggalkan hutan dan menghilang entah ke mana. Melihat hal itu, Mbah Joyo merasa sedih. Ia tahu bahwa alam sedang terluka.

Tak lama kemudian, ia memutuskan pindah ke bagian selatan hutan, di dekat sebuah mata air yang belum tersentuh. Di sanalah ia bertapa, hanya ditemani singanya yang setia. Di tempat itu ia berdoa siang dan malam agar keseimbangan alam dapat kembali. Ia mengikat janji pada bumi bahwa selama manusia masih menghargai air dan pepohonan, kehidupan di Made tidak akan punah.

Konon, di tempat Mbah Joyo bertapa kini berdiri sebuah punden kecil yang disebut Punden Mbah Joyo Singo. Pohon-pohon besar menaungi area itu, batangnya dililit kain Merah-Putih sebagai tanda penghormatan. Di seberangnya terbentang telaga yang masih memancarkan air jernih, sama seperti pada masa Mbah Joyo hidup. Air dari telaga itu terus mengalir, digunakan warga untuk pengairan sawah dan kebutuhan sehari-hari. Di tepiannya, kini ada ayunan bertuliskan “I Love Made”, seolah menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.

Di dekat punden terdapat dua patung macan yang berdiri gagah. Warga percaya patung itu melambangkan kembalinya peliharaan Mbah Joyo yang dulu pergi meninggalkan hutan. Meski tak ada catatan pasti tentang kebenarannya, masyarakat yakin bahwa setiap yang pergi akan menemukan jalan pulang. Filosofi itu mereka pegang teguh, bukan hanya untuk mengenang Mbah Joyo, tetapi juga untuk mengingatkan diri agar selalu menjaga hubungan dengan alam. Bahkan, di luar punden, ada patung singa yang berdiri berhadapan dengan patung macan—simbol bahwa keduanya akhirnya bersatu kembali, seperti harapan Mbah Joyo yang ingin melihat harmoni alam kembali terjaga.

Kini, kawasan yang dulu disebut hutan Made telah banyak berubah. Sebagian menjadi permukiman, sebagian menjadi lahan pertanian yang tersisa. Namun telaga di sisi selatan itu masih ada, memantulkan langit biru setiap pagi dan menjadi sumber kehidupan bagi warga sekitar. Mereka tetap memanfaatkan airnya untuk irigasi, seperti yang diajarkan Mbah Joyo berabad-abad lalu.

Bagi masyarakat Made, cerita Mbah Joyo bukan sekadar legenda. Ia adalah pengingat bahwa air dan tanah adalah sumber pangan yang harus dijaga, bukan diambil tanpa rasa hormat. Karena dari air yang jernih dan tanah yang subur itulah, kehidupan bisa terus tumbuh.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.