
Di sebuah sudut tenang di wilayah barat Kota Surabaya, terdapat sebuah tempat yang oleh masyarakat disebut Punden Pesapen. Sekilas, tempat itu tampak sederhana, hanya berupa sumur tua yang dikelilingi pepohonan besar dan rindang. Namun di balik ketenangan itu tersimpan kisah panjang tentang keyakinan, keajaiban, dan penghormatan manusia terhadap sumber kehidupan: air.
Konon, sumur tua di Punden Pesapen telah ada sejak zaman yang sangat lama, jauh sebelum Surabaya menjadi kota besar seperti sekarang. Tidak ada seorang pun yang tahu siapa yang pertama kali menggali sumur itu. Masyarakat hanya tahu bahwa air dari dalamnya tidak pernah habis, sekalipun musim kemarau datang dengan teriknya yang panjang. Dari situlah warga sekitar bergantung untuk minum, mandi, dan mengairi sawah mereka. Air itu bening, dingin, dan terasa segar, seolah mengalir langsung dari perut bumi yang diberkahi.
Namun suatu waktu, sekitar tahun 1974, warga mencoba memperbaiki sumur tersebut karena dinding batunya mulai rapuh. Mereka bergotong royong sejak sore hingga malam. Akan tetapi, keesokan paginya, sumur yang baru mereka bangun ambruk begitu saja. Pekerjaan mereka sia-sia. Percobaan kedua pun dilakukan, tetapi hasilnya sama. Begitu pula dengan yang ketiga. Hingga akhirnya, mereka merasa heran dan takut, seolah ada kekuatan tak kasatmata yang menjaga tempat itu agar tidak disentuh sembarangan.
Salah seorang warga yang penasaran lalu memutuskan untuk bersemedi di dekat sumur, ditemani oleh ayahnya yang dikenal bijak. Mereka duduk bersila di bawah pohon besar yang menaungi sumur itu, berdoa dan memohon petunjuk. Malam itu, dalam keheningan, sang ayah mendapatkan wangsit bahwa sumur itu bukanlah sumur biasa. Ia adalah mata air alami, tempat keluarnya air kehidupan yang dulu sering digunakan untuk memandikan kerbau peliharaan warga. Dari situlah air mengalir ke sawah-sawah di sekitar, menjadikan tanah Pesapen subur dan makmur.
Sejak saat itu, masyarakat tidak lagi mencoba membangun ulang sumur tersebut. Mereka justru menjaganya, menghormatinya sebagai sumber pengairan dan air minum yang suci. Air dari Punden Pesapen tetap mengalir dengan tenang, tidak pernah kering bahkan saat kemarau terpanjang melanda. Banyak warga percaya bahwa airnya mengandung keberkahan dan dapat membawa ketenangan bagi siapa pun yang meminumnya dengan niat baik.
Nama Pesapen sendiri dipercaya berasal dari kata pesepen, yang dalam bahasa Jawa berarti menyepi atau bermeditasi. Nama itu muncul karena sejak dulu banyak orang datang ke tempat ini untuk berdoa, bersemedi, dan memohon restu bagi cita-cita mereka. Di bawah pohon besar yang menaungi sumur, mereka membakar kemenyan, membawa sesajen, dan duduk dalam diam mencari ketenangan batin. Beberapa tokoh masyarakat bahkan meyakini bahwa orang yang bersemedi di sana dengan hati bersih bisa meraih jabatan atau keberhasilan yang diimpikan.
Suatu kisah yang sering diceritakan adalah tentang seorang calon bupati dari daerah Sidoarjo yang datang untuk bermeditasi di Punden Pesapen. Ia mengikuti semua aturan yang diwariskan dari para sesepuh, termasuk larangan membawa lampu selama meditasi berlangsung. Setelah malam panjang dalam keheningan, ia pulang dengan hati tenteram. Tak lama kemudian, ia benar-benar berhasil menjadi bupati, dan sejak itu kisah Punden Pesapen makin dikenal luas sebagai tempat yang penuh daya spiritual.
Meski berbagai cerita mistis berkembang—termasuk legenda tentang ular besar penjaga sumur atau arwah dari masa Giri Kedaton para sesepuh kemudian meluruskan bahwa inti dari Punden Pesapen bukan pada hal gaib, melainkan pada rasa hormat terhadap alam dan sumber air yang memberi kehidupan. Mereka percaya bahwa air adalah simbol kesucian, dan siapa pun yang menjaga sumber air dengan ikhlas akan senantiasa mendapatkan berkah.
Pada tahun 2022, Pemerintah Kota Surabaya akhirnya mengakui nilai sejarah dan budaya tempat ini. Setelah melalui kajian panjang, Punden Pesapen resmi ditetapkan sebagai cagar budaya. Penetapan itu bukan hanya bentuk pelestarian sejarah, tetapi juga penghargaan terhadap kearifan lokal yang telah menjaga sumber air selama berabad-abad. Kini, air dari sumur itu masih digunakan warga sekitar, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun sebagai simbol keberlanjutan antara masa lalu dan masa kini.
Punden Pesapen menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari air. Dari sumur tua yang tetap setia memancarkan airnya, masyarakat belajar tentang kesederhanaan, rasa syukur, dan kewajiban untuk menjaga alam. Dalam setiap tetes air yang mereka minum, tersimpan jejak doa, kerja keras, dan penghormatan pada bumi yang memberi kehidupan.