
Di perbukitan selatan Lamongan, di antara udara lembap dan harum tanah yang basah oleh embun, berdiri sebuah kompleks makam tua yang dikeramatkan oleh masyarakat sekitar. Di sana dimakamkan salah satu tokoh besar penyebar agama Islam di Jawa, yaitu Sunan Drajat. Di dalam kawasan itu terdapat sebuah sumur yang sudah berusia ratusan tahun. Warga sekitar menyebutnya sebagai Sumur Sunan Drajat.
Sumur ini tidak seperti sumur pada umumnya. Airnya jernih meskipun tidak pernah dikuras, dan rasanya sejuk meski musim kemarau panjang melanda. Banyak orang percaya bahwa air sumur ini bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi juga menyimpan kekuatan spiritual yang diwariskan sejak masa Sunan Drajat masih hidup. Di kalangan masyarakat Drajat dan Paciran, keyakinan itu telah menjadi bagian dari cerita turun-temurun, sebuah kisah yang terus hidup di antara waktu dan doa.
Menurut penuturan Haji Rahmad Dasy, seorang tokoh agama sekaligus penyusun buku Sejarah Sunan Drajat Lamongan, sumur tersebut sudah lama dianggap memiliki kekuatan magis. Orang-orang dari berbagai daerah datang untuk mengambil airnya. Sebagian untuk keperluan ibadah, sebagian lagi untuk pengobatan atau sekadar ngalap berkah, berharap agar air itu membawa kebaikan dan ketenangan bagi kehidupan mereka.
Haji Rahmad pernah menceritakan peristiwa yang terjadi pada awal tahun 1990-an, ketika sumur ini menjadi saksi dari sebuah kejadian yang tidak biasa. Pada masa itu, desa Drajat dilanda serangkaian pencurian yang membuat warga resah. Harta benda hilang, hasil panen lenyap, dan suasana kampung dipenuhi rasa curiga. Tidak ada yang tahu siapa pelakunya, tetapi kecurigaan warga mengarah pada seseorang yang dikenal sering berbuat onar. Ketika ditanyai, orang itu bersikeras tidak mengaku, meskipun bukti-bukti mengarah padanya.
Rasa jengkel membuat warga mengambil langkah yang tidak biasa. Mereka membawa orang yang dicurigai itu ke makam Sunan Drajat dan memaksanya meminum air dari sumur keramat. Sambil menyerahkan air itu, warga mengucapkan sumpah bahwa jika orang tersebut memang tidak bersalah, maka air itu tidak akan membawa pengaruh apa pun. Namun jika ia berbohong, maka Tuhan akan menunjukkan tanda di tubuhnya. Beberapa saat setelah air itu diminum, perut orang tersebut tiba-tiba membesar, membuat warga terperanjat. Sejak saat itu, mereka percaya bahwa air dari Sumur Sunan Drajat memiliki kekuatan untuk menyingkap kebenaran.
Namun bagi sebagian besar masyarakat, air sumur itu bukanlah alat untuk menghukum, melainkan sumber berkah. Banyak warga datang dengan harapan yang sederhana. Ada yang membawa botol kecil untuk diisi air, lalu disimpan di rumah sebagai penolak bala. Ada pula yang meminumnya langsung sambil berdoa agar diberi kesembuhan dari penyakit. Ririk Wikiyanti, penjaga museum Sunan Drajat, mengatakan bahwa hampir setiap hari ada orang datang untuk mengambil air dari sumur tersebut. Mereka percaya bahwa setelah meminum air itu, hidup mereka menjadi lebih baik. Ada yang mengaku penyakitnya sembuh perlahan, ada pula yang merasa rezekinya kembali lancar setelah sekian lama terhambat.
Air dari Sumur Sunan Drajat memang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat sekitar. Selain dipercaya membawa berkah, airnya juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Penduduk memanfaatkannya untuk memasak, mencuci, dan mengairi tanaman di sekitar kawasan perbukitan. Air ini dianggap sebagai anugerah yang terus mengalir tanpa henti, seperti ajaran Sunan Drajat tentang keseimbangan hidup dan kasih sayang antarsesama.
Warga meyakini bahwa selama mereka menjaga kelestarian sumur dan menghormati peninggalan sang wali, desa Drajat akan tetap sejahtera. Setiap tetes air yang diambil dari sumur itu dianggap sebagai pengingat bahwa kehidupan manusia bergantung pada air, dan bahwa air yang suci akan memberi kebaikan bagi siapa pun yang mempergunakannya dengan hati bersih.
Kini, Sumur Sunan Drajat tidak hanya menjadi tempat ziarah dan spiritual, tetapi juga simbol kebersamaan masyarakat Lamongan dalam menghargai warisan leluhur. Di sana, air tidak hanya memadamkan dahaga tubuh, tetapi juga menenangkan jiwa. Dalam bening air sumur itu, seolah tersimpan cerminan dari kebaikan Sunan Drajat, yang sepanjang hidupnya mengajarkan bahwa setiap anugerah Tuhan, sekecil apa pun, harus disyukuri dan dijaga agar membawa manfaat bagi kehidupan.