Di sebuah lembah yang subur di Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, berdirilah sebuah desa yang tenang bernama Tanjungkalang. Desa ini menyimpan kisah panjang yang telah hidup dalam ingatan turun-temurun masyarakatnya. Tak hanya dikenal karena hamparan sawah dan pepohonannya yang rindang, tetapi juga karena nama desanya yang sarat makna dan mengandung kisah tentang asal-usul dua hal penting: pohon tanjung dan suku Kalang.
Konon, dahulu kala, di wilayah yang kini menjadi Desa Tanjungkalang berdiri sebuah kerajaan kecil yang berpusat di sebuah tempat bernama Pekalongan. Kini daerah itu dikenal sebagai Dusun Jabon, bagian dari desa yang masih lestari hingga hari ini. Raja yang memimpin kerajaan tersebut berasal dari Kalangbret, sebuah daerah di Tulungagung. Sang raja dikenal sebagai pemimpin yang bijak dan sangat mencintai alam, terutama pepohonan yang tumbuh di sekitar istananya.
Suatu hari, sang raja menanam sebuah pohon tanjung di tanah Pekalongan sebagai simbol kesejahteraan dan kehidupan. Pohon itu tumbuh tinggi, berbatang kokoh, daunnya rimbun, dan bunganya semerbak wangi. Pohon tanjung memang terkenal dengan aromanya yang lembut, sering digunakan untuk bahan pewangi alami, serta memiliki getah dan daun yang dapat diolah menjadi obat tradisional. Warga sekitar memanfaatkannya untuk berbagai keperluan, mulai dari pengobatan luka, bahan jamu, hingga penambah cita rasa dalam pangan. Sejak itu, pohon tanjung menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar dan lambang kemakmuran kerajaan kecil tersebut.
Namun, selain kisah kerajaan itu, ada pula versi lain yang tak kalah menarik mengenai asal-usul nama desa. Dalam versi ini, disebutkan bahwa wilayah Tanjungkalang dahulu dihuni oleh sekelompok masyarakat yang dikenal sebagai “wong Kalang”, sebuah sub suku tua dalam masyarakat Jawa yang telah ada jauh sebelum masuknya agama Hindu dan Buddha. Mereka hidup sederhana dan sangat dekat dengan alam. Pohon dan tanaman bagi mereka bukan hanya sumber pangan, tetapi juga simbol roh kehidupan. Mereka menghormati pohon tanjung karena dianggap memiliki kekuatan penyembuhan dan mampu menenangkan jiwa.
Masyarakat Kalang juga dikenal memiliki tradisi unik untuk menghormati arwah leluhur. Ketika salah satu anggota mereka meninggal, maka pada hari keseribu setelah kematiannya, masyarakat akan membuat patung dari kayu pohon tanjung sebagai simbol roh orang yang telah pergi. Patung itu diarak berkeliling desa sebelum akhirnya dibakar sebagai tanda pelepasan jiwa menuju alam baka. Upacara ini dilakukan dengan penuh khidmat, diiringi doa dan persembahan hasil bumi sebagai wujud rasa syukur atas kehidupan.
Dari sinilah kemudian nama “Tanjungkalang” lahir. Ia merupakan gabungan dua unsur penting dalam sejarah desa: pohon tanjung yang menjadi lambang kehidupan dan wanginya yang menyejukkan, serta suku Kalang yang menjadi leluhur pendiri desa dan penjaga tradisi kuno. Dua nama itu berpadu, menciptakan identitas yang tak terpisahkan dari masyarakatnya hingga kini.
Kini, Desa Tanjungkalang tumbuh menjadi desa yang makmur dan penuh kehidupan. Masyarakatnya masih menjaga hubungan erat dengan alam, menghormati warisan leluhur, dan memanfaatkan kekayaan pohon serta tanaman yang tumbuh di sekitarnya. Pohon tanjung, yang dulu menjadi lambang kerajaan dan kepercayaan, kini tetap berdiri di beberapa sudut desa, memberikan keteduhan dan menjadi pengingat bahwa dari alam, manusia belajar tentang keseimbangan, pengobatan, dan kehidupan yang abadi.