Konon, di sebuah desa yang kini dikenal sebagai Karang Anyar, hiduplah seorang lelaki bernama Arya Menak. Ia adalah sosok yang gagah, cerdas, namun memiliki satu kelemahan besar: rasa ingin tahu yang berlebihan. Dalam kehidupannya, Arya Menak menikahi seorang perempuan cantik jelita bernama Nyi Sekar Tanjung, seorang bidadari yang turun dari kahyangan. Keduanya hidup bahagia, hingga sifat ingin tahu Arya Menak mengubah segalanya.
Suatu hari, Nyi Sekar Tanjung berpesan kepada suaminya agar tidak pernah menanyakan asal-usul dan jati dirinya yang sebenarnya. Ia hanya ingin hidup sebagai manusia biasa di bumi, tanpa harus mengingat kehidupan lamanya di kahyangan. Namun, rasa ingin tahu Arya Menak begitu besar. Ia terus bertanya, menekan, dan akhirnya memaksa sang istri untuk mengungkap rahasia asalnya.
Dengan hati berat, Nyi Sekar Tanjung akhirnya membuka jati dirinya sebagai bidadari. Tetapi begitu rahasia itu terucap, kesuciannya sebagai makhluk langit harus dijaga dengan meninggalkan dunia manusia. Sambil menahan air mata, ia berpamitan kepada suaminya dan penduduk desa. Sebelum terbang kembali ke langit, ia menitipkan pesan kepada seorang sesepuh desa:
“Aku berharap keturunan dari desa Karang Anyar tidak cantik, tidak tampan, dan juga tidak jelek. Mereka harus berada di tengah, agar tak ada gadis yang dibawa keluar dari desa karena kecantikannya, dan tak ada lelaki yang menjadi pembohong karena ketampanannya seperti suamiku.”
Sejak saat itu, masyarakat percaya bahwa wajah-wajah penduduk asli Karang Anyar tidak terlalu rupawan namun juga tidak buruk rupa. Mereka hidup sederhana, penuh kesetiaan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran yang diwariskan dari kisah itu.
Kehilangan Nyi Sekar Tanjung membuat Arya Menak amat berduka. Hari-harinya dipenuhi penyesalan dan kesepian. Anak-anak mereka menangis karena kelaparan dan kehilangan kasih sayang ibunya. Dalam keputusasaan, Arya Menak bersumpah untuk tidak lagi memakan nasi, makanan yang dahulu mereka santap bersama sang bidadari. Ia dan keturunannya memilih jagung sebagai pengganti nasi, sebagai bentuk penyesalan sekaligus penghormatan atas kepergian sang istri.
Sejak saat itu, jagung menjadi pangan utama masyarakat di Karang Anyar dan sekitarnya, bahkan meluas hingga menjadi bagian penting dalam budaya makan masyarakat Madura. Bagi mereka, jagung bukan sekadar sumber energi, tetapi juga lambang keteguhan hati, penyesalan, dan tekad untuk hidup sederhana tanpa melupakan kesalahan masa lalu.
Dalam satu kisah yang masih diyakini hingga kini, dikisahkan bahwa di puncak kesedihannya, Arya Menak pernah membanting sebuah kendil tanah liat yang biasa digunakan untuk menyimpan air. Kendil itu hancur berkeping-keping, dan dari peristiwa tersebut, muncul sebutan “Tanah Penaporan”—berasal dari kata etappor dalam bahasa Madura yang berarti “dibanting”. Tanah itu kini dipercaya sebagai tempat yang sakral dan menjadi jejak nyata dari kisah penyesalan Arya Menak.
Cerita ini mengajarkan tentang makna kesetiaan dan batas dari rasa ingin tahu manusia. Dari peristiwa cinta yang berakhir duka itu, lahirlah sebuah tradisi pangan yang bertahan ratusan tahun kemudian. Jagung bukan hanya makanan pokok, tetapi simbol tekad dan kebijaksanaan hidup masyarakat Madura serta penduduk Karang Anyar.