Desa Keplaksari

URL Cerital Digital: https://desakita.co/uncategorized/4331/asal-usul-desa-keplaksari-peterongan-jombang-dulunya-bernama-keplak-berubah-setelah-banyak-warga-menanam-pohon-tom/#:~:text=%E2%80%9CSari%20sendiri%20berawal%20dari%20pekerjaan,kekuasaan%20akan%20mendapat%20pemilih%20terbanyak.

Di tengah hamparan sawah yang hijau dan udara pagi yang sejuk di Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, terdapat sebuah desa yang menyimpan kisah unik tentang asal-usul namanya. Desa itu bernama Keplaksari, sebuah nama yang bukan hanya sekadar penanda wilayah, tetapi juga saksi perjalanan panjang masyarakatnya menuju kesejahteraan.

Dahulu kala, sebelum desa itu dikenal sebagai Keplaksari, orang-orang menyebutnya dengan nama Keplak. Kala itu, wilayah ini belum menjadi satu kesatuan utuh. Tiap dusun berdiri sendiri dengan kepala desa masing-masing. Dusun Keplak dipimpin oleh Satak, Dusun Pagotan oleh Tepas, dan Dusun Kalangan oleh Haji Abdul Karim. Mereka hidup berdampingan dalam kesederhanaan, bergantung pada alam dan hasil bumi. Namun, di antara kesibukan itu, muncul satu jenis tanaman yang mengubah arah kehidupan penduduk desa: pohon Tom, atau yang kini lebih dikenal sebagai Tarum atau Nila (Indigofera tinctoria).

Pohon Tom bukan tanaman biasa. Dari batang dan daunnya, masyarakat mampu mengekstrak sari warna biru alami yang menjadi bahan dasar untuk pewarna batik dan tenun. Pada masa itu, batik dan kain berwarna biru menjadi simbol kemewahan, dan mereka yang dapat menghasilkan warnanya dianggap memiliki anugerah khusus dari alam. Maka, penduduk Keplak mulai menanam pohon Tom di setiap lahan kosong, di pekarangan rumah, bahkan di pinggir pematang sawah.

Tanaman itu tumbuh subur di tanah Jombang yang hangat dan lembap. Setiap kali panen tiba, aroma khas daun Tom memenuhi udara desa. Para perempuan menumbuk daunnya hingga mengeluarkan sari berwarna biru keunguan, lalu menjemurnya di bawah terik matahari hingga menjadi bubuk pewarna. Dari hasil itulah, para pengrajin kain dari daerah sekitar berdatangan. Perdagangan meningkat, kesejahteraan pun mulai terasa.

Namun, manfaat pohon Tom tidak berhenti di situ. Selain menjadi bahan pewarna alami, daunnya kaya akan protein, kalsium, dan fosfor, menjadikannya pakan ternak yang bergizi tinggi. Kambing dan sapi para petani tumbuh sehat, menghasilkan susu dan daging yang lebih baik. Perlahan, kehidupan di desa yang dulu sederhana berubah menjadi makmur. Penduduk pun memaknai bahwa kemakmuran itu datang dari “sari” yang mereka peroleh dari pohon Tom.

Karena itulah, nama Keplak dirasa belum cukup untuk menggambarkan jati diri desa yang kini berkembang berkat sari tanaman Tom. Maka diadakanlah musyawarah besar antara para kepala dusun dan tokoh masyarakat. Dari pertemuan itu, lahirlah kesepakatan untuk menambahkan kata “Sari” di belakang nama lama, sebagai simbol kemakmuran dan keberkahan yang dihasilkan dari pohon tersebut. Sejak saat itu, nama Keplaksari resmi digunakan dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Perubahan nama itu membawa semangat baru. Banyak lembaga dan tempat di sekitar desa kemudian turut mengadopsi kata “Sari” sebagai bagian dari nama mereka. Ada TK Tunas Sari, Tirta Sari, hingga Terminal Kepuh Sari, seolah ingin menegaskan bahwa nilai kesejahteraan yang lahir dari sari tanaman Tom telah menjadi roh kehidupan masyarakat Keplaksari.

Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1918, desa ini melaksanakan pemilihan kepala desa untuk pertama kalinya. Saat itu, sistem pemerintahan mulai disatukan, menggantikan masa di mana setiap dusun berdiri sendiri. Pemilihan dilakukan dengan cara sederhana, bahkan masih diwarnai dengan “hukum rimba” di mana mereka yang kuat atau berpengaruh cenderung menang. Meskipun begitu, momen itu menjadi titik awal terbentuknya pemerintahan desa yang lebih teratur dan menyatu di bawah satu nama, Keplaksari.

Kini, Desa Keplaksari tidak hanya dikenal sebagai wilayah dengan sejarah panjang, tetapi juga sebagai simbol kearifan lokal yang tumbuh dari hubungan erat antara manusia dan alam. Dari pohon Tom, masyarakat belajar arti ketekunan, kerja keras, dan penghormatan terhadap sumber daya alam yang memberi kehidupan.

Pohon yang dahulu hanya dianggap tanaman liar di tepian ladang itu telah menjelma menjadi saksi perjalanan masyarakat desa menuju kesejahteraan. Warna biru dari sarinya bukan sekadar pewarna kain, melainkan lambang ketenangan, ketulusan, dan kesetiaan penduduknya pada warisan leluhur.

Begitulah asal mula Desa Keplaksari, tempat di mana sebatang pohon sederhana menumbuhkan kemakmuran, menyalakan semangat, dan memberi makna baru bagi seluruh kehidupan warganya.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.