Desa Mentaos

URL Cerital Digital: https://desakita.co/asal-usul/5564/asal-usul-desa-mentaos-kecamatan-gudo-jombang-dipercaya-karena-banyak-pohon-ini-jadi-bahan-baku-sandal-bakiak/

Di sebuah wilayah yang sejuk di Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, berdiri sebuah desa yang tenang dan sarat cerita masa lampau. Desa itu bernama Mentaos, nama yang bagi sebagian orang mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kisah panjang tentang alam, kehidupan, dan kearifan manusia dalam menjaga warisan bumi.

Konon, nama Mentaos berasal dari sebuah pohon yang dahulu tumbuh subur di kawasan itu, yaitu pohon mentaos. Tanaman ini dikenal masyarakat karena kayunya keras dan elastis, sering dijadikan bahan utama untuk membuat sandal bakiak yang populer di masa lalu. Namun lebih dari itu, masyarakat kuno percaya bahwa pohon mentaos memiliki banyak manfaat. Getahnya dapat digunakan sebagai pewarna alami dan pengawet makanan, sedangkan daun dan akarnya dipercaya berkhasiat sebagai obat tradisional untuk mengobati berbagai penyakit.

Pada masa-masa awal berdirinya desa, pohon mentaos tumbuh di hampir setiap sudut dusun. Rimbunnya daun dan teduhnya cabang menjadi tempat berlindung bagi petani dari terik matahari, sekaligus sumber penghidupan bagi pengrajin bakiak dan pedagang hasil bumi. Saat angin sore berembus, daun-daun mentaos menimbulkan suara lirih seperti bisikan alam, seolah tengah menceritakan rahasia masa lalu kepada siapa pun yang mau mendengarkan.

Dikisahkan, dahulu hanya ada dua dusun yang memiliki banyak pohon mentaos, yaitu Dusun Mentaos dan Dusun Dermo. Kedua dusun itu menjadi pusat kegiatan masyarakat yang menggantungkan hidup dari hasil alam. Para lelaki menebang batang mentaos dengan hati-hati, membentuknya menjadi alas kaki yang kuat dan tahan lama. Sementara para perempuan menyiapkan getahnya sebagai pewarna alami dan bahan pengawet untuk menyimpan hasil panen lebih lama. Dari kegiatan itu, lahirlah kesejahteraan sederhana yang membuat masyarakat hidup rukun dan saling menolong.

Waktu terus berjalan, dan pohon mentaos mulai berkurang. Salah satu pohon terakhir yang masih berdiri kokoh tumbuh di punden Mbah Direjo, tokoh yang dihormati karena diyakini sebagai sosok yang pertama kali membuka dan membabat alas desa ini. Di sekitar pohon itulah, masyarakat sering berkumpul untuk berdoa dan mengucap syukur atas hasil panen. Pohon mentaos di punden Mbah Direjo menjadi simbol hubungan manusia dengan alam, sebuah penanda bahwa kehidupan tidak pernah lepas dari akar tempat manusia berpijak.

Namun seiring perubahan zaman, pohon-pohon mentaos yang dulu memenuhi dusun kini tak lagi ditemukan. Lahan pertanian meluas, rumah-rumah baru berdiri, dan keberadaan pohon itu perlahan menghilang dari pandangan. Meskipun demikian, ingatan tentangnya tetap hidup dalam cerita yang diwariskan turun-temurun. Nama Mentaos pun menjadi penanda sejarah yang abadi, agar generasi berikutnya tak lupa pada pohon yang telah memberi kehidupan bagi leluhur mereka.

Kini, Desa Mentaos menjadi tempat tinggal bagi sekitar dua ribu lebih penduduk. Sekitar delapan puluh persen di antaranya masih setia menjadi petani, menggantungkan hidup pada kesuburan tanah Jombang. Sepuluh persen lainnya bekerja sebagai pegawai, dan sebagian kecil menjadi pelaku UMKM yang menjaga denyut ekonomi desa agar terus hidup. Meski pohon mentaos sudah tidak lagi berdiri di tanah mereka, semangat kerja keras dan kesederhanaan yang diwariskan dari masa lalu tetap tumbuh di hati masyarakat.

Desa Mentaos tidak hanya menyimpan kisah tentang nama dan pohon yang hilang, tetapi juga tentang keseimbangan antara manusia dan alam. Dari pohon mentaos, masyarakat belajar bahwa sumber kehidupan harus dijaga, karena di dalam setiap akar dan daun terkandung pelajaran tentang kesabaran, ketekunan, dan rasa syukur.

Hingga kini, setiap kali angin bertiup di antara hamparan sawah Desa Mentaos, seolah terdengar bisikan lembut dari masa silam. Bisikan itu mengingatkan bahwa dari satu pohon kecil yang dulu tumbuh di tanah ini, lahirlah sebuah nama yang kini dikenal dan dihormati oleh banyak orang: Desa Mentaos, desa yang tumbuh dari akar kearifan dan daun kehidupan.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.