Pada masa ketika Nusantara masih dikuasai oleh berbagai kerajaan Islam, kisah tentang seorang tokoh bijak bernama Tumenggung Surajaya atau Rangga Hadi menjadi bagian penting dari sejarah Lamongan. Ia dikenal bukan hanya sebagai pemimpin yang cakap, tetapi juga sebagai penyebar agama Islam yang penuh welas asih. Cerita ini bermula dari Dusun Cancing, tempat kelahirannya yang kini termasuk wilayah Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan. Sejak muda, Hadi sudah menunjukkan bakat dan kecerdasan yang luar biasa. Ia menimba ilmu di Kasunanan Giri, di mana Kanjeng Sunan Giri IV membimbingnya dengan penuh kasih. Hadi bukan hanya rajin belajar, tetapi juga memiliki ketenangan dan keteguhan hati yang membuatnya disayangi oleh gurunya.
Suatu hari, Kanjeng Sunan Giri memanggil Hadi dan memberinya tugas besar. Ia diminta untuk berlayar ke barat, ke wilayah bernama Kenduruan, guna menyebarkan ajaran Islam dan membantu rakyat mengatur kehidupan mereka. Sebagai tanda kepercayaan, Sunan Giri memberinya gelar “Rangga.” Hadi menerima amanah itu dengan penuh tanggung jawab. Bersama beberapa pengikutnya, ia menempuh perjalanan panjang menyusuri sungai yang kelak dikenal sebagai Kali Lamong. Arusnya deras, namun airnya membawa kehidupan bagi siapa pun yang tinggal di sekitarnya. Perjalanan itu bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual yang menandai awal dari perubahan besar di tanah Lamongan.
Ketika rombongan Rangga Hadi tiba di Kenduruan, mereka mendapati tanah yang subur, dikelilingi aliran air yang menenangkan. Air dari Kali Lamong menghidupi ladang-ladang yang luas dan memungkinkan penduduk menanam padi, sayuran, serta berbagai tanaman pangan lainnya. Melihat potensi alam itu, Rangga Hadi bertekad menjadikan wilayah tersebut makmur melalui pengelolaan pertanian yang baik. Ia mengajarkan kepada rakyat bagaimana memanfaatkan aliran sungai untuk mengairi sawah, membangun saluran irigasi sederhana, dan menanam padi pada waktu yang tepat. Dari sinilah awal mula tradisi pertanian Lamongan tumbuh subur, berpadu dengan nilai-nilai spiritual yang ia ajarkan.
Rangga Hadi tidak hanya mengajarkan tentang bercocok tanam, tetapi juga tentang keadilan, kerja sama, dan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas rezeki yang mengalir dari air sungai. Ia kerap mengatakan bahwa air Kali Lamong bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi juga lambang keberkahan. “Selama sungai ini mengalir,” ujarnya suatu ketika kepada para pengikutnya, “maka kehidupan akan terus tumbuh di tanah ini.” Kata-kata itu menjadi petuah yang diwariskan dari generasi ke generasi oleh masyarakat Lamongan.
Berkat bimbingannya, masyarakat Kenduruan hidup dalam kedamaian dan kemakmuran. Mereka belajar menanam padi bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga sebagai wujud rasa syukur. Padi yang tumbuh subur dari irigasi Kali Lamong menjadi simbol kesejahteraan dan kemandirian. Dalam setiap panen, masyarakat mengadakan syukuran kecil, mendoakan air sungai agar tetap mengalir bersih dan memberi kehidupan. Hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta terjalin erat dalam tradisi itu, mencerminkan nilai luhur yang ditanamkan Rangga Hadi sejak awal.
Seiring waktu, ketenaran Rangga Hadi meluas hingga ke berbagai penjuru. Kanjeng Sunan Giri mendengar kabar tentang keberhasilannya dalam mengatur pemerintahan dan menyejahterakan rakyat. Karena jasanya, ia diangkat menjadi Tumenggung atau Adipati Lamongan pertama. Gelar itu bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi juga pengakuan atas kebijaksanaan dan pengabdian yang ia berikan kepada rakyat dan tanah kelahirannya. Kali Lamong, yang menjadi saksi perjalanan dan perjuangannya, tetap mengalir hingga kini, seolah mengabadikan kisah tentang seorang pemimpin yang membangun peradaban dengan iman dan air kehidupan.
Hingga hari ini, nama Rangga Hadi dikenang oleh masyarakat Lamongan sebagai tokoh yang membawa kesejahteraan melalui pengelolaan alam yang bijak. Irigasi dari Kali Lamong yang dulu dibangun untuk mengairi sawah masih berperan penting dalam pertanian daerah itu. Setiap bulir padi yang tumbuh di sana seakan menyimpan kisah tentang keuletan dan keikhlasan seorang pemimpin yang memahami bahwa pangan dan air adalah dua anugerah terbesar yang harus dijaga bersama.