Desa Pulosari

URL Cerital Digital: https://desakita.co/pemerintahan/5634/asal-usul-desa-pulosari-kecamatan-bareng-jombang-dulunya-terdapat-banyak-tanaman-polosari-ada-sejak-era-kerajaan-majapahit/#:~:text=Asal%2Dusul%20Desa%20Pulosari%20Kecamatan,Era%20Kerajaan%20Majapahit%20%7C%20Desa%20Kita

Di kaki pegunungan barat Kabupaten Jombang, terbentang sebuah desa yang asri bernama Pulosari, bagian dari Kecamatan Bareng. Nama desa ini begitu lekat di hati penduduknya, bukan hanya karena tanahnya yang subur dan udaranya yang sejuk, melainkan karena legenda tua yang menandai awal mula kehidupan di sana.

Konon, berabad-abad silam, kawasan yang kini disebut Desa Pulosari masih berupa hutan belantara yang lebat. Pohon-pohon tinggi menjulang dan suara burung hutan berpadu dengan desir angin, menciptakan suasana magis yang membuat siapa pun enggan menembusnya. Namun di tengah rimba itu tumbuhlah sejenis tanaman harum yang oleh masyarakat kemudian disebut tanaman polosari. Tanaman ini unik, karena daunnya mengeluarkan aroma lembut yang mampu menenangkan hati. Daun dan batangnya sering dipakai oleh masyarakat masa lampau untuk menambah cita rasa masakan, seperti gulai, rendang, dan kari. Kandungan minyak atsirinya juga dipercaya dapat meningkatkan selera makan dan memperkuat tubuh.

Tanaman polosari tidak hanya menjadi bahan dapur, tetapi juga lambang keseimbangan antara alam dan manusia. Dari aromanya yang menenangkan, orang percaya tanaman ini membawa keberkahan bagi siapa pun yang menanamnya dengan niat baik.

Legenda Desa Pulosari bermula pada masa Kerajaan Majapahit, di bawah pemerintahan Raja Brawijaya. Saat itu, daerah ini belum bernama Pulosari dan masih jarang dihuni. Prabu Boko, seorang bangsawan Majapahit, memerintahkan keponakannya Joko Lodang untuk mendirikan tempat peribadatan bagi para penganut agama Hindu. Dengan tekun, Joko Lodang membuka hutan dan membangun sebuah candi yang kini dikenal sebagai Candi Arimbi.

Candi itu diyakini memiliki hubungan erat dengan Dewi Arimbi, sosok wanita bijak yang juga disebut sebagai keluarga Raja Brawijaya. Petilasan Dewi Arimbi masih bisa dijumpai hingga kini di Desa Ngrimbi, tidak jauh dari wilayah Pulosari.

Seiring berjalannya waktu, datanglah sepasang suami istri yang membawa ajaran Islam, yaitu Kyai Sari dan Nyai Mayang Sari. Keduanya membuka sebagian besar hutan untuk dijadikan pemukiman baru. Mereka hidup sederhana, menanam berbagai jenis tanaman obat dan rempah, termasuk tanaman polosari yang tumbuh subur di halaman rumah mereka. Dari aroma wangi tanaman itu, masyarakat mulai menyebut daerah tersebut sebagai “tanah polosari” atau “tanah harum yang menyembuhkan.”

Kyai Sari dikenal sebagai tokoh yang bijak. Ia sering mengundang penduduk untuk memasak bersama menggunakan daun polosari yang segar sebagai penyedap alami. Dari situlah masyarakat percaya bahwa tanaman itu tidak hanya memperkaya rasa, tetapi juga menjadi perekat kebersamaan. Dalam setiap masakan yang dimasak dengan polosari, terkandung doa dan rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah.

Lama kelamaan, wilayah yang semula hanya disebut Kampung Polosari berkembang menjadi desa besar yang makmur. Di sebelah selatan, seorang ulama lain bernama Kyai Nashir juga membuka pemukiman baru dan ikut memperluas pengaruh keagamaan serta pertanian di daerah itu.

Kini, meski tanaman polosari sudah jarang ditemui, pohonnya tetap dijaga dengan penuh hormat di depan kantor desa sebagai simbol warisan sejarah. Masyarakat percaya, selama pohon itu dirawat, Desa Pulosari akan terus menjadi tanah yang subur dan tenteram.

Begitulah kisah Desa Pulosari, desa yang tumbuh dari perpaduan aroma rempah, sejarah Majapahit, dan nilai-nilai kearifan lokal. Dari sehelai daun polosari, tersimpan pesan bahwa alam bukan hanya sumber pangan, melainkan juga bagian dari perjalanan spiritual manusia.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.