Desa Kepuhkembeng

URL Cerital Digital: https://desakita.co/asal-usul/5114/asal-usul-desa-kepuhkembeng-peterongan-jombang-dulunya-hutan-pohon-kepuh-yang-jadi-langganan-banjir/

Di sebuah lembah yang dikelilingi sawah dan aliran sungai kecil di Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, berdirilah Desa Kepuhkembeng, sebuah desa yang menyimpan kisah tua tentang pohon sakral dan kehidupan yang berpadu dengan alam. Nama desa ini lahir dari kisah panjang tentang pohon kepuh, tanaman yang dulu tumbuh lebat dan menjulang tinggi di seluruh penjuru wilayah tersebut.

Dahulu kala, desa ini dikenal dengan nama Kepuh Kembung. Nama itu muncul karena dua hal yang melekat pada daerah ini: banyaknya pohon kepuh yang rimbun dan kondisi tanahnya yang sering digenangi air setiap musim hujan. “Kembung” sendiri bermakna tanah yang menggelembung atau tergenang air, sementara “kepuh” merujuk pada pohon yang menjadi ciri khas wilayah tersebut. Seiring waktu, nama itu mengalami perubahan pelafalan menjadi Kepuhkembeng, seperti yang dikenal masyarakat sekarang.

Menurut kisah yang turun dari para sesepuh, dulu hutan kepuh di wilayah ini sangat lebat. Pohon-pohon kepuh berdiri gagah dengan batang besar dan daun rimbun yang meneduhkan siapa saja yang melintas di bawahnya. Tak hanya menjadi pelindung dari terik matahari, pohon kepuh juga memberikan banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat.

Biji dari buah kepuh dikenal mengandung minyak alami yang bisa diolah menjadi minyak nabati, bahan penting dalam berbagai produk industri dan pangan. Minyak ini sering dipakai untuk menggoreng makanan, membuat sabun alami, hingga menjadi bahan dasar pengobatan tradisional. Sementara itu, kulit buah kepuh yang berwarna cokelat kehitaman juga memiliki nilai guna tinggi. Penduduk zaman dahulu kerap menumbuknya halus untuk dijadikan bahan ramuan kue atau pewarna makanan alami yang memberi warna hangat dan rasa khas pada olahan tradisional.

Pohon kepuh bukan sekadar sumber pangan, tetapi juga simbol kehidupan bagi masyarakat lama. Di bawah naungan pohon kepuh, anak-anak sering bermain, para petani beristirahat, dan para tetua bercerita tentang leluhur yang dahulu membuka hutan di tanah itu. Meski sejarah pembabat alas Desa Kepuhkembeng tidak tercatat pasti, masyarakat mengenal nama Aji Sastro Wijoyo, seorang tokoh dari Klagen, sebagai kepala desa pertama yang mengatur kehidupan warga setelah hutan mulai dibuka. Ia dikenal bijak dan dihormati karena berhasil membawa ketertiban di masa awal terbentuknya desa. Setelahnya, kepemimpinan diteruskan oleh Singoharjo, sosok yang menjaga semangat kerja keras dan gotong royong penduduk.

Sayangnya, seiring dengan bertambahnya waktu dan kebutuhan lahan pertanian, pohon kepuh perlahan menghilang dari pemandangan desa. Pohon terakhir yang masih berdiri megah di Kepuhkembeng ditebang pada tahun 2009, menandai berakhirnya era kehadiran fisik sang penjaga alam itu. Namun bagi masyarakat setempat, semangat dan makna pohon kepuh tetap hidup dalam ingatan.

Kini, Desa Kepuhkembeng terbagi menjadi lima dusun: Kandangan, Klagen, Babatan, Kembeng, dan Jajar. Masing-masing dusun tumbuh dengan karakter berbeda, tetapi semuanya menyimpan kebanggaan terhadap sejarah pohon kepuh yang telah memberi kehidupan.

Bagi masyarakat setempat, pohon kepuh bukan sekadar tanaman, tetapi lambang keseimbangan antara manusia dan alam. Dari bijinya yang bermanfaat hingga kulit buahnya yang bernilai pangan, kepuh mengajarkan pentingnya menghargai apa yang tumbuh di sekitar kita. Di setiap cerita yang berembus dari mulut ke mulut, masyarakat Kepuhkembeng percaya bahwa selama mereka menjaga alam, maka alam pun akan terus memberi kehidupan seperti dulu pohon kepuh memberi naungan, pangan, dan ketenangan bagi desa tercinta mereka.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.