Di lembah hijau yang dialiri Sungai Brantas, berdiri sebuah desa tua bernama Gebangbunder. Desa ini bukanlah satu tempat yang muncul begitu saja, melainkan hasil penyatuan empat dusun yang dulu hidup berdampingan: Dusun Gebang, Dusun Binorong, Dusun Jatisari, dan Dusun Bunder. Penyatuan itu terjadi antara tahun 1914 hingga 1921, ketika para sesepuh setempat memutuskan untuk menjadikan empat wilayah tersebut sebagai satu kesatuan yang kokoh dan dikenal hingga kini sebagai Desa Gebangbunder.
Namun, kisah tentang desa ini sejatinya berawal dari sebuah pohon tua yang begitu dihormati masyarakat setempat. Pohon itu bernama pohon gebang, sejenis pohon tinggi dengan daun lebar dan batang besar yang mampu hidup puluhan tahun. Pohon gebang tumbuh tegak di sebuah tempat yang dahulu dianggap sakral. Di sanalah warga zaman dahulu meletakkan sesaji sebagai bentuk rasa syukur kepada alam. Karena keberadaan pohon itu begitu penting dan menjadi penanda wilayah, masyarakat pun menamai dusun mereka dengan sebutan “Dusun Gebang”.
Pohon gebang bukan hanya menjadi penanda spiritual, tetapi juga menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat. Batangnya yang besar menyimpan empulur yang kaya akan tepung pati, yang bisa diolah menjadi makanan pokok. Dari tepung gebang itu, warga membuat olahan seperti putak dan lempengan akabilan, sejenis pangan berkarbohidrat tinggi yang dapat menggantikan nasi. Di masa sulit, ketika panen padi gagal atau musim kering datang, tepung dari empulur pohon gebang menjadi penyelamat bagi banyak keluarga. Pohon ini benar-benar menjadi simbol kearifan lokal, mengajarkan masyarakat untuk memanfaatkan alam tanpa merusaknya.
Selain Dusun Gebang, ada pula Dusun Binorong yang menyimpan kisah legendaris. Nama dusun ini berasal dari tokoh tua bernama R. Binorong, seorang sesepuh yang bijak dan disegani. Ia memiliki seorang putri bernama Mbok Rondo Binorong, perempuan kuat yang setiap hari menyeberangkan orang di Sungai Brantas dengan perahu kecil miliknya. Konon, pada masa perang antara Tuban dan Kediri, seorang prajurit dari Tuban menyeberangi sungai menggunakan perahu Mbok Rondo Binorong. Prajurit itu, yang mengenakan baju putih dan disebut Baito Putih, kemudian menamai tempat itu sebagai Binorong untuk mengenang jasa sang perempuan penyeberang.
Dusun Jatisari dan Dusun Bunder melengkapi kisah ini. Jatisari diambil dari nama pohon jati yang dulu tumbuh subur di wilayah itu, sementara Bunder berasal dari bentuk wilayahnya yang melingkar seperti cincin. Keempat dusun itu akhirnya bergabung menjadi satu kesatuan utuh, mewariskan nama besar Gebangbunder yang kini dikenal luas di Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang.
Kini, pohon gebang mungkin tak lagi banyak dijumpai, tetapi kisah dan manfaatnya tetap hidup dalam ingatan masyarakat. Di setiap cerita rakyat dan di setiap olahan tradisional dari tepung gebang, tersimpan pesan bahwa alam selalu menyediakan kehidupan bagi mereka yang tahu cara menghargainya. Desa Gebangbunder bukan hanya tempat yang lahir dari penyatuan wilayah, tetapi juga dari penyatuan nilai: kebijaksanaan, kerja keras, dan rasa syukur terhadap anugerah bumi yang memberi makan manusia.
Gebangbunder adalah saksi bisu bagaimana sebuah pohon bisa menjadi sumber pangan, penanda sejarah, dan lambang persatuan. Dari pohon gebang, masyarakat belajar bahwa kehidupan akan selalu subur selama manusia mau bersahabat dengan alam.