Dusun Bonringin merupakan salah satu dusun di Desa Putatbangah, Kecamatan Karangbinangun, Kabupaten Lamongan. Dahulu, kawasan ini dikenal dengan nama Desa Kebon Agung, yang letaknya berada di daerah pedalaman atau yang oleh masyarakat setempat disebut “sawah njero.” Lokasi lama Bonringin berada sekitar dua ratus meter ke arah selatan dari dusun yang sekarang. Pada masa penjajahan Belanda, wilayah ini relatif aman dan tidak tersentuh oleh penjajah karena posisinya yang tersembunyi di tengah persawahan, sehingga sulit ditemukan oleh pasukan kolonial yang sering menyusuri jalur utama.
Namun, kehidupan di pedalaman membuat aktivitas masyarakat menjadi terbatas. Akses menuju jalan besar dan daerah sekitarnya tidak mudah dilalui, terutama saat musim hujan ketika jalan berubah menjadi lumpur. Karena itu, sekitar tahun 1941, masyarakat memutuskan untuk berpindah dari wilayah “sawah njero” ke daerah yang lebih tinggi dan dekat dengan jalan utama. Perpindahan ini membawa harapan baru agar warga dapat hidup lebih aman, mudah berinteraksi dengan daerah lain, serta memiliki peluang ekonomi yang lebih baik.
Di tempat baru itu, masyarakat menemukan sebuah pohon beringin besar yang tumbuh kokoh dan rindang. Daun-daunnya lebat, dahan-dahannya menjulang, menciptakan bayangan luas yang sejuk ketika matahari terik. Pohon beringin tersebut menjadi tempat favorit warga untuk berteduh setelah bekerja di ladang, juga menjadi tempat berkumpul dan berbincang saat sore hari. Karena pohon itu menjadi penanda yang menonjol di daerah tersebut, warga pun sepakat menamai desa baru mereka dengan sebutan “Bonringin,” yang berasal dari kata “kebon” (kebun) dan “beringin.”
Pohon beringin tidak hanya memiliki nilai simbolis bagi masyarakat, tetapi juga nilai fungsional yang erat dengan kehidupan sehari-hari. Daun beringin sering dimanfaatkan sebagai pakan ternak karena teksturnya lembut dan mudah dicerna. Selain itu, bagian lain dari pohon ini memiliki khasiat pengobatan. Getah, akar, dan kulit batangnya mengandung berbagai senyawa fitokimia seperti polifenol, saponin, dan flavonoid, yang dipercaya memiliki kemampuan untuk mengobati luka, mengurangi peradangan, hingga meningkatkan daya tahan tubuh. Masyarakat Bonringin pada masa lampau memanfaatkan bagian-bagian ini sebagai obat tradisional, warisan pengetahuan lokal yang terus dijaga hingga kini.
Nama Bonringin kemudian menjadi simbol kesejukan dan keteduhan, seperti harapan masyarakat agar desa mereka tumbuh besar, damai, dan makmur. Di bawah rindangnya pohon beringin, warga membangun kehidupan baru yang lebih terbuka terhadap perubahan, namun tetap berpijak pada nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan. Dari sini pula muncul keyakinan bahwa pohon beringin bukan sekadar tumbuhan peneduh, melainkan lambang keberlangsungan hidup dan perlindungan bagi seluruh warga desa.
Menurut penuturan para sesepuh dan tokoh agama, wilayah Kebon Agung atau Bonringin pertama kali dibabat oleh seorang perempuan bernama Mbah Muniroh. Beliau berasal dari Krapyak, Yogyakarta, dan dikenal sebagai sosok perempuan yang kuat, bijaksana, serta memiliki semangat spiritual yang tinggi. Bersama penduduk setempat, beliau membuka lahan baru, mengajarkan tata cara bertani, serta menanam nilai-nilai keislaman dalam kehidupan masyarakat. Makam Mbah Muniroh kini berada di belakang masjid desa dan sering dikunjungi warga untuk berziarah serta mengenang jasa-jasanya.
Beberapa tokoh agama seperti KH Juwari dari Jember dan almarhum KH Mahfudz Aziz dari Karangbinangun turut menuturkan kisah perjuangan Mbah Muniroh sebagai pendiri wilayah ini. Mereka menggambarkan beliau bukan hanya sebagai tokoh pembuka lahan, tetapi juga pelindung spiritual bagi dusun. Seiring waktu, kisah ini menjadi bagian dari identitas kolektif masyarakat Bonringin yang bangga dengan asal-usulnya dan menghormati sosok pendirinya sebagai lambang keteguhan dan ketulusan.
Kini, Dusun Bonringin tumbuh menjadi daerah yang damai dan produktif. Di bawah semangat yang diwariskan oleh Mbah Muniroh dan simbol kesejukan pohon beringin, warga terus menjaga harmoni dengan alam dan sesama. Cerita asal-usul Bonringin mengajarkan bahwa sebuah desa tidak hanya lahir dari perpindahan fisik, tetapi juga dari semangat kebersamaan dan keyakinan bahwa keteduhan dan kesejahteraan dapat tumbuh dari akar yang kuat.