Desa Plosowahyu, yang kini menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Lamongan, menyimpan kisah sejarah panjang yang berakar pada masa transisi antara era Hindu-Buddha dan Islam. Menurut tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, di dusun Wahyu terdapat sebuah makam keramat yang dikenal dengan nama Mbah Kaji Mujurono, yang dalam beberapa sumber juga disebut Raden Suworno. Sosok ini diyakini memiliki hubungan darah dengan keturunan Majapahit dan memainkan peran penting dalam proses awal berdirinya Desa Plosowahyu. Walau catatan tertulis mengenai masa hidupnya tidak banyak ditemukan, keberadaan makam Mbah Kaji Mujurono menjadi penanda kuat akan sejarah panjang dan spiritual desa ini.
Asal-usul Desa Plosowahyu sendiri sulit ditentukan secara pasti. Beberapa cerita rakyat menyebutkan bahwa masyarakat awal di wilayah ini memeluk ajaran Siwa-Buddha sebelum datangnya pengaruh Islam. Mbah Kaji Mujurono disebut-sebut sebagai pendatang yang kemudian menetap di Plosowahyu dan berperan dalam mengislamkan penduduk setempat. Hal ini sejalan dengan catatan sejarah yang menyebutkan bahwa proses islamisasi di wilayah Lamongan mulai intens terjadi pada masa Kesultanan Demak, tepatnya di bawah kepemimpinan Sultan Trenggono sekitar tahun 1541 hingga 1542 Masehi. Sebelumnya, wilayah Lamongan selatan masih banyak dipengaruhi oleh ajaran Hindu-Buddha dari kerajaan Sengguruh di Singosari dan Kertosono di Kediri.
Menurut penelusuran sejarawan Ustad Chambali, salah satu tokoh penting dalam sejarah Lamongan, yaitu Raden Pangeran Haryo Kanjeng Jimat, lahir di Plosowahyu sekitar tahun 1527. Fakta ini menunjukkan bahwa Desa Plosowahyu sudah eksis sebelum masa tersebut. Dalam kaitannya, Mbah Kaji Mujurono dipercaya hidup lebih awal dan merupakan santri dari Sunan Giri I, sedangkan Kanjeng Jimat dikenal sebagai santri Sunan Giri III. Hubungan ini memperlihatkan peran penting Plosowahyu dalam jaringan penyebaran Islam di wilayah pesisir utara Jawa Timur, yang kala itu menjadi pusat aktivitas dakwah dan pendidikan Islam.
Selain catatan sejarah keagamaan, legenda Plosowahyu juga menyimpan kisah perjuangan dan keteguhan spiritual. Diceritakan bahwa Mbah Kaji Mujurono memilih menetap di wilayah ini setelah mengalami kekalahan dalam suatu peperangan. Ia kemudian membuka hutan dan menjadikan tempat itu sebagai permukiman baru yang damai. Dari sinilah muncul nama “Plosowahyu”, yang berasal dari dua kata: “Ploso”, yaitu sejenis pohon yang banyak tumbuh di wilayah tersebut, dan “Wahyu”, yang berarti petunjuk atau ilham. Nama ini melambangkan tempat di mana seseorang mendapatkan pencerahan setelah melalui masa sulit, sekaligus menegaskan nilai spiritual yang melekat pada desa ini.
Pohon ploso, yang menjadi bagian dari nama desa, ternyata memiliki nilai manfaat tinggi bagi kehidupan masyarakat. Daunnya sering digunakan sebagai pembungkus alami untuk makanan tradisional seperti tape dan tempe karena memiliki tekstur yang kuat namun lentur, serta aroma khas yang menambah cita rasa. Dalam konteks budaya agraris, pohon ploso juga dianggap simbol keseimbangan antara alam dan manusia, mengajarkan bahwa keberlanjutan hidup bergantung pada kemampuan manusia menjaga alam sekitar. Tradisi ini masih bertahan hingga kini, menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Lamongan yang menghormati alam sebagai sumber kehidupan.
Dengan demikian, legenda Desa Plosowahyu bukan hanya kisah sejarah tentang asal-usul dan penyebaran Islam, tetapi juga cerminan perjalanan spiritual manusia dalam mencari makna hidup. Dari masa kekalahan menuju pencerahan, dari kepercayaan lama menuju keyakinan baru, dan dari hutan belantara menuju desa yang tenteram. Semua itu berpadu dalam satu kesatuan makna yang diabadikan dalam nama “Plosowahyu” tempat di mana wahyu atau petunjuk Tuhan menuntun manusia untuk kembali pada kebenaran dan kesejahteraan.
Kini, masyarakat Desa Plosowahyu hidup dalam harmoni antara tradisi dan modernitas. Jejak sejarahnya masih dijaga dengan penuh penghormatan, terutama melalui kegiatan keagamaan dan peringatan tokoh-tokoh leluhur seperti Mbah Kaji Mujurono. Dengan memadukan nilai sejarah, spiritualitas, dan kearifan lokal, Desa Plosowahyu tetap menjadi simbol keteguhan iman dan kebijaksanaan masyarakat Lamongan dalam melestarikan warisan budaya yang bermakna bagi generasi masa depan.