Tradisi Sakral Sayur Sanggring

URL Cerital Digital: https://desatlemang.org/index.php/artikel/2024/10/12/asal-usul-desa-tlemang

Desa Tlemang di Kabupaten Lamongan menyimpan kisah sejarah yang kaya nilai spiritual dan budaya. Berdasarkan cerita masyarakat setempat, nama “Tlemang” berasal dari peristiwa unik yang dialami oleh Raden Nurlali, putra dari Raden Trunodjojo dari Kerajaan Mataram, sekitar tahun 1677. Pada masa itu, Mataram sedang dilanda pergolakan besar, sehingga Raden Nurlali memutuskan meninggalkan keraton dan mengembara mengikuti jejak Sunan Giri untuk menyebarkan ajaran Islam.

Dalam perjalanannya ke wilayah timur Pulau Jawa, Raden Nurlali menyaksikan banyak penduduk hidup dalam kejahatan, seperti mencuri, merampok, dan membegal. Tersentuh oleh kondisi tersebut, ia bertekad menegakkan ketertiban dan menyiarkan agama Islam di daerah itu. Atas restu Sunan Giri, ia pun diberi amanat untuk menumpas kejahatan di wilayah Lamongan.

Ketika dalam perjalanan, Raden Nurlali menolong seorang wanita yang hendak dijarah kawanan perampok. Terjadi kejar-kejaran hingga akhirnya ia bersembunyi di sebuah hutan dan berhenti di atas bukit. Kudanya yang kelelahan mengeluarkan air liur yang menetes atau dalam bahasa Jawa disebut “tlemong”. Dari peristiwa itulah, tempat itu kemudian dinamakan “Tlemang”, diambil dari kata “tlemong” yang menggambarkan kejadian tersebut.

Atas keberhasilannya menumpas kejahatan, Sunan Giri menghadiahkan sebuah pusaka sakti kepada Raden Nurlali, berupa keris bernama Senggruk Semalang Gandring. Sebagai bentuk penghormatan atas jasanya, Sunan Giri mengangkat Raden Nurlali menjadi pemimpin masyarakat Tlemang dan meresmikannya melalui upacara wisuda yang dilaksanakan pada tanggal 27 Jumadilawal.

Untuk menghormati Sunan Giri dan para tamu dalam acara tersebut, Raden Nurlali bersama warga menyiapkan hidangan sederhana hasil bumi setempat yang dimasak oleh kaum laki-laki. Hidangan ini kemudian disebut sayur sanggring, yang menjadi simbol kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa syukur masyarakat. Tradisi ini terus dilestarikan hingga kini dalam bentuk upacara adat Sanggring, yang setiap tahun digelar untuk menghormati para wali dan leluhur desa.

Dalam upacara Sanggring, masyarakat menyajikan delapan piring sayur sanggring sebagai sesaji bagi arwah delapan wali. Tradisi ini tidak hanya memiliki makna religius, tetapi juga fungsi sosial sebagai perekat solidaritas antarwarga. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mencerminkan filosofi keseimbangan antara spiritualitas, rasa syukur, dan kebersamaan sosial masyarakat Tlemang.

Selain dikenal sebagai tokoh penyebar Islam, Raden Nurlali juga dijuluki “Kaki Terik”. Julukan ini berasal dari pusaka yang dimilikinya, yaitu Teken Wuluh Gading—sebatang bambu kuning yang tampak kering namun tetap mampu menumbuhkan tunas baru. Dalam bahasa Jawa, fenomena tumbuhnya pucuk dari batang kering disebut terik. Hal ini melambangkan semangat kehidupan yang terus tumbuh meski dalam kondisi sulit.

Raden Nurlali juga dikenal memiliki sahabat-sahabat sakti, seperti Kaki Bromo Geni yang mampu menciptakan api tanpa alat, Kaki Ngembes yang dapat memunculkan sumber air di tanah kering, dan Kaki Gereng yang semula dikenal sebagai tokoh jahat namun akhirnya bertobat dan menjadi orang saleh. Kisah mereka memperkuat legenda spiritual Desa Tlemang sebagai tempat yang diberkahi dan sarat nilai moral.

Hingga kini, masyarakat Tlemang masih melestarikan tradisi Sanggring sebagai warisan leluhur. Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap para wali, tradisi ini juga diyakini sebagai sarana memohon keselamatan, kesehatan, dan kemakmuran bagi seluruh warga desa. Dengan nilai-nilai kebersamaan dan spiritualitas yang kuat, Desa Tlemang menjadi contoh nyata bagaimana legenda, sejarah, dan tradisi berpadu membentuk identitas budaya yang hidup dan bermakna bagi generasinya.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.