
Di kaki Gunung Kelud, tepatnya di kawasan Candi Penataran, Blitar, mengalir air bening dari mata air kuno yang dipercaya menyimpan kesucian. Di antara batu-batu berlumut dan gemericik air yang menenangkan, terdapat sebuah kolam tua tempat ratusan ikan berenang dengan tenang. Tubuh mereka berkilau diterpa cahaya matahari, dan warna-warni sisiknya menari di permukaan air yang jernih. Itulah kolam Patirtan Candi Penataran, tempat di mana legenda tentang ikan koi dan ikan wader masih hidup dalam ingatan warga setempat.
Konon, pada masa dahulu, kolam itu dipenuhi ikan lele lokal dan ikan wader yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat sekitar. Ikan-ikan itu bukan hanya sekadar penghuni air, tetapi juga lambang keseimbangan antara manusia dan alam. Orang-orang percaya, selama ikan-ikan itu dijaga, mata air akan tetap jernih, dan hasil bumi tak akan berkurang.
Namun waktu berjalan, dan perubahan mulai terjadi. Sekitar tahun 1980-an, ikan lele lokal perlahan menghilang. Sebagian orang berkata bahwa air kolam telah berubah, sebagian lagi menyebut bahwa makhluk penjaga tempat itu tidak lagi menampakkan diri. Setelah itu, orang-orang yang datang untuk mensucikan diri di Patirtan membawa benih-benih ikan koi. Mereka menebarkannya ke dalam air dengan harapan agar kehidupan di kolam itu tetap berlanjut, agar air suci tetap berdenyut dengan napas kehidupan.
Kini, ikan koi dan ikan wader menjadi penghuni utama kolam suci tersebut. Mereka tidak hanya memperindah permukaan air, tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap alam. Walaupun ikan koi bukan spesies asli dari kolam itu, masyarakat tak pernah berani menangkap atau memakan seekor pun. Keyakinan turun-temurun mengatakan bahwa ikan-ikan itu adalah penjaga kesucian tempat, pelindung dari bencana yang tak terlihat.
Pernah suatu waktu, ada seorang pendekar dari daerah itu yang nekat mengambil seekor ikan lele dari kolam suci. Entah karena sombong atau sekadar ingin membuktikan keberaniannya, ia melanggar larangan yang telah dijaga berabad-abad lamanya. Namun tak lama setelahnya, ia tertimpa musibah. Sejak saat itu, tak seorang pun berani mengulang perbuatannya. Cerita itu menjadi peringatan yang hidup di hati warga hingga kini.
Ikan-ikan di Patirtan Candi Penataran tidak dimasak atau dijadikan santapan. Fungsinya bukan lagi sebagai sumber pangan langsung, melainkan sebagai pengingat akan pentingnya menghormati sumber kehidupan. Di balik sisik berwarna-warni para koi dan gerombolan kecil ikan wader, tersimpan nilai tentang keselarasan manusia dengan alam serta keyakinan akan keseucian air sebagai pemberi kehidupan.
Bagi penduduk Blitar, kolam Patirtan bukan sekadar tempat wisata. Ia adalah ruang spiritual yang menjaga hubungan antara manusia, alam, dan leluhur. Di sanalah orang datang untuk membersihkan diri, bukan hanya jasmani, tetapi juga batin. Dan di sanalah ikan koi dan ikan wader terus menari dalam air suci, menjadi simbol kehidupan yang tak pernah putus di tanah Jawa Timur.