Singonoto

URL Cerital Digital: https://repository.stkippgritrenggalek.ac.id/file/download/204?__cf_chl_tk=QImRyExCMhOHL5R2IgTf1gW59igNHBjbl5B6Caoo0XE-1754555268-1.0.1.1-FDY3MhRFOTxUnMI8U3v9cra1oe7MnIkWAdR5DqLQz_E

Pada masa ketika kerajaan-kerajaan masih berjaya di tanah Jawa, di sebuah daerah bernama Rembang, hiduplah dua tokoh bijak bernama Sorowito dan Singolodro. Mereka dikenal sebagai pemimpin yang dihormati rakyatnya. Namun, ketika peperangan besar melanda daerah itu, kehidupan masyarakat berubah drastis. Asap mengepul dari rumah-rumah yang terbakar, suara senjata dan jeritan menggema di udara. Tak ingin rakyatnya menderita lebih lama, Sorowito dan Singolodro memutuskan untuk mengajak warga meninggalkan tanah kelahiran mereka.

Dengan berat hati, rombongan itu berangkat meninggalkan Rembang. Mereka menempuh perjalanan panjang melewati hutan, sungai, dan perbukitan. Hari demi hari, mereka berjalan tanpa kepastian, hanya mengikuti tanda-tanda alam dan doa yang mereka panjatkan setiap malam. Hingga suatu hari, mereka tiba di sebuah wilayah yang hijau, dengan tanah yang subur dan air yang mengalir jernih dari sumber di kaki bukit. Tempat itu bernama Tlumpu, yang kelak menjadi bagian dari wilayah Blitar.

Di tanah baru itu, mereka mulai membangun kehidupan dari awal. Rumah-rumah berdiri, ladang-ladang dibuka, dan sawah mulai digarap. Sumber air di desa menjadi berkah terbesar bagi mereka, karena airnya tidak pernah surut, bahkan di musim kemarau panjang. Dari sinilah masyarakat belajar mengelola air untuk irigasi, menyalurkannya ke persawahan agar padi dan tanaman pangan mereka tumbuh subur. Air menjadi penghubung antara manusia dan alam, simbol kehidupan yang menyatukan mereka setelah masa-masa sulit.

Beberapa generasi berlalu, dan dari keturunan Sorowito dan Singolodro lahirlah seorang pemuda yang gagah dan cerdas bernama Singonoto. Ia adalah cucu dari salah satu sesepuh yang ikut dalam perjalanan besar dari Rembang ke Tlumpu. Sejak kecil, Singonoto dikenal rajin membantu warga di sawah. Ia paham betul betapa berharganya air bagi masyarakat. Ia sering memimpin gotong royong untuk memperbaiki saluran irigasi yang rusak, membersihkan mata air, dan mengajarkan cara mengatur aliran air agar semua sawah mendapat jatah yang adil.

Namun, seiring bertambahnya usia dan luasnya daerah yang mereka tempati, muncul masalah baru. Ada pihak-pihak yang iri terhadap kepemimpinan Singonoto. Ia difitnah telah memberontak terhadap ibu kota dan tidak lagi setia kepada penguasa. Kabar itu cepat menyebar, dan masyarakat menjadi gelisah. Padahal, yang sebenarnya dilakukan Singonoto hanyalah melindungi rakyatnya dari ketidakadilan dan menjaga agar hasil panen tetap dimanfaatkan untuk kebutuhan warga, bukan diambil paksa oleh para pejabat yang serakah.

Malam itu, di bawah sinar rembulan, Singonoto duduk di tepi sumber air yang telah menjadi saksi kehidupan rakyat Tlumpu. Ia menatap pantulan wajahnya di air jernih dan berbisik pelan, “Air ini mengalir untuk semua, bukan untuk segelintir orang. Aku tidak akan berhenti memperjuangkan mereka.”

Dengan keberanian dan kebijaksanaannya, Singonoto akhirnya berhasil membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Ia mengungkap kebenaran dan menunjukkan bahwa fitnah itu berasal dari orang-orang yang ingin merebut kekuasaan dengan cara licik. Setelah namanya bersih, rakyat kembali mempercayainya. Sejak itu, nama Singonoto menjadi lambang kejujuran, keberanian, dan pengabdian pada rakyat serta alam.

Masyarakat kemudian menamai daerah tempat tinggalnya Desa Rembang, untuk mengenang perjalanan panjang leluhur mereka dari tanah asal di Jawa Tengah. Di desa itu, sumber air tetap dijaga dan dikelola dengan kearifan seperti yang diajarkan Singonoto. Air dialirkan ke sawah melalui sistem irigasi sederhana dari batu dan tanah liat, memastikan setiap petani mendapat bagian yang sama.

Sampai hari ini, masyarakat Desa Rembang di Blitar masih menggantungkan hidup pada sumber air itu. Airnya menjadi urat nadi pertanian dan sumber pangan bagi ribuan jiwa. Dari air itu tumbuh padi yang menguning di musim panen, sayur yang segar di ladang, dan kehidupan yang terus mengalir tanpa henti, sama seperti perjuangan Singonoto yang tak pernah padam dalam ingatan rakyatnya.

Bagi warga Blitar, kisah Singonoto bukan hanya tentang keberanian seorang tokoh, tetapi juga tentang kearifan dalam mengelola air sebagai sumber kehidupan dan pangan. Ia mengajarkan bahwa air adalah anugerah yang harus dijaga dengan kerja sama dan rasa hormat. Dalam setiap gemericik air di sawah Desa Rembang, masyarakat seolah masih bisa mendengar bisikan semangat Singonoto yang berkata, “Selama air mengalir, kehidupan akan terus tumbuh.”

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.