
Di masa ketika penjajahan masih mencengkeram tanah Jawa, di sebuah desa yang kini masuk wilayah Kecamatan Sananwetan, Blitar, hiduplah sepasang suami istri bernama Pak Singodongso dan Bu Semi. Mereka memiliki seorang anak perempuan bernama Siti, gadis yang dikenal bukan hanya karena kecantikannya, tetapi juga karena kelembutan dan kecerdasannya. Siti mencintai ketenangan desa, udara hutan, dan aroma tanah setelah hujan. Sejak kecil, ia sering membantu ayahnya mencari dedaunan obat dan buah hutan untuk kebutuhan dapur, sebab keluarga mereka hidup sederhana dan sangat menghargai anugerah alam.
Namun, kehidupan tenang keluarga itu mulai berubah ketika Bu Semi berkeinginan menikahkan Siti dengan seorang bupati kaya dari kota. Bupati itu sudah memiliki istri, tetapi belum dikaruniai anak. Dengan alasan agar masa depan putrinya terjamin, Bu Semi bersikeras untuk menerima lamaran itu. Namun Siti menolak dengan halus. Ia merasa cinta tidak bisa dipaksakan, apalagi kepada seseorang yang hatinya tidak ia kenal. Pak Singodongso pun diam-diam setuju dengan pendapat anaknya, sebab ia tahu bahwa kebahagiaan sejati tidak dapat dibeli dengan harta atau kedudukan.
Suatu hari, ketika Pak Singodongso sedang berjalan di hutan untuk mencari bahan ramuan tradisional, ia bertemu seorang pemuda asing. Tubuh pemuda itu tampak lelah, pakaiannya berdebu, dan sorot matanya menyimpan kisah panjang. Pemuda itu memperkenalkan diri sebagai Irodikoro, seorang bupati dari Demak yang kini menjadi pelarian. Ia pernah menjadi bagian dari Laskar Pangeran Diponegoro, pasukan pemberani yang berjuang melawan penjajahan Belanda. Namun setelah pasukan Diponegoro kalah, banyak prajurit yang melarikan diri ke berbagai penjuru Jawa, dan Irodikoro adalah salah satunya.
Melihat pemuda itu tanpa arah dan tujuan, Pak Singodongso yang berhati lembut mengajaknya untuk tinggal di rumahnya. Di rumah sederhana itu, Irodikoro mulai mengenal kembali arti kehidupan yang tenang. Ia membantu Pak Singodongso menebas rumput di ladang, menimba air, dan mempelajari cara mengelola hasil hutan seperti daun jati untuk pembungkus makanan dan dedaunan liar untuk obat tradisional. Irodikoro terkagum melihat bagaimana keluarga itu hidup berdampingan dengan alam, memanfaatkan tumbuhan secukupnya tanpa merusak hutan.
Seiring waktu, cinta pun tumbuh diam-diam antara Irodikoro dan Siti. Setiap pagi, mereka sering bertemu di tepi hutan, di mana Siti memetik daun-daunan obat sementara Irodikoro membantu menyiangi semak. Percakapan mereka ringan, tentang burung yang bernyanyi, tentang hujan yang datang tiba-tiba, atau tentang impian sederhana untuk hidup damai tanpa peperangan. Dalam kebersamaan itu, hati mereka saling mengenal tanpa perlu banyak kata.
Akhirnya, dengan keberanian yang tulus, Irodikoro menghadap Bu Semi dan melamar Siti secara resmi. Namun, Bu Semi menatapnya dingin. Ia belum melupakan mimpinya agar Siti menikah dengan bupati kaya. Maka ia memberikan syarat yang hampir mustahil:
“Jika engkau bisa menebang seluruh hutan dalam satu hari satu malam, maka aku akan izinkan kau menikah dengan anakku.”
Irodikoro terdiam. Ia tahu syarat itu mustahil. Namun demi cintanya pada Siti, ia menerima tantangan tersebut.
Malam itu, di bawah cahaya rembulan, Irodikoro masuk ke dalam hutan dengan kapak di tangannya. Ia menebang satu demi satu pohon besar dengan segenap tenaga, keringatnya bercucuran, dan lengannya bergetar karena lelah. Namun di tengah malam, ia berhenti. Ia memandangi hutan lebat di sekelilingnya dan mendengar suara burung malam, serangga, dan gemericik air sungai. Saat itu hatinya tersadar: bagaimana mungkin ia merusak hutan yang telah memberi kehidupan bagi banyak makhluk?
Dengan napas berat, Irodikoro meletakkan kapaknya. Ia berlutut dan berdoa, memohon agar Tuhan memberikan jalan lain. Ketika pagi tiba, ia kembali ke rumah dengan tangan kosong. Bu Semi tersenyum sinis karena merasa tantangannya gagal. Namun sebelum ia sempat berbicara, Pak Singodongso berkata pelan, “Ia memang tidak menebang hutan, tetapi ia telah menebang keserakahan dalam dirinya. Bukankah itu jauh lebih bijak?”
Siti menatap Irodikoro dengan mata penuh air. Ia tahu bahwa pemuda itu tidak hanya mencintainya, tetapi juga mencintai kehidupan dan alam sebagaimana dirinya. Melihat ketulusan keduanya, hati Bu Semi pun luluh. Ia akhirnya merestui pernikahan mereka.
Setelah menikah, Irodikoro dan Siti tinggal di desa itu dan mengabdikan hidup mereka untuk menjaga hutan. Mereka mengajarkan masyarakat cara memanfaatkan dedaunan sebagai obat dan bahan pangan tanpa merusak keseimbangan alam. Mereka menanam kembali pohon yang ditebang, menjaga mata air, dan memelihara satwa di sekitarnya.
Dari kisah cinta mereka, masyarakat belajar bahwa mencintai manusia tidak terpisah dari mencintai alam. Hutan bukan hanya tempat untuk ditebang, tetapi sumber kehidupan yang harus dijaga. Hingga kini, masyarakat Sananwetan masih mengenang kisah itu sebagai simbol kearifan dalam mengelola alam, dan bagaimana cinta sejati selalu berjalan beriringan dengan rasa hormat kepada bumi yang memberi makan dan menumbuhkan kehidupan.