Mbah Mad Karso dan Mbah So Merto

URL Cerital Digital: https://repository.stkippgritrenggalek.ac.id/file/download/204?__cf_chl_tk=QImRyExCMhOHL5R2IgTf1gW59igNHBjbl5B6Caoo0XE-1754555268-1.0.1.1-FDY3MhRFOTxUnMI8U3v9cra1oe7MnIkWAdR5DqLQz_E

Pada masa ketika Blitar masih dikelilingi oleh hutan lebat dan tanah luas yang belum banyak disentuh manusia, hiduplah seorang tokoh yang dikenal bijak dan pekerja keras bernama Mbah Mad Karso. Ia adalah sosok yang sederhana, namun memiliki semangat besar untuk membuka lahan baru agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Di masa itu, wilayah yang kini dikenal sebagai Kelurahan Ngadirejo hanyalah tanah kosong yang ditumbuhi semak belukar, pepohonan liar, dan rumput setinggi dada.

Kisah bermula ketika penduduk dari Lingkungan Jatimalang, Kelurahan Sentul, mulai mencari lahan baru untuk menetap. Wilayah mereka sudah semakin padat, dan sebagian besar tanahnya tidak lagi cukup untuk digarap bersama. Melihat hal itu, Mbah Mad Karso mengambil inisiatif untuk membabat hutan di sekitarnya. Ia mengayunkan parang dengan tekad kuat, membersihkan batang-batang kayu besar, dan menyiapkan tanah agar bisa ditanami. Hari demi hari, peluhnya menetes di tanah yang gembur, seolah menyatu dengan bumi yang siap melahirkan kehidupan baru.

Setelah berminggu-minggu bekerja tanpa kenal lelah, terbentuklah lahan yang luas dan subur. Mbah Mad Karso tidak menyimpannya untuk dirinya sendiri. Dengan hati terbuka, ia mempersilakan para pendatang untuk menetap dan membuka kehidupan baru di sana. “Mari,” katanya dengan suara lembut, “tanah ini luas. Di sinilah kita bisa hidup bersama dan menanam untuk masa depan.”

Desa kecil pun mulai terbentuk. Rumah-rumah sederhana berdiri, anak-anak berlari di antara ladang, dan udara pagi membawa aroma tanah basah dan daun muda. Di tanah itu, warga menanam umbi-umbian dan jagung sebagai pangan pokok. Tanahnya yang subur menjadikan tanaman tumbuh dengan mudah. Umbi menjadi sumber karbohidrat yang bisa disimpan lama, sementara jagung dijadikan bahan makanan sehari-hari, dimasak dengan cara direbus, dibakar, atau dijadikan tepung untuk olahan tradisional.

Sebagai bentuk harapan agar wilayah itu berkembang, Mbah Mad Karso menamai kampung tersebut Ngudirejo, yang berarti “tempat yang ramai dan sejahtera.” Nama itu bukan sekadar sebutan, tetapi doa agar kampung itu menjadi pusat kehidupan yang makmur bagi siapa pun yang tinggal di sana. Dan seperti yang diharapkan, dari tahun ke tahun, Ngudirejo semakin ramai. Ladang meluas, hasil panen melimpah, dan kehidupan masyarakat semakin baik.

Namun, seiring waktu, penduduk pun bertambah. Rumah-rumah baru mulai berdiri rapat, dan lahan pertanian semakin terbatas. Melihat keadaan itu, Mbah Mad Karso memanggil anaknya, Mbah So Merto, seorang pemuda kuat yang mewarisi semangat kerja keras ayahnya.

“Anakku,” kata Mbah Mad Karso suatu pagi, “jika di sini sudah ramai, maka pergilah ke utara. Bukalah lahan baru agar anak cucu kita kelak punya tempat untuk hidup dan menanam. Jangan takut pada hutan, karena selama kita bekerja dengan niat baik, bumi akan memberi kita hasilnya.”

Mbah So Merto pun menuruti nasihat ayahnya. Ia membawa beberapa orang muda dan mulai membuka wilayah ke arah utara. Dalam bahasa Jawa kuno, kegiatan membuka lahan baru seperti ini disebut ngesong. Tanah di utara ternyata lebih subur dan lembap, cocok untuk ditanami jagung dan singkong. Setelah hutan dibersihkan, wilayah itu menjadi lahan pertanian luas yang penuh kehidupan. Untuk mengenang usaha keras tersebut, masyarakat menamai daerah itu Dukuh Bangsongan.

Sejak saat itu, masyarakat di kedua wilayah—Ngudirejo dan Bangsongan—hidup berdampingan dengan damai. Mereka saling membantu dalam bertani, membangun sistem irigasi sederhana untuk mengairi lahan, dan saling berbagi hasil panen. Jagung dan umbi menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka, bukan hanya sebagai makanan, tetapi juga sebagai lambang kebersamaan. Saat musim panen tiba, warga berkumpul, memasak bersama, dan mengadakan syukuran sederhana di bawah pohon besar di tengah desa.

Hingga kini, kisah Mbah Mad Karso dan Mbah So Merto masih dikenang oleh masyarakat Ngadirejo sebagai simbol kerja keras dan gotong royong. Dari tangan mereka, lahan kosong berubah menjadi kampung yang subur dan ramai. Mereka mengajarkan bahwa bumi yang dijaga dan dikelola dengan cinta akan selalu memberi kehidupan. Jagung dan umbi yang dulu mereka tanam masih tumbuh di ladang-ladang desa, menjadi saksi bahwa ketekunan dan kebersamaan adalah sumber pangan sejati bagi manusia.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.