
Di tengah riuhnya sejarah perjuangan Jawa melawan penjajah, ada satu nama yang mungkin jarang disebut dalam buku-buku besar, namun kisahnya hidup dalam ingatan masyarakat Blitar. Ia adalah Raden Ngabehi Bawa, atau yang lebih dikenal sebagai Djoyo Digdan, seorang tokoh sakti, cerdas, dan berani yang pernah mengguncang kekuasaan kolonial Belanda.
Raden Ngabehi Bawa bukan orang biasa. Ia lahir di keluarga bangsawan, putra dari Adipati Kulon Progo dan masih memiliki hubungan darah dengan Raden Ajeng Kartini, sang pelopor emansipasi wanita. Sejak muda, Djoyo Digdan tumbuh sebagai pemuda yang gemar menuntut ilmu, tidak hanya dalam bidang kepemimpinan dan strategi perang, tetapi juga dalam ilmu spiritual dan kesaktian Jawa.
Ketika Pangeran Diponegoro bangkit memimpin perlawanan terhadap Belanda, Djoyo Digdan tak ragu untuk ikut bergabung dalam perjuangan itu. Ia menjadi salah satu panglima kepercayaan sang pangeran, mengatur strategi perang di wilayah pedalaman dan menyatukan rakyat dari berbagai daerah untuk melawan penjajah. Dalam banyak pertempuran, keberanian dan taktiknya membuat pasukan Belanda kewalahan.
Namun, nasib berkata lain. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan, Djoyo Digdan mengambil alih komando perjuangan. Ia bertekad melanjutkan perlawanan meskipun kekuatan pasukannya kian menipis. Hingga suatu hari, setelah pertempuran besar di Jawa Tengah, pasukannya dikepung dan ditangkap. Belanda menghukumnya dengan cara kejam: ia dieksekusi mati dan jasadnya dibuang di tengah hutan agar tidak ditemukan oleh pengikutnya.
Tetapi di sinilah awal dari kisah luar biasa itu. Konon, berkat Ajian Pancasona yang ia kuasai, Djoyo Digdan tidak bisa mati. Setelah tubuhnya dilempar ke dalam hutan yang sepi, semalaman petir menyambar dan angin berputar hebat di sekeliling jasadnya. Saat fajar menyingsing, tubuh Djoyo Digdan kembali hidup, seolah alam sendiri menolak kematiannya.
Ia kemudian memutuskan untuk meninggalkan tanah Jawa Tengah dan bersembunyi di tempat yang jauh dari jangkauan Belanda. Dengan menyamar sebagai rakyat biasa, Djoyo Digdan mengembara hingga tiba di tanah Blitar, wilayah yang subur dengan hutan lebat, sawah yang luas, serta sungai yang kaya akan kehidupan. Di sini, ia menemukan kedamaian baru.
Namun takdirnya sebagai pemimpin tidak bisa dihindari. Karena kecerdasan dan kewibawaannya, Djoyo Digdan justru diangkat oleh Belanda menjadi Patih pertama di Blitar, tanpa mereka sadari bahwa orang yang mereka angkat adalah musuh besar mereka sendiri. Ia memimpin dengan adil, bijaksana, dan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat. Ia mendorong masyarakat untuk bertani, menanam pohon buah-buahan, dan menjaga kesuburan tanah.
Di bawah kepemimpinannya, Blitar menjadi wilayah yang makmur. Tanahnya menghasilkan banyak buah-buahan seperti pisang, kelapa, dan mangga, yang digunakan masyarakat untuk kebutuhan pangan sehari-hari. Ia mengajarkan bahwa tanah yang diberkahi harus dijaga dan dimanfaatkan dengan bijak. “Alam memberi kehidupan bagi mereka yang menghormatinya,” begitu pesan yang sering ia sampaikan kepada para petani.
Namun, kabar tentang kecerdikan dan kemakmuran Blitar sampai juga ke telinga pejabat Belanda di pusat pemerintahan. Mereka mulai curiga terhadap sang patih yang terlalu cerdas dan terlalu dicintai rakyatnya. Seorang jenderal Belanda datang untuk menguji kesetiaannya, dan dari situlah awal penderitaan Djoyo Digdan dimulai kembali.
Ketika jenderal itu mencoba menyingkirkannya, berbagai upaya pembunuhan dilakukan. Namun, setiap kali Djoyo Digdan dibunuh, ia selalu hidup kembali. Kadang dalam sehari ia mati tiga kali, tetapi tubuhnya selalu bangkit kembali seolah kematian bukan bagian dari takdirnya. Belanda menjadi ketakutan. Mereka menyebutnya “orang sakti dari Blitar” yang tidak bisa mati, dan akhirnya memilih menjauh dari wilayah kekuasaannya.
Seiring waktu, Djoyo Digdan menghilang tanpa jejak. Beberapa orang percaya bahwa ia menyatu dengan alam, hidup abadi di antara pepohonan dan sungai di Blitar. Ada pula yang mengatakan bahwa ia bertapa di dalam hutan hingga akhir hayatnya, menjaga keseimbangan alam agar tetap subur dan memberi kehidupan bagi rakyat.
Masyarakat Blitar hingga kini masih mengenang Djoyo Digdan bukan hanya sebagai tokoh sakti, tetapi sebagai pelindung tanah dan pangan rakyat. Mereka percaya bahwa ajaran-ajarannya tentang pentingnya menjaga alam dan memanfaatkan hasil bumi dengan bijak telah menumbuhkan tradisi pertanian yang berkelanjutan di daerah itu.
Buah-buahan dan hasil bumi Blitar yang subur dipercaya sebagai warisan berkah dari Djoyo Digdan, sang patih abadi yang hidup demi rakyatnya. Di tanah yang dulu menjadi pelariannya, kehidupan tumbuh dengan damai. Setiap kali angin berhembus melewati kebun buah yang rimbun, masyarakat percaya bahwa semangat Djoyo Digdan masih berkelana, menjaga kesejahteraan mereka dari balik daun-daun yang bergoyang.