Sukowati dan Mbah Sumo

URL Cerital Digital: https://repository.stkippgritrenggalek.ac.id/file/download/204?__cf_chl_tk=QImRyExCMhOHL5R2IgTf1gW59igNHBjbl5B6Caoo0XE-1754555268-1.0.1.1-FDY3MhRFOTxUnMI8U3v9cra1oe7MnIkWAdR5DqLQz_E

Di lereng perbukitan Blitar bagian barat, di antara hutan-hutan lebat yang dahulu masih belum dijamah manusia, hiduplah seorang perempuan tangguh bernama Sukowati. Tubuhnya mungkin tidak besar, namun keberaniannya setara dengan seratus prajurit. Sejak muda, Sukowati dikenal sebagai perempuan yang gigih dan mandiri. Ia tidak gentar menghadapi kerasnya alam dan bahaya yang mungkin datang dari dalam hutan yang masih angker itu.

Suatu hari, Sukowati memutuskan untuk membuka lahan baru di tengah hutan rimba. Ia percaya, jika hutan itu dibersihkan dan diolah, tanahnya yang subur dapat menjadi tempat hidup bagi banyak orang. Namun, perjalanan membabat hutan tidak semudah yang dibayangkan. Setiap kali ia menebas semak atau menebang pohon, terdengar suara aneh dari balik pepohonan. Kadang seperti tawa, kadang seperti rintihan. Daun-daun bergerak sendiri, dan angin bertiup membawa bisikan yang membuat bulu kuduk merinding.

Malam harinya, Sukowati baru menyadari bahwa hutan itu rupanya dijaga oleh kawanan jin yang sudah lama mendiami tempat itu. Para jin tidak senang karena wilayah mereka diganggu oleh manusia. Mereka menampakkan diri dengan wajah menyeramkan, mengeluarkan api dari mata mereka, dan berusaha mengusir Sukowati. Namun, Sukowati tidak mundur. Ia menancapkan tongkat kayu ke tanah, lalu berdoa dengan tulus memohon perlindungan Tuhan. Dengan keberanian dan doa itu, perlahan para jin melemah, hingga akhirnya tunduk dan pergi meninggalkan hutan.

Setelah hutan itu berhasil dibuka, Sukowati mendapati hal yang menakjubkan. Di tengah-tengah lahan yang ia bersihkan, mengalir mata air yang begitu jernih dan sejuk. Air itu terus mengalir dari celah batu, membentuk aliran kecil yang menyejukkan sekitarnya. Sukowati menamai tempat itu “Sukowati”, yang berarti anugerah kebahagiaan. Ia membangun rumah di dekat sumber air itu dan mulai menanami tanah dengan berbagai tanaman pangan seperti padi, sayuran, dan umbi-umbian. Air dari sumber itu menjadi berkah, menyuburkan tanah dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Bertahun-tahun kemudian, datanglah seorang lelaki tua bernama Mbah Sumo. Ia adalah seorang pertapa dan penyebar ilmu kebijaksanaan yang ingin mendirikan sebuah padepokan di daerah itu. Seperti halnya Sukowati, Mbah Sumo harus membuka hutan di sisi lain perbukitan. Namun, tubuhnya yang renta membuat tenaganya tidak sekuat dulu. Ketika ia mulai menebas pepohonan besar, jin-jin penjaga hutan kembali muncul, lebih ganas dari sebelumnya. Mereka berusaha menghalanginya dengan menimbulkan angin ribut, menjatuhkan dahan, dan membuat Mbah Sumo jatuh tersungkur.

Melihat hal itu, Sukowati segera datang membantu. Ia membawa air dari sumber yang telah ia temukan dulu, lalu memercikkannya ke tanah tempat para jin mengamuk. Ajaibnya, begitu air itu menyentuh tanah, amarah para jin mulai mereda. Sukowati dan Mbah Sumo kemudian berdoa bersama, memohon agar hutan itu diberi kedamaian. Akhirnya, para jin benar-benar pergi, meninggalkan tempat itu untuk selamanya.

Sebagai tanda terima kasih, Mbah Sumo membangun padepokan di dekat sumber air itu, sementara Sukowati tetap menjaga lahan dan sumbernya agar tidak rusak. Mata air itu menjadi pusat kehidupan bagi masyarakat sekitar. Dari situlah mereka memperoleh air minum, air untuk memasak, dan mengairi sawah-sawah yang mereka tanam. Airnya sangat jernih dan terasa segar, bahkan dipercaya memiliki khasiat menenangkan hati dan menyehatkan tubuh.

Seiring waktu, wilayah yang dulunya hutan itu berkembang menjadi pemukiman yang subur. Warga yang datang kemudian menamai daerah itu Desa Sukorejo, untuk mengenang jasa Sukowati dan Mbah Sumo. Mereka bukan hanya dianggap sebagai pendiri desa, tetapi juga sebagai pelindung yang membawa kehidupan dan ketentraman.

Sampai hari ini, sumber air di Desa Sukorejo masih mengalir deras. Warga memanfaatkannya untuk kehidupan sehari-hari, menjaga kebersihannya seperti menjaga warisan leluhur. Cerita tentang Sukowati dan Mbah Sumo menjadi pengingat bahwa alam, jika dijaga dengan niat baik dan hati tulus, akan memberi balasan berupa kehidupan yang sejahtera. Air yang dulu muncul dari tanah tempat mereka berjuang kini menjadi simbol keberkahan, sumber air alami yang tetap murni sejak ratusan tahun lalu.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.