Pada masa lampau, di tanah Madura yang subur namun penuh misteri, hidup dua bersaudara yang dikenal bijak dan saleh, yaitu Bhuju Makkung dan Bhuju Bendo. Keduanya memiliki hati yang lembut, penuh kasih kepada sesama, dan bertekad membantu masyarakat yang hidup di tanah gersang agar dapat menikmati air bersih yang menjadi sumber kehidupan.
Suatu ketika, Bhuju Makkung tinggal di sebuah daerah yang kini dikenal sebagai Desa Dhili Anyar. Di tempat itu, berkat doa dan kesalehannya, ia berhasil memohon kepada Sang Pencipta hingga keluarlah air yang jernih dari tanah kering. Air itu terus mengalir tanpa henti, memberi kehidupan bagi warga sekitar. Desa itu pun berkembang dan menjadi daerah yang makmur karena sumber air yang melimpah.
Beberapa waktu kemudian, datanglah sang kakak, Bhuju Bendo, yang menempuh perjalanan jauh untuk menemui adiknya. Wajahnya tampak murung, langkahnya berat, seolah membawa beban besar. Ketika mereka bertemu, Bhuju Bendo menceritakan kondisi desanya yang memprihatinkan. Tanah di sana kering, ladang-ladang merekah tanpa air, dan masyarakat kesulitan mendapatkan pangan karena sawah mereka tidak dapat ditanami.
Bhuju Makkung mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia kemudian menceritakan kepada kakaknya tentang keajaiban yang baru saja dialaminya bersama seorang sahabatnya bernama Bhuju Ahmad. Ia menuturkan bagaimana mereka memanjatkan doa dengan penuh keikhlasan hingga air muncul dari bumi yang tandus. Dengan penuh keyakinan, Bhuju Makkung menasihati kakaknya untuk melakukan hal yang sama.
“Berdoalah dengan hati yang bersih,” ujar Bhuju Makkung. “Gambarlah garis dari tempatku di Ghili Anyar menuju desamu, agar aliran air dan keberkahan ikut mengalir ke sana.”
Bhuju Bendo mengikuti saran itu. Ia memanjatkan doa dengan penuh harap, lalu membuat garis panjang di tanah sebagaimana petunjuk adiknya. Tak lama kemudian, bumi bergetar pelan, dan dari celah tanah itu memancar air jernih yang berkilau di bawah sinar matahari. Warga yang melihatnya bersorak gembira. Mereka segera menampung air itu dan menggunakannya untuk memasak, menanam padi, serta memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Keajaiban itu menjadi penanda bahwa kasih persaudaraan dan keikhlasan doa dapat mengalirkan kehidupan. Sejak saat itu, desa tempat tinggal Bhuju Bendo dikenal sebagai daerah yang penuh berkah, sejajar dengan Dhili Anyar yang lebih dahulu memiliki sumber air. Keduanya dihubungkan oleh ikatan tak kasat mata, seolah air yang mengalir dari satu tempat ke tempat lain menjadi simbol cinta dan persaudaraan dua saudara suci.
Bagi masyarakat Madura, air bukan hanya kebutuhan jasmani, tetapi juga lambang kesucian dan rasa syukur. Dari kisah ini, warga belajar bahwa pangan—terutama air—bukan sekadar hasil dari kerja keras, melainkan juga buah dari doa, kebersamaan, dan hubungan yang harmonis dengan alam. Hingga kini, sumber air di kedua desa itu masih dijaga dengan penuh hormat, menjadi saksi bisu dari doa dua bersaudara yang membawa kehidupan bagi banyak orang.