Pada masa dahulu, di sebuah desa yang dikelilingi bukit hijau dan persawahan luas, hiduplah seorang tokoh bernama Suli. Ia dikenal sebagai sosok yang rajin, peduli terhadap lingkungannya, dan disegani oleh warga karena kebijaksanaannya. Suatu hari, Suli menemukan sebuah tempat tersembunyi di pinggir hutan, di mana air jernih memancar keluar dari celah batu. Air itu mengalir tenang, seakan membawa kesejukan dari perut bumi.
Melihat keajaiban itu, Suli pun berpikir bahwa sumber air tersebut tidak boleh dibiarkan begitu saja. “Air ini anugerah dari Tuhan,” katanya kepada warga desa. “Kita harus menjaganya dan memanfaatkannya untuk kehidupan bersama.” Gagasan itu diterima dengan gembira oleh seluruh warga, yang selama ini memang kesulitan mendapatkan air bersih untuk mandi dan kebutuhan rumah tangga.
Atas usul Suli, mereka sepakat menjadikan tempat itu sebagai pemandian umum. Sumber air tersebut kemudian diberi nama Pancoran, yang berarti tempat air memancar. Nama itu diambil dari bentuk alirannya yang keluar deras seperti pancuran alami. Sejak saat itu, Pancoran menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat.
Keesokan harinya, warga bersama-sama datang membawa peralatan sederhana untuk membersihkan area di sekitar sumber air. Rumput-rumput liar dicabut, daun-daun kering disapu, dan batu-batu besar disingkirkan. Mereka bekerja tanpa pamrih di bawah terik matahari, saling membantu dengan tawa dan semangat gotong royong.
Menjelang senja, setelah seharian bekerja, Pancoran tampak bersih dan indah. Airnya mengalir lebih deras, memantulkan cahaya matahari sore yang keemasan. Warga pun pulang dengan hati gembira karena mereka tahu bahwa kini desanya memiliki sumber kehidupan baru yang akan bermanfaat bagi banyak orang.
Sejak hari itu, Pancoran menjadi tempat yang tidak hanya berfungsi sebagai sumber air, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur masyarakat. Airnya digunakan untuk mandi, mencuci, dan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari seperti memasak dan mengolah hasil pertanian. Setiap tetes air dari Pancoran dianggap membawa berkah dan kesejukan bagi siapa pun yang menggunakannya.
Bagi warga Desa Suli, air Pancoran bukan hanya sekadar sumber pangan, melainkan juga cerminan nilai-nilai luhur: kerja sama, kesederhanaan, dan kepedulian terhadap alam. Mereka percaya bahwa selama Pancoran dijaga kebersihannya, desa mereka akan selalu diberkahi kesuburan dan kedamaian.
Hingga kini, Pancoran tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat setempat. Suara gemericik airnya seakan mengingatkan bahwa kesejahteraan tidak datang dari kemewahan, melainkan dari kemampuan manusia untuk menghargai anugerah kecil yang diberikan alam.