Kampung Baruk

URL Cerital Digital: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/23870/1/MORTEKA%20DARI%20MADHURA.pdf

Pada masa lalu, di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Lajing, Kecamatan Arosbaya, hiduplah sekelompok rakyat yang rajin bercocok tanam. Tanahnya subur, udaranya sejuk, dan airnya jernih mengalir dari sumber-sumber alami di perbukitan sekitar. Di antara banyak jenis tanaman yang tumbuh, ada satu jenis yang paling menonjol dan disukai warga, yaitu pohon jeruk.

Pohon-pohon jeruk itu tumbuh dengan subur di pekarangan dan tepi ladang. Buahnya ranum, harum, dan manis. Setiap musim panen tiba, warna jingga buah jeruk menghiasi seluruh kampung, menebarkan aroma segar yang membuat siapa pun yang melintas ingin mencicipinya. Para warga sering membawa hasil panen itu ke pasar, menjadikannya sebagai komoditas penting yang menyejahterakan kehidupan mereka.

Suatu hari, seorang pejabat kerajaan bernama Kaimas menerima perintah dari sang Raja untuk memberi nama resmi bagi daerah tersebut. Namun, di kalangan rakyat sendiri, muncul perbedaan pendapat. Sebagian warga ingin kampung mereka dinamai Kampung Jeruk, karena melimpahnya pohon dan buah jeruk di sana. Namun, sebagian lain justru menginginkan nama Kampung Beruk, terinspirasi dari banyaknya monyet liar yang sering datang memetik dan memakan buah jeruk di kebun mereka.

Perdebatan itu berlangsung lama. Ada yang menganggap “Jeruk” lebih indah dan melambangkan hasil bumi yang memberi kehidupan, tetapi ada juga yang merasa “Beruk” lebih jujur menggambarkan keseharian mereka yang sering bersahabat sekaligus berseteru dengan para beruk pencuri buah. Akhirnya, Kaimas memutuskan untuk menghadap Raja dan memohon petunjuk agar tidak terjadi pertikaian di antara rakyat.

Beberapa saat kemudian, Raja yang bijaksana mendengarkan dengan saksama. Ia tersenyum lalu berkata pelan, “Sebenarnya aku tidak peduli apakah tempat itu bernama Jeruk atau Beruk. Yang penting, daerah itu memiliki tanda dan cerita yang akan diingat oleh generasi setelahnya. Jika rakyat sepakat menamai kampung mereka Beruk, dan itu memiliki alasan yang bisa diterima, maka biarlah demikian.”

Kaimas pun menunduk hormat. Ia kembali ke kampung dengan hati lapang dan membawa kabar gembira kepada warga. Rakyat menyambut titah Raja dengan penuh suka cita. Mereka sepakat menamai tempat itu Kampung Beruk, sebagai bentuk penghargaan terhadap kisah keseharian mereka bersama alam.

Sejak saat itu, nama Kampung Beruk melekat erat pada wilayah tersebut. Hingga kini, kampung itu tetap dikenal dengan nama yang sama, menjadi saksi bagaimana masyarakat masa lampau memandang alam dengan rasa hormat dan penuh makna. Buah jeruk masih tumbuh di beberapa tempat, menjadi pengingat bahwa dari kesederhanaan hasil bumi, lahir identitas dan sejarah yang membentuk kehidupan masyarakat setempat.

Kampung Beruk bukan hanya kisah tentang pemberian nama, melainkan juga tentang pangan sebagai simbol kebersamaan dan keberlanjutan hidup. Dari pohon jeruk yang tumbuh di tanah subur itulah, masyarakat belajar bahwa kehidupan harus dijaga dengan keseimbangan antara manusia, hewan, dan alam sekitarnya.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.