Pada masa silam, di sebuah daerah yang kini dikenal sebagai Desa Morkepek, terdapat sebuah perkampungan kecil bernama Kenahan. Desa itu tenang, dikelilingi hutan bambu yang rimbun, tempat angin berdesir lembut dan suara burung bersahutan setiap pagi. Di tengah suasana yang damai itu, hidup seorang nenek moyang yang dikenal bijak dan gemar menyendiri untuk merenung tentang kehidupan.
Suatu siang yang cerah, ketika ia berjalan sendirian di jalan setapak di antara pohon-pohon bambu, langkahnya tiba-tiba terhenti. Dari kejauhan terdengar suara air menetes perlahan, diiringi nyanyian burung yang merdu. Rasa penasaran mendorongnya mencari sumber suara itu. Ia menyingkap ranting bambu yang menjuntai dan menemukan pemandangan yang luar biasa. Di balik rimbunnya pohon bambu, tersembunyi sebuah sumur tua. Sumur itu kecil, seolah terjepit di antara batang-batang bambu yang tumbuh rapat.
Ketika ia menatap permukaan airnya, terlihat kilauan yang memantul lembut, seakan menyimpan rahasia alam yang dalam. Ia pulang dengan hati yang bergetar, dan malam harinya dalam lelap tidur, datanglah sebuah ilham. Dalam mimpinya ia mendengar suara yang lembut berkata, “Bersihkanlah sumur itu dan rawatlah dengan baik. Airnya akan membawa berkah bagi siapa pun yang menggunakannya dengan niat yang tulus. Setiap malam Jumat Wage, air itu akan mendidih, menjadi pertanda kekuatan penyembuh yang dikandungnya.”
Keesokan harinya, ia mengikuti petunjuk itu. Ia membersihkan sumur tua, menyingkirkan dedaunan dan ranting bambu yang menutupinya, lalu menjaga agar airnya tetap jernih. Sejak saat itu, sumur tersebut dianggap keramat oleh masyarakat. Mereka datang untuk mengambil airnya, meyakini bahwa air itu dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan memberikan kesegaran bagi tubuh. Air dari sumur itu tidak hanya menjadi sumber kehidupan, tetapi juga bagian dari kepercayaan dan tradisi masyarakat setempat.
Lama-kelamaan, nama Desa Kenahan mulai ditinggalkan. Orang-orang lebih sering menyebutnya sebagai Morkepek, atau dalam bahasa Madura dikenal dengan Somor Takepe’ dâ’ Perreng, yang berarti “sumur yang terjepit di antara pohon bambu”. Nama itu menjadi pengingat akan asal-usul desa serta keberkahan yang diberikan alam melalui air sumur tua tersebut.
Hingga kini, masyarakat Desa Morkepek masih menghormati sumur itu. Mereka percaya bahwa alam menyimpan kekuatan besar yang hanya dapat dirasakan oleh hati yang bersih dan niat yang tulus. Sumur tua itu tidak hanya menyediakan air untuk kehidupan jasmani, tetapi juga menjadi simbol keseimbangan antara manusia dan alam.