Asal Usul Desa Bedali

URL Cerital Digital: https://bacaini.id/10-nama-desa-di-kediri-yang-diambil-dari-tumbuhan/

Di kaki lereng Gunung Kelud, di antara kabut pagi yang turun lembut dan udara sejuk khas perbukitan Kediri, terdapat sebuah desa bernama Bedali. Nama itu telah dikenal sejak ratusan tahun lalu dan berasal dari pohon yang tumbuh menjulang tinggi di hutan sekitar, yakni pohon bedali (Radermachera gigantea). Pohon ini begitu besar dan kuat, dengan batang yang dapat mencapai empat puluh meter tingginya. Aroma kayunya harum ketika ditebang, dan seratnya padat serta tidak mudah retak. Dari pohon inilah lahir kisah yang menjadi asal muasal Desa Bedali, sebuah kisah tentang kerja keras, kearifan, dan kedekatan manusia dengan alam.

Dahulu kala, wilayah Bedali belum seramai sekarang. Hanya beberapa keluarga petani dan penggembala yang hidup sederhana di tepi hutan. Mereka membuka lahan untuk menanam padi, jagung, dan umbi-umbian. Namun, ada satu masalah yang selalu mereka hadapi: sebuah sungai besar membelah desa, menghalangi warga untuk berpindah dari satu sisi ke sisi lain. Saat musim hujan tiba, air sungai meluap dan sulit diseberangi. Banyak warga kehilangan hasil panen karena tidak bisa membawa pulang makanan dari ladang di seberang.

Melihat kesulitan itu, para tetua desa berembuk untuk membangun jembatan. Mereka mencari bahan yang kuat dan tahan lama agar jembatan tidak mudah roboh. Dari perbincangan itu, seorang sesepuh bernama Mbah Suryo mengingat pepatah lama tentang pohon bedali, yang katanya “kuat menahan beban, tidak mudah patah, dan berjiwa penolong.” Bersama para pemuda desa, ia pun masuk ke dalam hutan untuk mencari pohon tersebut. Setelah perjalanan panjang, mereka menemukan pohon-pohon bedali yang tumbuh gagah di lereng bukit. Dengan penuh hormat, mereka menebang beberapa batang dan membawa kayunya ke tepi sungai. Kayu-kayu itu kemudian dijadikan balok dan susunan papan untuk membangun jembatan pertama di desa mereka.

Pembangunan jembatan berlangsung selama beberapa minggu. Warga bergotong royong, bekerja dari pagi hingga senja, sementara aroma harum kayu bedali memenuhi udara. Ketika jembatan akhirnya selesai, seluruh desa merayakannya dengan sederhana. Mereka menyalakan obor, menyuguhkan makanan hasil bumi, dan menari di bawah cahaya bulan. Jembatan itu bukan sekadar penghubung dua daratan, melainkan lambang persatuan dan harapan baru bagi seluruh warga. Sejak hari itu, masyarakat mulai menamai wilayah mereka Bedali, sebagai bentuk penghormatan terhadap pohon yang telah memberikan kekuatan dan kehidupan bagi desa.

Selain digunakan untuk bahan bangunan, kayu bedali juga dipercaya memiliki khasiat obat. Bagian kulit dan getahnya dianggap aromatik dan bisa digunakan sebagai ramuan tradisional untuk mengobati berbagai penyakit. Para dukun desa sering merebus potongan kecil kayunya untuk menghangatkan tubuh dan mengusir angin dalam. Bahkan hingga kini, sebagian masyarakat masih menanam pohon bedali di pekarangan atau di batas sawah sebagai simbol perlindungan dan ketenangan.

Pohon bedali dapat tumbuh di dataran rendah hingga 1.500 meter di atas permukaan laut. Meskipun tidak kebal terhadap rayap, kayunya dikenal tidak mudah bubuk atau retak, menjadikannya bahan yang sangat dihargai pada masa lalu. Warga Bedali percaya bahwa pohon ini memiliki “jiwa penopang,” karena seperti manusia yang kuat menghadapi badai, bedali tetap teguh meski diterpa angin dan hujan. Keberadaannya menjadi saksi sejarah bagaimana masyarakat desa hidup selaras dengan alam, mengambil secukupnya dan memelihara yang tersisa.

Dari kisah asal-usul Desa Bedali, kita belajar tentang makna kerja sama dan rasa syukur atas anugerah alam. Kayu bedali bukan hanya bahan bangunan, melainkan pengingat bahwa kekuatan sejati lahir dari kesatuan manusia dengan lingkungannya. Seperti jembatan yang menghubungkan dua sisi sungai, hubungan manusia dan alam pun harus dijaga agar kehidupan tetap seimbang. Bumi telah memberi, dan tugas manusia adalah menjaga agar pemberian itu tak pernah hilang.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.