Di ujung senja, ketika langit mulai merona jingga dan angin berembus lembut di antara pepohonan, Desa Klurahan di Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, menyimpan kisah lama yang tak lekang oleh waktu. Sebuah legenda tentang pelarian, keteguhan, dan keseimbangan antara manusia serta alam yang memeliharanya.
Konon, kisah ini bermula pada masa kekuasaan Arya Panangsang, raja kelima Kesultanan Demak yang berkuasa sekitar tahun 1549 hingga 1554 Masehi. Pada masa itu, pusat pemerintahan Demak telah berpindah ke Jipang, daerah yang kini dikenal berada di sekitar Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Di sanalah berdiri megah Keraton Jipang, tempat Arya Panangsang memerintah dengan wibawa dan ketegasan.
Namun, masa kejayaan itu tak berlangsung lama. Angin politik dan dendam lama menyalakan bara peperangan besar antara pasukan Arya Panangsang melawan pasukan Jaka Tingkir. Pertempuran sengit terjadi di tepi Bengawan Sore. Dalam pertempuran tersebut, Arya Panangsang tewas oleh tombak pusaka Kyai Pleret yang dihunus oleh Sutawijaya, murid Jaka Tingkir yang kelak dikenal sebagai Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram.
Usai kematian sang raja, kekuasaan Demak pun berpindah. Jaka Tingkir naik tahta dan memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang, mendirikan Kesultanan Pajang yang baru. Namun bagi keluarga besar Arya Panangsang, masa itu adalah masa duka dan pelarian.
Untuk menjaga keselamatan keturunan sang raja, para prajurit pengawal setia, atau soreng, membawa keluarga Arya Panangsang mengungsi ke arah timur-selatan. Mereka menembus hutan-hutan lebat, melintasi sungai, dan menapaki jalan penuh bahaya, hingga akhirnya tiba di sebuah daerah yang masih perawan, dikelilingi pepohonan rimbun dan udara yang sejuk.
Di tempat inilah, salah satu bendoro dari keluarga Arya Panangsang, Roro Dewi Amiswati, menetap. Ia adalah perempuan yang dikenal berani, lembut, dan bijak. Bersama para pengikutnya, ia membabat hutan dan membuka lahan untuk bertani. Dari pepohonan liar yang tumbuh di sekitarnya, mereka menemukan satu pohon yang istimewa: pohon Kayu Tom.
Pohon Kayu Tom tidak hanya menjulang gagah dengan batang yang kokoh, tetapi juga memiliki buah dan daun yang dapat dimakan. Masyarakat mulai menanam dan merawat pohon ini sebagai sumber pangan utama. Dari kayunya mereka membuat perabot sederhana dan bahan bangunan, sedangkan buah dan daunnya menjadi santapan bergizi ketika persediaan pangan menipis. Pohon ini menjadi simbol kehidupan baru, seolah alam memberi pertanda restu bagi mereka yang mencari kedamaian.
Roro Dewi Amiswati mengajarkan bahwa pohon Kayu Tom adalah karunia yang harus dijaga. Ia menanam keyakinan kepada masyarakat bahwa selama mereka menghormati alam, alam pun akan memberi kehidupan. Dari ajaran itulah masyarakat mulai menyebut daerah itu sebagai Klurahan, yang bermakna tempat berhimpunnya keturunan mulia yang hidup berdampingan dengan alam.
Kini, Desa Klurahan masih dikenal dengan suasananya yang teduh dan asri. Di beberapa sudut desa, masih ditemukan pohon Kayu Tom yang diyakini sebagai keturunan dari pohon pertama yang ditanam oleh Roro Dewi Amiswati. Pohon itu menjadi saksi bisu perjalanan panjang sebuah keluarga bangsawan yang kehilangan istana, namun menemukan rumah baru di pangkuan alam.
Sebagai sumber pangan dan bahan kayu, pohon Kayu Tom bukan sekadar tanaman bagi masyarakat Klurahan. Ia adalah lambang keteguhan dan keseimbangan hidup. Pohon itu mengingatkan bahwa kemakmuran sejati bukan terletak pada kekuasaan, melainkan pada kemampuan manusia untuk menyatu dengan alam, menjaga, dan menghargai setiap pemberiannya.
Dari legenda Desa Klurahan, kita belajar bahwa pelarian bukan selalu berarti kehilangan, sebab di tanah baru yang dijaga dengan kasih dan kebijaksanaan, manusia dapat menemukan kehidupan yang lebih damai. Seperti Roro Dewi Amiswati dan pohon Kayu Tom, harmoni antara manusia dan alam adalah warisan tak ternilai dari kearifan lokal yang patut kita jaga hingga kini.