
Di Desa Tanjung, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, kehidupan masyarakat tak hanya diwarnai oleh sawah hijau dan sumber air yang menyejukkan, tetapi juga oleh tradisi yang sarat makna kebersamaan. Salah satu yang paling dinanti oleh warga adalah Grobyak Ikan, sebuah kegiatan yang bukan sekadar hiburan, melainkan simbol rasa syukur dan solidaritas antarwarga. Tradisi ini berlangsung di Sumber Gundi, sebuah mata air alami yang menjadi nadi kehidupan bagi warga desa, sekaligus tempat berkumpulnya sejarah dan kebudayaan lokal.
Konon, sejak zaman para leluhur, Sumber Gundi sudah menjadi sumber air utama bagi masyarakat sekitar. Dari sinilah air mengalir ke sawah-sawah yang luas dan menjadi sumber penghidupan bagi petani. Selain itu, di dalam sumber air ini hidup berbagai jenis ikan yang berkembang biak secara alami. Ikan-ikan ini menjadi bagian penting dalam ekosistem desa, sekaligus menjadi sumber pangan bergizi bagi masyarakat. Namun, ikan di Sumber Gundi tidak boleh diambil sembarangan. Warga hanya boleh menangkapnya bersama-sama dalam acara khusus yang disebut Grobyak Ikan, yang biasanya diadakan setiap enam bulan sekali.
Tradisi ini selalu dimulai dengan gotong royong membersihkan lingkungan desa. Sejak pagi, warga dari empat dusun di Desa Tanjung—Tanjungrejo, Balekambang, Sumberjo, dan Tanjung—berbondong-bondong datang dengan semangat kebersamaan. Mereka membawa alat tangkap ikan sederhana dari rumah, seperti jaring, serok, dan ember. Sebelum acara dimulai, setiap dusun menyiapkan tumpeng besar, lengkap dengan lauk-pauk hasil bumi seperti ayam, telur, sayuran, dan buah-buahan. Tumpeng-tumpeng itu kemudian diarak menuju Sumber Gundi dengan gerobak yang dihias, diiringi musik tradisional dan orang-orang yang mengenakan busana khas Jawa dan Madura. Suasana pun menjadi meriah, penuh warna dan tawa.
Setibanya di lokasi sumber, warga duduk rapi di tepi air. Doa bersama dipimpin oleh tokoh agama dan kepala desa, memohon agar Desa Tanjung selalu diberkahi ketentraman, terhindar dari bencana, dan hasil bumi senantiasa melimpah. Setelah doa usai, suara aba-aba dari kepala desa menjadi tanda dimulainya Grobyak Ikan. Seketika, suasana berubah riuh. Ratusan warga turun ke sumber, air memercik ke segala arah, tawa dan sorak menggema di udara. Mereka saling berlomba mencari ikan dengan tangan atau alat sederhana. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak pun ikut berlari di tepi air dengan wajah penuh semangat.
Dalam tradisi ini, ada hal yang membuat warga semakin bersemangat: pihak pengurus desa biasanya memberikan hadiah bagi siapa pun yang berhasil menangkap ikan terberat. Hadiah itu bisa berupa uang jutaan rupiah atau hasil bumi berlimpah. Namun lebih dari sekadar hadiah, kebahagiaan terbesar berasal dari rasa kebersamaan yang tumbuh di antara warga. Mereka saling membantu, saling tertawa, dan menikmati hasil tangkapan bersama. Ikan-ikan yang didapat kemudian dimasak di tempat secara gotong royong, menjadi santapan siang bersama seluruh warga desa.
Selain menjadi bentuk rasa syukur atas rezeki alam, Grobyak Ikan juga menjadi simbol kesetaraan sosial. Dalam air sumber, semua orang sama—baik petani, pedagang, maupun pejabat desa, semuanya turun bersama-sama. Tak ada yang lebih tinggi, tak ada yang lebih rendah. Mereka berbagi tawa, lelah, dan hasil tangkapan. Tradisi ini juga memiliki nilai ekologis, karena hanya dengan cara ini ikan-ikan di Sumber Gundi diambil tanpa merusak populasinya. Setelah acara selesai, warga membiarkan sebagian ikan tetap hidup agar dapat berkembang biak kembali, menjaga keseimbangan alam untuk masa depan.
Bagi masyarakat Desa Tanjung, Grobyak Ikan bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bentuk nyata hubungan harmonis antara manusia dan alam. Sumber Gundi memberi kehidupan, dan manusia membalasnya dengan menjaga serta merayakan keberadaannya. Dari air yang jernih dan ikan yang lincah berenang di dalamnya, tersirat pesan bahwa kesejahteraan sejati lahir dari kerja sama, syukur, dan penghormatan terhadap alam.
Tradisi ini juga mengingatkan bahwa pangan bukan hanya hasil dari tangan manusia, tetapi juga karunia yang lahir dari keseimbangan antara kerja dan doa. Ikan yang hidup di Sumber Gundi bukan sekadar sumber protein, melainkan lambang kelimpahan dan keberlanjutan hidup yang harus dijaga. Seperti air yang mengalir tanpa henti, demikian pula semangat warga Desa Tanjung untuk saling mendukung dan melestarikan warisan leluhur mereka.