Legenda Mbah Jimbun di Desa Pule

URL Cerital Digital: https://kediripedia.com/ada-markas-laskar-diponegoro-saat-melawan-belanda-di-kediri/

Di antara hamparan sawah dan perbukitan hijau di wilayah selatan Kediri, terdapat sebuah desa bernama Pule. Nama desa ini telah diwariskan turun-temurun, menyimpan kisah tentang perjuangan, pelarian, dan semangat untuk mempertahankan hidup. Bagi masyarakat setempat, nama “Pule” bukan sekadar sebutan tempat, melainkan lambang pertemuan para tokoh yang membawa nilai-nilai keberanian dan keteguhan hati. Di balik ketenangan desa ini, mengalir kisah tentang Mbah Jimbun, seorang tokoh bijak yang menjadi cikal bakal terbentuknya Desa Pule, serta tentang sumber air yang menjadi anugerah bagi seluruh warganya.

Dikisahkan bahwa pada tahun-tahun setelah berakhirnya Perang Jawa (1825–1830), ketika Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Makassar, banyak pengikutnya yang melarikan diri ke berbagai daerah di Pulau Jawa. Salah satunya adalah Ki Ageng Suryo Kusumo, yang lebih dikenal sebagai Mbah Jimbun. Ia adalah kerabat dekat dari keluarga Keraton Mataram Islam. Setelah perang usai dan banyak daerah mengalami kekacauan, Mbah Jimbun memilih meninggalkan tanah kelahirannya dan berjalan ke timur, mencari tempat yang aman untuk menetap dan melanjutkan perjuangan dengan cara lain.

Perjalanan panjang itu membawanya ke wilayah Kediri. Awalnya ia tinggal di Desa Rembang Ngreco, Ngadiluwih. Namun, nasib kurang baik menimpanya ketika daerah itu dilanda kekeringan hebat. Tanah menjadi retak, sungai-sungai kering, dan tanaman tidak lagi tumbuh subur. Mbah Jimbun lalu memutuskan untuk pergi lagi, berjalan mengikuti arah matahari terbit, berharap menemukan tanah baru yang diberkahi sumber air. Hingga akhirnya, di tengah perjalanannya, ia tiba di sebuah kawasan yang dikelilingi rawa dan tanah lembap. Di sana, air jernih mengalir dari celah-celah batu tanpa pernah berhenti. Ia pun tahu, di situlah tempat yang ia cari.

Mbah Jimbun kemudian menetap di tempat itu dan membangun sebuah gubuk sederhana di tepi sumber air. Dari sinilah kehidupan baru dimulai. Ia mengajarkan cara bercocok tanam kepada penduduk sekitar, menanam padi di sawah yang diairi air dari sumber itu, dan menanam sayuran serta tanaman pangan lainnya. Air yang melimpah menjadi penopang kehidupan seluruh masyarakat, digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, pengairan sawah, serta sebagai tempat bersuci dan berdoa. Sumber air tersebut kini dikenal sebagai salah satu peninggalan bersejarah di Desa Pule.

Tidak lama setelah itu, datanglah tiga pengikut Pangeran Diponegoro lainnya yang juga melarikan diri dari kejaran Belanda. Mereka adalah Ki Ageng Nggoro, seorang prajurit tangguh; Ki Komak, seorang ahli pemerintahan; dan Ki Sriyun, seorang tokoh bijak yang dituakan di antara mereka. Ketiganya datang untuk bergabung dengan Mbah Jimbun, bukan untuk berperang, melainkan untuk melanjutkan perjuangan dengan jalan damai melalui dakwah dan pengajaran nilai-nilai Islam. Mereka mendirikan sebuah padepokan kecil di sekitar sumber air itu, tempat mereka mengajarkan ilmu agama dan kebaikan kepada masyarakat sekitar.

Dari kebersamaan mereka, lahirlah makna baru bagi wilayah tersebut. Kata “Pule” diyakini berasal dari bahasa Jawa Ngumpule, yang berarti “berkumpul”. Nama itu melambangkan tempat berkumpulnya para tokoh dari Mataram Islam yang membawa semangat perjuangan dan ajaran kebaikan ke tanah Kediri. Sejak saat itu, desa tersebut dikenal dengan nama Pule, dan hingga kini nama itu tetap lestari.

Selain memiliki nilai sejarah yang mendalam, Desa Pule juga dikenal dengan kekayaan alamnya. Sumber air yang ditemukan oleh Mbah Jimbun tetap mengalir hingga sekarang, menjadi sumber kehidupan utama bagi masyarakat. Dari air itulah tumbuh sawah-sawah hijau dan hasil bumi melimpah. Warga menggunakannya untuk bertani, menanam padi, sayuran, serta tanaman buah yang menjadi bagian penting dari pangan daerah. Sumber itu juga menjadi lambang kesuburan dan keteguhan, sebagaimana Mbah Jimbun yang tidak menyerah mencari kehidupan di tanah baru.

Legenda Mbah Jimbun di Desa Pule mengajarkan tentang keteguhan hati dan kesetiaan terhadap nilai-nilai kebaikan. Air yang terus mengalir di desa ini menjadi simbol perjuangan yang tak pernah padam, mengingatkan bahwa setiap kesulitan selalu membawa jalan menuju kehidupan baru. Masyarakat setempat memandang sumber air itu bukan hanya sebagai anugerah alam, tetapi juga warisan spiritual yang harus dijaga. Dari air itulah, kehidupan mereka mengalir, menghidupi ladang, sawah, dan hati yang selalu bersyukur.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa manusia dan alam memiliki hubungan yang saling menjaga. Seperti Mbah Jimbun yang menemukan kehidupan baru di tengah kekeringan, manusia pun akan selalu menemukan jalan selama mereka menghargai alam dan menebar kebaikan. Sumber air di Pule adalah saksi bisu bahwa kerja keras, kebersamaan, dan rasa syukur akan selalu membawa kehidupan yang abadi di bumi Kediri.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.