Asal Usul Sumbercangkring

URL Cerital Digital: https://jatimnow.com/baca-48101-kenang-sejarah-warga-desa-sumbercangkring-kediri-hidupkan-tradisi-barikan

Di sebuah dataran subur di Kabupaten Kediri, terdapat desa yang dikenal dengan nama Sumbercangkring. Desa ini dikelilingi hamparan kebun tebu yang hijau, dengan semilir angin yang membawa aroma manis khas batang tebu yang siap digiling menjadi gula. Namun di balik kesuburan itu, tersimpan kisah lama tentang asal-usul desa ini, yang konon bermula dari sebatang pohon besar dan sumber air yang tak pernah kering, serta dari kearifan masyarakat yang selalu mensyukuri hasil bumi mereka.

Menurut penuturan para sesepuh, pada masa dahulu wilayah Sumbercangkring masih berupa hutan belantara. Di tengah hutan itu, tumbuh sebuah pohon Pule yang menjulang tinggi. Pohon ini dianggap sakral karena diyakini menjadi tempat bersemayamnya roh penjaga alam. Di bawah naungan pohon inilah muncul sebuah sumber air yang terus mengalir jernih, bahkan ketika musim kemarau panjang melanda. Warga yang pertama kali menemukan tempat itu kemudian menjadikannya tempat beristirahat dan berdoa. Dari sumber air inilah kehidupan baru bermula, karena di sekitarnya tanah menjadi subur dan cocok untuk pertanian.

Lambat laun, semakin banyak orang datang dan bermukim di daerah itu. Mereka menebas hutan, membuka lahan, dan menanam berbagai tanaman, salah satunya tebu. Tebu menjadi tanaman utama yang memberi kehidupan bagi penduduk. Batangnya yang manis diolah menjadi gula, yang kemudian menjadi salah satu komoditas penting di Kediri. Konon, pada masa itu setiap panen tebu, warga menggelar doa bersama di bawah pohon Pule besar. Mereka memanjatkan rasa syukur atas rezeki yang diberikan alam dan berdoa agar hasil panen berikutnya lebih baik. Kebiasaan ini berlangsung turun-temurun dan menjadi awal mula tradisi Barikan Sumbercangkring yang masih dijaga hingga kini.

Selain pohon Pule dan sumber air, masyarakat percaya bahwa di sekitar tempat itu terdapat dua makam tua yang diyakini sebagai peristirahatan para pendiri desa. Setiap tahun, warga mengunjungi makam tersebut untuk berdoa bersama, membawa tumpeng berisi ayam ingkung dan hasil bumi seperti buah-buahan serta sayuran. Tumpeng itu tidak sekadar hidangan, melainkan simbol persatuan dan rasa syukur. Nasi putih di bagian bawah melambangkan kesucian hati, lauk pauk di sekelilingnya menggambarkan keberagaman rezeki, sedangkan bentuk tumpeng yang menjulang ke atas menjadi lambang doa kepada Yang Maha Kuasa.

Dari sinilah lahir nama Sumbercangkring. Kata “sumber” diambil dari keberadaan sumber air yang menjadi pusat kehidupan desa, sedangkan “cangkring” berasal dari pohon cangkring yang banyak tumbuh di sekitar sumber tersebut. Pohon cangkring dikenal memiliki manfaat bagi masyarakat, mulai dari daun mudanya yang bisa dimasak sebagai sayur, hingga batangnya yang digunakan sebagai kayu bakar. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat menggunakan hasil alam di sekitarnya secara bijak, tanpa merusak keseimbangan lingkungan.

Kini, Desa Sumbercangkring berkembang menjadi daerah yang makmur dengan ribuan penduduk yang masih setia menjaga tradisi leluhur. Di tengah lahan tebu yang luas, masih berdiri pohon Pule tua, satu-satunya peninggalan dari masa lampau. Warga percaya, selama pohon itu tetap dijaga dan sumber air tidak dikotori, desa mereka akan selalu diberkahi kesuburan dan kedamaian. Air dari sumber itu tetap dimanfaatkan untuk irigasi sawah dan kebun tebu, menjadikannya bagian penting dari siklus pangan masyarakat.

Kisah asal-usul Sumbercangkring mengajarkan bahwa alam dan manusia hidup dalam hubungan yang saling bergantung. Dari sumber air dan tanah yang subur, manusia memperoleh kehidupan, dan dari rasa syukur serta penghormatan kepada alam, lahir kesejahteraan yang berkelanjutan. Pohon Pule dan kebun tebu di desa ini menjadi simbol dua kekuatan: spiritualitas dan kerja keras. Sumber air melambangkan kehidupan yang mengalir, sedangkan tebu mencerminkan manisnya hasil usaha yang dilakukan dengan ikhlas.

Dari cerita ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa keberkahan tidak datang dari hasil yang melimpah semata, melainkan dari kesadaran untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Sumbercangkring bukan sekadar nama desa, melainkan warisan nilai yang hidup dalam setiap butir gula yang dihasilkan dari tanahnya—sebuah manis yang lahir dari kerja keras, doa, dan rasa syukur.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.