
Di tengah hamparan sawah yang hijau dan sumber air yang tak pernah kering di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, berdirilah Desa Sumbercangkring. Desa ini dikenal masyarakat sekitar karena tradisi lamanya yang penuh makna, yaitu Barikan Sumbercangkring. Tradisi ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan bentuk penghormatan terhadap sejarah desa dan wujud rasa syukur masyarakat kepada Sang Pencipta atas limpahan rezeki yang mereka terima. Di setiap helatan Barikan, aroma nasi tumpeng, sayur mayur, dan lauk tradisional yang menggugah selera memenuhi udara, menciptakan suasana hangat yang mempersatukan warga lintas usia.
Asal-usul tradisi Barikan berakar dari kisah lama yang terjadi pada awal abad ke-19. Saat itu, wilayah yang kini disebut Sumbercangkring masih berupa hutan lebat dengan banyak pohon cangkring dan aliran sungai kecil yang jernih. Para leluhur desa, yang dikenal sebagai pembabat alas, bekerja keras membuka lahan untuk dijadikan pemukiman dan sawah. Setelah hutan berhasil dibuka, mereka menggelar selamatan besar untuk memanjatkan syukur atas keberhasilan tersebut. Acara itu diisi dengan doa bersama, membawa tumpeng yang dihiasi sayur-mayur, telur rebus, ayam panggang, serta hasil bumi lainnya. Dari sinilah lahir tradisi Barikan, yang berarti “berdoa bersama untuk keselamatan dan kelimpahan.”
Seiring berjalannya waktu, Barikan menjadi tradisi tahunan yang digelar setiap 1 Muharam atau 1 Suro dalam penanggalan Jawa. Warga mempersiapkan acara ini dengan penuh semangat. Puluhan santri dari Pondok Pesantren Pari Ulu ikut serta dalam arak-arakan tumpeng yang dibawa mengelilingi desa. Mereka berjalan dengan tertib, melantunkan doa, dan membawa hasil bumi seperti padi, sayuran, serta buah-buahan yang melambangkan kesuburan tanah Sumbercangkring. Warga yang tidak ikut berarak berkumpul di sepanjang jalan, menyaksikan iring-iringan itu dengan wajah penuh haru dan kebanggaan.
Tumpeng dalam tradisi Barikan memiliki makna yang sangat mendalam. Bentuknya yang menjulang melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan, sedangkan lauk-pauknya menggambarkan keharmonisan antarwarga dan kecukupan hidup. Di dalam tumpeng terdapat nasi kuning yang melambangkan kemakmuran, ayam panggang sebagai simbol perjuangan dan keuletan, serta aneka sayur seperti urap dan sambal goreng yang melambangkan keberagaman rezeki dari tanah subur Kediri. Semua makanan itu dibuat bersama oleh para ibu rumah tangga, yang sejak pagi sibuk memasak di dapur umum desa.
Setelah arak-arakan berakhir, seluruh warga berkumpul di sekitar sumber air, tempat yang menjadi pusat kehidupan Desa Sumbercangkring. Di sinilah doa-doa dilantunkan oleh tokoh agama dan sesepuh desa. Air dari sumber ini diyakini sebagai simbol kehidupan, penyejuk jiwa, dan pengingat akan pentingnya menjaga alam yang memberi kehidupan. Sumber air ini tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjadi sumber irigasi bagi sawah yang menghidupi sebagian besar warga desa. Air dan pangan menjadi dua hal yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Sumbercangkring.
Tradisi Barikan juga mengandung pesan sosial yang kuat. Acara ini menjadi momen kebersamaan yang menghapus batas antara muda dan tua, kaya dan miskin. Semua duduk melingkar menikmati tumpeng yang sama, makan bersama tanpa perbedaan. Anak-anak diajarkan untuk menghormati sejarah dan mengenal jasa para leluhur yang telah membuka tanah desa dengan kerja keras dan pengorbanan. Lewat Barikan, nilai gotong royong dan rasa syukur tetap hidup di tengah arus modernisasi yang kian deras.
Kini, tradisi Barikan Sumbercangkring kembali dihidupkan setelah sempat lama tidak digelar. Warga bertekad melestarikannya agar generasi muda tidak melupakan akar budaya mereka. Lebih dari sekadar ritual, Barikan adalah cerminan cara masyarakat Jawa Timur menghargai alam, menghormati leluhur, dan menjaga harmoni kehidupan melalui makanan dan doa. Di setiap suapan nasi tumpeng, terselip pesan bahwa pangan bukan hanya untuk mengenyangkan perut, tetapi juga untuk menumbuhkan rasa syukur dan mempererat persaudaraan.
Kisah tentang tradisi Barikan Sumbercangkring mengajarkan bahwa makanan dan air bukan sekadar kebutuhan jasmani, melainkan juga sarana spiritual yang menyatukan manusia dengan alam dan sesamanya. Dari desa yang sederhana ini, kita belajar tentang arti keseimbangan: bahwa menjaga tradisi berarti menjaga kehidupan, dan mensyukuri rezeki berarti menghormati bumi yang memberinya.