
Di lereng timur Gunung Wilis, di antara pepohonan besar dan gemericik air Sungai Kedak, terdapat sebuah desa yang bernama Poh Sarang. Desa ini tidak hanya terkenal karena keindahan alamnya yang memikat, tetapi juga karena kisah tuanya yang melekat pada nama sebuah prasasti batu yang disebut Prasasti Lucem, atau yang oleh warga setempat dikenal sebagai Watu Tulis Poh Sarang. Prasasti ini menjadi saksi bisu perjalanan waktu dan kehidupan masyarakat di kaki gunung yang subur itu. Namun, di balik nama Poh Sarang, tersimpan legenda yang menarik tentang asal-usul penamaannya, yang berkaitan dengan sebuah pohon besar dan anak-anak desa yang tumbuh di bawah naungannya.
Dahulu kala, wilayah yang kini menjadi Desa Poh Sarang masih berupa hutan lebat. Di tengah hutan itu berdiri sebuah pohon kepuh raksasa (Sterculia foetida) yang menjulang tinggi ke langit. Batangnya besar dan kokoh, daunnya lebar dan rindang, memberikan keteduhan di siang hari. Pohon itu menjadi tempat berlindung bagi para pengembara yang melintas dan juga bagi hewan-hewan hutan yang mencari makan. Di bawah pohon kepuh itulah, anak-anak desa sering bermain. Mereka membuat permainan sederhana dari tanah liat dan daun-daunan, salah satunya permainan yang disebut “ngarang,” semacam permainan pasar-pasaran yang populer di kalangan anak perempuan pada masa itu.
Karena permainan itu sering dilakukan di bawah pohon kepuh yang besar, orang-orang mulai menyebut tempat itu sebagai “Kepuh Ngarang.” Seiring berjalannya waktu, sebutan tersebut berubah lidah menjadi Poh Sarang. Dari situlah nama desa itu berasal. Hingga kini, nama itu tetap melekat dan dikenal luas, mengingatkan masyarakat pada masa ketika alam menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak, tempat mereka belajar, bermain, dan tumbuh dalam kedamaian.
Namun, pohon kepuh di Poh Sarang tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga manfaat yang besar bagi kehidupan masyarakat. Beberapa bagian pohon kepuh dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, terutama dalam pengobatan tradisional. Bijinya yang dikenal berlemak sering diolah menjadi minyak alami yang digunakan untuk mengobati luka dan nyeri sendi. Daunnya juga digunakan sebagai bahan ramuan untuk menurunkan demam dan menjaga stamina tubuh. Selain itu, buah kepuh yang sudah tua sering dijadikan bahan olahan sederhana, baik untuk makanan ternak maupun bahan pembakaran alami. Pohon ini menjadi sumber kehidupan yang membantu masyarakat sekitar bertahan dalam keseharian mereka.
Tak jauh dari lokasi pohon kepuh itulah berdiri Prasasti Lucem, sebuah batu bertulis peninggalan masa lampau. Prasasti ini menandai jejak peradaban tua di wilayah Kediri dan menjadi bukti bahwa daerah Poh Sarang telah lama menjadi tempat penting bagi kehidupan manusia. Warga setempat percaya bahwa keberadaan prasasti dan pohon kepuh tidak bisa dipisahkan. Keduanya dianggap simbol keseimbangan antara alam dan budaya, antara kekuatan yang tumbuh dari bumi dan pengetahuan yang lahir dari manusia.
Kini, meski banyak hal telah berubah, nilai-nilai yang terkandung dalam kisah Poh Sarang tetap hidup. Di desa itu, orang masih menanam pohon kepuh di tepi jalan dan sekitar ladang. Mereka percaya bahwa pohon ini membawa kesejukan dan keberkahan. Akar-akarnya yang kuat menahan longsor, daunnya memberi teduh bagi pejalan kaki, dan buahnya menjadi bagian dari ekosistem yang menjaga keseimbangan alam di lereng Gunung Wilis. Pohon kepuh menjadi lambang keteguhan dan keteduhan bagi masyarakat Poh Sarang, sebagaimana prasasti tuanya yang tetap berdiri kokoh di antara batu dan akar pepohonan.
Kisah asal-usul Poh Sarang mengajarkan bahwa nama sebuah tempat tidak hanya sekadar sebutan, melainkan cerminan hubungan mendalam antara manusia dan alam. Dari permainan sederhana anak-anak di bawah pohon kepuh, lahirlah sebuah warisan yang mengikat sejarah, budaya, dan kehidupan. Pohon kepuh, dengan segala manfaatnya, menjadi pengingat bahwa alam selalu memberi tanpa pamrih, asalkan manusia tahu cara menghargainya. Dalam setiap hembusan angin yang melewati daun kepuh di Poh Sarang, tersimpan pesan abadi tentang keseimbangan, rasa syukur, dan kearifan lokal yang menuntun masyarakat Jawa Timur menjaga harmoni dengan bumi tempat mereka berpijak.