Asal Usul Desa Gedangsewu

URL Cerital Digital: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gedangsewu,_Pare,_Kediri

Di masa lampau, ketika tanah Jawa masih diselimuti hutan lebat dan udara yang bening, tiga saudara dari Kesultanan Demak memulai perjalanan suci menuju wilayah timur Pulau Jawa. Mereka adalah Mbah Sarikromo, Mbah Poncodongso, dan Mbah Madyani. Ketiganya dipercaya sebagai tokoh yang mendapatkan perintah gaib untuk mencari tanah baru yang makmur dan penuh berkah. Dengan membawa bekal sederhana dan keyakinan yang kuat, mereka menelusuri hutan, menyebrangi sungai, dan mendaki bukit demi menunaikan tugas suci tersebut. Hingga pada suatu hari, langkah mereka berhenti di tanah yang kelak dikenal sebagai wilayah Pare dan sekitarnya, daerah yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Kediri.

Ketika mereka tiba di sana, hamparan tanah luas menyambut pandangan. Di wilayah itu tumbuh tanaman pare atau peria yang berdaun hijau segar dan berbuah panjang menjuntai. Mbah Poncodongso memandang hamparan itu dengan kagum dan berucap bahwa tempat tersebut akan menjadi wilayah yang subur. Ia menamai daerah itu Pare Rejo, yang berarti tanah yang makmur dengan tanaman pare. Di lokasi itu pula, hingga kini masih terdapat sumur tua yang diyakini sebagai petilasan tempat Mbah Poncodongso beristirahat dan berdoa. Sumur itu menjadi simbol kesuburan dan kesejahteraan masyarakat Pare, sekaligus bukti peninggalan sejarah perjalanan para leluhur.

Sementara itu, dua saudara lainnya, Mbah Sarikromo dan Mbah Madyani, melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, mereka menemukan sebuah sumber air yang memancar dari celah batu. Airnya jernih dan terus mengalir tanpa henti, bahkan saat musim kemarau. Tempat itu kemudian dinamai Sumber Pancur oleh Mbah Sarikromo. Di sekeliling sumber, tumbuh pepohonan besar yang menambah keindahan dan kesakralan tempat tersebut. Di depan aliran air berdiri pohon beringin tua dengan akar yang menjulur panjang, menjadi pelindung alami bagi siapa pun yang datang ke sana. Sementara di sisi selatannya, berdiri sebuah pohon besar yang unik, dengan akar gantung yang berayun pelan ketika tertiup angin. Masyarakat kemudian menamainya pohon Siwil Kutil, karena bentuknya yang khas dan menimbulkan kesan mistis.

Namun, yang paling menarik perhatian adalah sebuah pohon pisang yang tumbuh tidak jauh dari sumber air. Pohon itu berbeda dari pisang lain pada umumnya. Meski batangnya menyerupai pohon pisang raja, jumlah buah yang dihasilkannya sangat banyak, hingga tampak seperti beranak seribu. Ukurannya memang kecil, tetapi manis dan harum. Penduduk yang melihat keanehan itu terheran-heran, sebab tidak ada pohon pisang lain yang berbuah sebanyak itu. Mbah Sarikromo menganggap pohon tersebut sebagai pertanda bahwa tanah di wilayah itu penuh dengan berkah dan rezeki yang melimpah. Ia kemudian menamakan tempat itu Gedhang Sewu, yang dalam bahasa Jawa berarti “pisang seribu”.

Dari kisah itulah lahir nama Desa Gedangsewu yang masih dikenal hingga kini. Pohon pisang dengan buah berlimpah menjadi lambang kemakmuran dan harapan bagi masyarakatnya. Selain pisang, masyarakat juga mengenal berbagai tanaman lain di wilayah itu, seperti pare yang digunakan untuk sayuran, serta pohon beringin dan siwil kutil yang dianggap memiliki nilai spiritual tinggi. Air dari Sumber Pancur pun terus dimanfaatkan hingga sekarang untuk kebutuhan sehari-hari, menjadi penopang kehidupan dan pertanian masyarakat sekitar.

Desa Gedangsewu tidak hanya menyimpan kisah perjalanan tiga saudara suci dari Demak, tetapi juga nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan melalui alamnya. Setiap tanaman yang tumbuh di sana mengandung makna: pare yang pahit melambangkan keteguhan dan kesabaran, beringin yang kokoh menggambarkan perlindungan dan keteduhan, sementara pisang seribu menjadi simbol keberkahan dan kedermawanan. Semua itu menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa Timur memandang alam bukan hanya sebagai sumber pangan, tetapi juga sumber kebijaksanaan hidup.

Kisah asal-usul Desa Gedangsewu mengajarkan bahwa keberlimpahan bukan semata hasil kerja keras manusia, melainkan juga buah dari hubungan yang selaras dengan alam. Air yang mengalir, pohon yang berbuah, dan tanah yang subur adalah anugerah yang harus dijaga bersama. Dari legenda ini, kita belajar bahwa kesejahteraan sejati lahir dari rasa syukur, gotong royong, dan penghormatan terhadap alam yang memberi kehidupan. Seperti buah pisang seribu yang manis dan berlimpah, begitulah seharusnya kehidupan manusia: tumbuh, berbagi, dan memberi manfaat bagi sesama.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.