
Di Desa Paron, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, terdapat sebuah sumber air alami yang hingga kini masih dimanfaatkan oleh warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tempat itu dikenal sebagai Sumber Kembangan. Airnya jernih dan tak pernah surut, bahkan di musim kemarau. Di bawah rindangnya pepohonan besar dan akar-akar yang menjuntai ke air, sumber ini tampak seperti oase yang hidup di tengah desa. Namun, di balik kesejukan dan keindahannya, Sumber Kembangan menyimpan cerita lama yang telah diwariskan turun-temurun, tentang penunggu gaib yang menjaga keseimbangan tempat itu: seekor ular raksasa yang dipercaya tinggal di dasar sumber.
Menurut kisah yang diceritakan oleh para sesepuh desa, dulunya Sumber Kembangan adalah tempat yang sepi dan dianggap wingit. Hanya sedikit orang yang berani datang ke sana, terutama saat malam tiba. Di masa itu, sumber air tersebut dikelilingi pohon-pohon tua dengan batang yang begitu besar hingga dibutuhkan beberapa orang untuk memeluknya. Dari sela akar pohon itulah konon sering terlihat kilatan air dan gerakan halus seperti sesuatu yang berenang. Masyarakat percaya bahwa di sanalah bersemayam seekor ular besar yang melingkari sumber, menjaga keseimbangannya agar air tidak pernah kering. Ular itu tidak pernah menampakkan diri sepenuhnya, tetapi kehadirannya dapat dirasakan melalui desiran air yang tiba-tiba bergelombang tanpa sebab.
Salah satu penjaga tradisi dan sesepuh desa, Mbah Man, pernah bercerita bahwa saat pembangunan kawasan wisata di Sumber Kembangan dimulai, berbagai kejadian aneh sempat terjadi. Mesin diesel yang digunakan untuk menguras air tiba-tiba berhenti tanpa alasan, listrik padam mendadak, dan beberapa pekerja merasa seperti diawasi. Namun, alih-alih takut, Mbah Man justru meminta semua orang untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan mengucap salam kepada para penunggu tempat itu. Ia meyakini bahwa manusia dan makhluk gaib bisa hidup berdampingan selama saling menghormati. Setelah dilakukan ritual kecil dan doa bersama, semua gangguan berhenti, dan pembangunan berjalan lancar hingga sumber itu menjadi salah satu tujuan wisata alam yang menenangkan.
Selain sosok ular besar, warga juga sering mendengar cerita tentang penampakan anak kecil yang bermain di tepi sumber. Kadang, anak-anak yang mandi di sana merasa seolah sedang diajak bermain oleh teman yang tak terlihat. Namun, tidak pernah ada yang terluka atau merasa takut, karena penunggu tempat itu dianggap baik hati dan hanya menjaga keseimbangan alam. Bagi masyarakat Paron, kisah ini bukan sekadar legenda, tetapi pengingat bahwa setiap sumber air memiliki penjaga yang tak kasat mata, yang akan terus melindungi tempatnya selama manusia tidak bersikap serakah.
Air dari Sumber Kembangan telah lama menjadi sumber kehidupan bagi warga sekitar. Mereka menggunakannya untuk mandi, mencuci, memasak, dan menyiram tanaman. Airnya yang dingin dan bening menjadi anugerah yang tak ternilai, terutama ketika musim kemarau melanda desa-desa lain di Kediri. Di tepi sumber, warga juga menanam beberapa jenis pohon buah seperti pisang, nangka, dan kelapa, yang hasilnya kerap dikonsumsi bersama atau dijadikan bahan pangan lokal. Dengan demikian, sumber air ini bukan hanya menjadi warisan alam, tetapi juga warisan budaya dan ekonomi yang menghidupi masyarakat.
Kini, meskipun tempat itu telah dibuka untuk wisata, masyarakat Paron tetap menjaga tradisi dan keyakinan yang telah diwariskan para leluhur. Mereka percaya bahwa ular besar dan makhluk-makhluk penjaga lainnya masih tinggal di sana, menjaga kejernihan air dan keseimbangan alam di sekitarnya. Siapa pun yang datang dengan niat baik akan diterima, tetapi siapa pun yang bersikap sembrono atau merusak, akan segera merasakan akibatnya.
Dari kisah Sumber Kembangan Paron, kita belajar bahwa hubungan antara manusia dan alam bukan sekadar tentang pemanfaatan, tetapi juga tentang penghormatan. Air yang mengalir dari sumber itu mengajarkan kita arti keseimbangan, kesabaran, dan keikhlasan. Seperti ular besar yang menjaga sumber dengan tenang di bawah permukaan air, alam pun menjaga manusia dengan cara yang tak selalu terlihat. Maka, menjaga alam berarti menjaga kehidupan, sebab setiap tetes air yang kita hiraukan adalah bagian dari kisah panjang yang diwariskan bumi kepada manusia.